728x90 AdSpace

  • Hot News

    Minggu, 18 Januari 2015

    Kurikulum 2013 Tanpa Konsep






    Oleh: Ariani, S.Pd*

    Pergantian kurikulum Indonesia, membuat semakin terombang-ambingnya arah pendidikan di Indonesia. Keberhasilan kurikulum Indonesia pun semakin dipertanyakan. Para guru dan orang tua semakin gelisah.
    Saat ini, terjadi kemerosotan moral bangsa yang kian parah. Kurikulum hanya diarahkan sebatas pemenuhan tuntutan globalisasi saja. Sebagaimana dicanangkan WTO, ASEAN Community, APEC dan CAFTA.  Yang dinyatakan pemerintah sebagai alasan pengembangan kurikulum (Kemendikbud, Novomber 2012).  Tambahan pula ditenggarai pada kurikulum 2013 akan dimasukkan konten materi pendidikan seks ala Barat melalui mata pelajaran jasmani olah raga dan kesehatan atau mata pelajaran lainnya.
    Perubahan kurikulum Pendidikan di Indonesia sudah mencapai sekitar sembilan kali, yaitu tahun 1947, 1964, 1968, 1973, 1984, 1994, 1997, 2004, dan tahun 2006 (Kemendikbud, 2012). Perubahanan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 merupakan perubahan kesepuluh. Perubahan kurikulum seolah-olah merupakan kebijakan rutin setiap kali pergantian menteri.
    Anggota masyarakat dan LSM yang tergabung dalam koalisi pendidikan menolak kurikulum baru 2013. Koalisi yang terdiri dari kalangan Federasi Serikat Guru Indonesia, orang tua murid, dan pemberhati pendidikan. Serta elemen masyarakat bersama-sama mendatangi kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), di Jakarta, (5/12). (republika.co.id). Kurikulum 2013 dinilai menyulitkan Gru dalam mengajar. Mayoritas sekolah tidak siap menerapkan kurikulum 2013.
    Menindaklanjuti hal tersebut, memulai kebijakan barunya. Seperti yang diberitakan di kompas.com. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan Menginstruksikan sekolah yang belum menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester untuk kembali ke kurikulum 2006. Sementara itu, sekolah yang telah menjalankan selama tiga semester diminta tetap menggunakan kurikulum tersebut sembari menuggu evaluasi dari pihak berwenang.
    Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republika Indonesia (PGRI) Sulistiyo gembira dengan keputusan Menteri Pendidikan Anies Baswedan yang membatalkan kurikulum 2013. (tempo.co.id). Berbeda lagi tanggapan dari Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menilai kebijakan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah kembali pada Kurikulum 2006 adalah langkah mundur. (kompas.com). Keputusan pemberhentian kurikulum 2013 menuai pro dan kontra.
    Kurikulum Indonesia masih saja dijadikan perdebatan. Suasana pendidikan masih belum kondusif untuk mencetak generasi yang cemerlang secara optimal. Semua pihak mempertahankan pendapatnya masing-masing.
    Berdasarkan fakta kebijakan pemerintah yang berkali-kali mengubah kurikulum, namun semuanya tetap merujuk pada paradigma yang sama yaitu sekulerisme, menunjukkan bahwa sistem politik demokrasi hanyalah akan menerapkan kurikulum yang menguntungkan negara Imperialis. Bahkan kurikulum yang didasarkan pada aqidah Islam semakin dijauhkan. Demikian itu karena selain prinsip demokrasi yang mengambil wewenang Allah SWT sebagai satu-satunya Pembuat aturan, sistem politik barat ini memang didesain untuk melanggengkan hegemoni barat, dimana kurikulum pendidikan merupakan salah satu sarana yang efektif.
    Pada tataran inilah dipandang, satu-satunya kurikulum yang mampu mengatasi kemerosotan moral bangsa saat ini dan sekaligus melahirkan para pakar di bergai bidang keilmuan yang dibutuhkan ummat hanyalah kurikulum pendidikan Khilafah. Seorang Khalifah akan menggratiskan penidikan model terbaik ini bagi setiap individu masyarakat, siapapun dia.
    Dalam negara Khilafah, tujuan pendidikan sekolah (Madrasah Ibtidaiyah, Mutawasithah dan Tsanawiyah atau SD-SMP-SMA) adalah: pertama, membentuk generasi berkepribadian Islam. Kedua, menguasai ilmu kehidupan (ketrampilan dan pengetahuan). Ketiga, mempersiapkan anak didik memasuki jenjang sekolah berikutnya.
    Negara islam pun akan menjamin pendidikan bagi non muslim sesuai aqidah mereka secara khusus dan umat islam tidak boleh ikut. Umat islam boleh mempelajari aqidah agama lain asal tidak membuat dia keluar dari Islam. Terkait pendanaan, sekolah non muslim bisa jadi gratis seperti sekolah lainnya sebab pendidikan untuk semua dan dananya diambil dari baitul mal.
    Tidak semudah membalikkan tangan upaya untuk mengganti Kapitalisme dengan Islam. Namun, itu bukan berarti tidak bisa. Semoga Allah memudahkan langkah hambanya untuk memulyakan syariat dari-Nya dalam bingkai Khilafah. Aamiin.


    *Muslimah HTI DPD II Tulungagung

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kurikulum 2013 Tanpa Konsep Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top