![]() |
| PEGIDA, Gerakan Anti Islam di Jerman (Sumber: reuters) |
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ
لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ
الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ
بَيَّنَّا لَكُمُ الْآَيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di
luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan)
kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah
nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati
mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat
(Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS Ali Imran [3]: 118)
Dikabarkan oleh CNN Indonesia (8/1), sebagaimana dilansir oleh Reuters, bahwa kelompok sayap kanan Jerman, PEGIDA, yang dalam beberapa bulan terakhir rutin melakukan demonstrasi anti-Islam, mengatakan bahwa serangan di Charlie Hebdo menunjukkan dengan jelas bagaimana ancaman dari kekerasan militan Islam.
Banyak analis yang mengatakan peristiwa penembakan ini juga memberikan amunisi bagi tensi anti-Islam dan anti-imigran yang kini memang sedang meningkat di beberapa negara Eropa, termasuk Perancis.
“Peristiwa seperti di Paris hanya menambahkan minyak ke api,” ujar Joerg Fobrig, direktur program Marshall Fund, seperti dikutip dari Bloomberg.
Seorang politisi anti-Islam ternama asal Belanda, Geert Wilders, yang juga membuat film kontroversial Fitna, ikut merespon penembakan itu.
Wilder memprovokasi pemerintahan di Barat agar menjadikan Islam sebagai musuh bersama.
“Kapan Rutte (Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda) dan pemerintahan barat lain akhirnya menyadari bahwa ini adalah perang,” kata Wilders.
Sebelumnya, tiga masjid di Swedia kali telah dibakar dan polisi hingga kini masih mencari pelakunya.
Di Jerman, sekitar 18 ribu orang ikut serta dalam protes anti-Islam, terutama di kota-kota sebelah timur.
Masalah Imigran
Gerakan anti-Islam kian mendapat dukungan di beberapa negara Eropa, seiring dengan tingginya arus pengungsi dari Timur Tengah.
Pengungsi yang meninggalkan negara mereka karena kecamuk konflik ini, harus menghadapi penolakan dari berbagai kalangan di negara tujuan mereka, terkait ketakutan barat akan kemampuan Islam menguasai Eropa.
Islam merupakan agama yang tumbuh subur di Eropa dan mendapat sambutan positif dari warga asli Eropa yang akhirnya menjadi mualaf. Ditambah lagi dengan derasnya migrasi umat Islam dari negara yang sedag konflik ke Eropa menambah kekhawatiran Barat.
Dengan banyaknya dukungan terhadap gerakan anti Islam di Eropa semakin membuktikan bahwa demokrasi dan HAM tidaklah berlaku jika itu menguntungkan Islam.


0 komentar:
Posting Komentar