‘Charlie Hebdo’ dan Kemunafikan Barat
[Al-Islam edisi 735, 25 Rabiul Awal 1436 H-16 Januari 2015 M]
Kantor majalah satir Prancis Charlie Hebdo yang menerbitkan
karikatur penistaan Nabi Muhammad saw. diserang oleh dua orang pada
tanggal 7/1 lalu. Sebanyak 12 orang tewas dalam serangan itu. Dua orang
yang dikatakan sebagai pelaku serangan itu dan seorang lagi yang
melakukan penyanderaan di sebuah toko makanan di Paris bagian dari
serangan itu tewas ditembak polisi Prancis.
Pada Hari Ahad (11/1) lebih dari satu juta orang turun ke jalanan Paris. Mereka menyatakan solidaritas terhadap Charlie Hebdo sekaligus menentang serangan itu. Mereka mengusung poster bertuliskan: “Je Suis Charlie (Saya Charlie)”.
Sebanyak empat puluh orang tokoh dan pemimpin negara ikut ambil
bagian dalam aksi itu. Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan (Kompas, 12/1), “Ini akan merupakan demonstrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan akan tertulis dalam buku sejarah.”
Barat Tidak Adil
Tentu, tragedi itu harus dipandang secara menyeluruh, termasuk dari
sisi aksi dan reaksi. Tragedi itu bukan berdiri sendiri. Serangan itu
dilatarbelakangi aksi provokasi berupa penistaan Islam dan Nabi Muhammad
saw. oleh Majalah Charlie Hebdo. Mengutuk serangan itu mestilah diikuti dengan mengutuk lebih keras lagi aksi Charlie Hebdo yang menistakan Islam dan Nabi Muhammad saw. Sebab, jika tidak ada penistaan, niscaya serangan itu tidak terjadi.
Majalah Charlie Hebdo beberapa kali memuat kartun menistakan
Islam dan Nabi Muhammad saw. Kelompok Muslim di Prancis mengajukan itu
ke Pengadilan Prancis. Namun, mantan Presiden Prancis Nicholas Sarkozy
mendukung Charlie Hebdo. Dia membenarkan tindakan majalah itu
sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan berbicara. Pada 22 Maret
2007, Pengadilan Prancis menyatakan Charlie Hebdo tidak
bersalah. Para tokoh Eropa juga banyak yang memberikan dukungan baik
tersirat atau terang-terangan dengan alasan kebebasan berekspresi. Jadi,
dalam pandangan Barat, aksi penistaan Nabi saw. oleh Charlie Hebdo dianggap benar secara hukum dan dianggap sebagai ekspresi kebebasan yang disakralkan.
Aksi provokatif berupa penistaan Islam dan Nabi saw. dilakukan berulang-ulang oleh Charlie Hebdo
itu justru dibela oleh Pemerintah Prancis dan dibenarkan oleh Mahkamah
Agung Perancis. Aksi-aksi itu jelas bisa memicu kemarahan pada diri
seorang Muslim.
Hanya mengutuk pelaku serangan itu dan sebaliknya tidak mengutuk Charlie Hebdo jelas tidak adil. Sayang, itulah yang tampak lebih menonjol saat ini. Mestinya aksi-aksi provokatif Charlie Hebdo pantas untuk dikutuk lebih keras dan ditindak tegas. Penerbit Charlie Hebdo mestinya menjadi pihak pertama yang bertanggung jawab atas serangan itu.
Standar Ganda Barat
Standar ganda Barat tampak jelas. Mereka demikian peduli dan simpati
terhadap korban serangan di kantor majalah satir yang menebar provokasi
itu. Sebaliknya, mereka diam terhadap ribuan korban pembantaian oleh
zionis Israel dan malah membela zionis Israel itu. Barat juga diam
terhadap pembunuhan jutaan orang di Irak, pembantaian ratusan ribu kaum
Muslim oleh rezim Asad di Suriah serta pembunuhan umat Islam di
Rohingya, Pakistan, Afrika, Xinjiang dan tempat lainnya. Bahkan Barat
menjadi pelakunya.
Ini bukan berarti meremehkan serangan yang terjadi Rabu (7/1) lalu
itu. Serangan itu jelas tidak bisa menyelesaikan masalah. Serangan itu
juga jelas berdampak negatif bagi orang-orang Eropa non-Muslim, bisa
menjauhkan mereka dari usaha mengenal Islam. Serangan itu juga
mendatangkan dampak negatif dan kesulitan tersendiri bagi generasi
Muslim di Eropa.
Islamophobia pasca serangan itu terlihat meningkat di Eropa.
Di Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya, serangan dan pelecehan
terhadap masjid dan fasilitas Islam lainnya dikabarkan meningkat.
Beberapa masjid yang berada di Prancis menjadi sasaran penyerangan
sejumlah kelompok. Kaum Muslimah berjilbab di Belgia merasa takut keluar
rumah. Mereka khawatir mendapat serangan di jalan.
Barat Munafik!
Para pemimpin Barat menganggap serangan ke kantor Charlie Hebdo
itu sebagai serangan terhadap nilai-nilai dan sistem yang diyakini
Barat. Presiden Prancis Francois Hollande menegaskan dalam orasinya di
depan kantor majalah tersebut bahwa serangan itu “menyentuh
prinsip-prinsip dari Republik Perancis, yaitu kebebasan dan kebebasan
berekspresi”. Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan, “Kami
tidak akan mentoleransi para teroris itu menghancurkan atau menyerang
nilai-nilai demokrasi kami dan kebebasan berbicara”.
Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan (Kompas,
12/1), “Demonstrasi ini harus menunjukkan kekuatan dan kehormatan orang
Prancis yang akan menyerukan kecintaan mereka terhadap kebebasan dan
toleransi.”
Jelas, klaim kebebasan berekspresi Barat hanya klaim kosong! Di mana
klaim kebebasan itu ketika mereka mempersulit bahkan melarang Muslimah
mengenakan jilbab di ruang publik, hak mereka mendapat pendidikan
dirampas, kecuali mereka menanggalkan jilbab? Bahkan memakai cadar
dianggap bersalah secara hukum dan dijatuhi sanksi dengan membayar
denda.
Dalih kebebasan berekspresi mereka gunakan sesuai dengan kepentingan
mereka. Kebebasan berekspresi tidak berlaku jika hal itu mengganggu
Yahudi. Sebaliknya, jika menyerang dan menistakan Islam, Nabi Muhammad
saw. dan simbol-simbol Islam, maka itu dibenarkan sebagai bentuk
kebebasan berekspresi. Menghina dan menistakan Islam dan Nabi Muhammad
saw. dibela dengan alasan kebebasan berekspresi. Sebaliknya, menyoal
kejahatan dan pembantaian oleh Yahudi atas ribuan warga Palestina kerap
dituding anti semit.
Dalam kasus Dieudonne M’bala, pada Januari tahun lalu, Menteri Dalam
Negeri Prancis Manuel Valls melarang M’bala melakukan pertunjukan teater
dengan alasan itu anti semit atau mengolok-olok Yahudi. Mahkamah Agung
Prancis pun mendukung keputusan itu. Namun, tiga tahun lalu dengan dalih
menjaga kebebasan berekspresi, Mahkamah yang sama membebaskan novelis
Michel Houellebecq yang menuduh Islam sebagai agama paling bodoh di
dunia.
Dalam kasus Charlie Hebdo, ketika mayoritas negeri Islam memprotes dan menuntut Charlie Hebdo menanggalkan karikatur penistaan Nabi saw., mereka tidak menggubrisnya. Berbeda pada 2008 lalu ketika salah seorang kartunis Charlie Hebdo,
Maurice Sinet, membuat karikatur anak laki-laki Nicholas Sarkozy yang
menikahi ahli waris Yahudi karena uang. Karikatur itu tampaknya
merendahkan Sarkozy. Maurice Sinet pun dipecat dari majalah Charlie Hebdo.
Jelas, kebebasan berekspresi hanya dimanfaatkan sesuai dengan
kepentingan Barat. Kebebasan berekspresi merupakan tipuan dan alat
penjajahan Barat. Kaum Muslim dipaksa untuk menerima penistaan terhadap
Islam dan Nabi saw. serta menerima Islam versi Barat. Jika tidak, mereka
akan disebut fundamentalis, radikal bahkan teroris.
Ironi Penguasa Muslim
Para penguasa negeri Muslim dengan sigap ikut mengecam serangan Rabu
itu. Mereka segera berbaris rapi dalam barisan solidaritas terhadap
serangan yang menewaskan 12 orang itu. Namun, di mana mereka ketika Charlie Hebdo
berulang-ulang menistakan Islam dan Nabi saw.? Padahal dengan kekuasaan
dan kekuatan yang ada di tangan mereka, mereka bisa berbuat banyak
untuk menghentikan penistaan itu. Protes keras, ancaman pemutusan
hubungan, penghentian perdagangan, embargo ekonomi, penghentian pasokan
energi dan banyak hal lainnya, apalagi jika dilakukan bersama-sama,
pasti bisa membuat Barat berpikir panjang untuk membiarkan penistaan itu
apalagi mendukung dan membenarkannya. Niscaya dengan semua itu, Barat
akan segera menghentikan sendiri penistaan itu. Dengan itu, serangan
Rabu itu tidak terjadi.
Sayang, bukannya melakukan itu, para penguasa negeri Islam itu justru
berbaris rapi bergandengan tangan dengan para pemimpin musuh Islam.
Mereka juga terjangkiti standar ganda dan kemunafikan Barat. Jika mereka
mengecam serangan itu sebagai terorisme, mengapa mereka tidak mengecam
dan bersikap sama saat ribuan umat Islam di Gaza dibunuh oleh Yahudi,
saat ratusan ribu Muslim dibantai rezim Asad di Suriah yang didukung
Barat, saat jutaan orang di Irak tewas akibat invasi AS dan sekutu, saat
ribuan Muslim Rohingya dibunuh dan diusir, saat ribuan orang tewas jadi
sasaran drone di Pakistan, saat Muslim di Afrika dibantai dan
dicincang, saat penghinaan dan penindasan ditimpakan terhadap kaum
Muslim di mana-mana?!
Semua itu menjadi bukti bahwa keberadaan para penguasa negeri Islam
itu bukanlah demi kepentingan Islam dan kaum Muslim. Keberadaan mereka
seperti boneka atau budak yang tunduk patuh pada arahan tuan mereka,
yakni Barat.
Segera Wujudkan Pemimpin Islam Hakiki
Dari semua yang terjadi, tampak bahwa keberadaan pemimpin di
negeri-negeri Islam sekarang ini bukan menjadi kebaikan bagi Islam dan
kaum Muslim, tetapi justru menjadi bagian dari keburukan. Keberadaan
para pemimpin negeri Islam saat ini tidak demi Islam dan demi melindungi
kemuliaan dan kehormatan Islam serta martabat kaum Muslim. Pasalnya,
mereka bukan memimpin atas dasar Islam dan tidak menjadikan Islam
sebagai sistem kepemimpinan mereka.
Apa yang terjadi menegaskan bahwa keberadaan kepemimpinan dan
pemimpin Islam yang sebenarnya sudah sangat mendesak. Itulah
kepemimpinan dan pemimpin yang keberadaannya demi Islam; menjaga serta
melindungi kemuliaan Islam, kehormatan Nabi saw., serta martabat dan
kekayaan kaum Muslim. Mereka memimpin atas dasar Islam dan menjadikan
Islam sebagai sistem. Kepemimpinan dan pemimpin itulah yang ada dalam
sabda Nabi saw.:
« Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الإِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ »
Seorang imam itu sesungguhnya laksana perisai; orang-orang berperang di belakang dia dan menjadikan dia sebagai pelindung (HR al-Bukhari dan, Muslim).
Pemimpin demikian adalah imam atau khalifah. Kepemimpinannya adalah
Khilafah. Sistemnya adalah syariah Islam yang secara total diterapkan di
bawah naungan Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Inilah yang sudah mendesak untuk diwujudkan bersama-sama oleh seluruh kaum Muslim saat ini. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []
Komentar al-Islam:
Asian Development Bank (ADB) siap mengucurkan dana bantuan hingga 1,5
miliar dolar AS pertahun untuk pembangunan infrastruktur Indonesia. ADB
yakin stabilitas makroekonomi Indonesia bisa menunjang iklim investasi (Kompas.com, 14/1).
- Ini adalah tawaran agar infrastruktur negeri ini dikendalikan oleh asing.
- Inilah tawaran untuk mempertahankan jerat atas negeri ini. Utang luar negeri terbukti selama ini dijadikan alat untuk mengontrol negeri ini dan mendiktekan kebijakan kapitalisme neo-liberal.
() hti press


0 komentar:
Posting Komentar