Karena Khilafah Islam dinasti Utsmaniyah di Turki sudah dikubur, maka
tugas para sejarahwan di sana untuk membuktikan bahwa dinasti Utsmaniyah
itu MEMANG PANTAS DIKUBUR. Jadi sekalipun Turki bangga dengan prestasi
yang diukir oleh leluhurnya di bidang militer, tetapi mereka yakin bahwa
zaman sudah berganti, dan riwayat leluhurnya memang pantas diakhiri
karena kesalahan-kesalahan mereka. Dan kesalahan itu ditimpakan pada
Islam !!!
Karena itulah dapat dipahami, mengapa produser Turki membuat film King Sulaeman yang sekarang tayang di ANTV. Mereka bangga dengan sejarah Sultan Sulaeman yang pernah membuat Turki disegani oleh Eropa. Tetapi mereka juga percaya bahwa kehidupan seputar Sultan saat itu penuh dengan distorsi moral, intrik dan kemunafikan. Dan lebih dari itu semua, mereka dididik oleh negaranya - lewat institusi pendidikan - dengan sejarah, bahwa kehebatan Sultan itu karena Turkinya, sedang kekurangannya itu karena Islamnya. Ini realitas yang memang sengaja ditanamkan oleh Attaturk saat membangun Turki sekuler kala itu.
Saya pernah dua minggu di Turki. Rasanya saya tidak perlu heran bahwa di Turki banyak orang tidak tahu arah qiblat, karena mereka memang tidak pernah sholat. Dan di tempat-tempat publik, termasuk di bandara, tidak tersedia fasilitas untuk sholat. Istanbul malah kalah dari Amsterdam atau Tokyo.
Kembali ke soal mitos dan nasib sejarah. Apa yang dilakukan oleh Turki, juga dilakukan oleh semua negara yang pernah memiliki pemerintahan monarchi yang kuat namun kini telah dikubur. Maka mitos-mitos tersebut juga ada di Jerman, Austria, Russia dan China. Di Beijing terdapat bekas Kota Terlarang (Forbidden City), tempat Kaisar Cina tinggal. Tempat itu memiliki 9999 kamar, untuk para pegawai Kaisar dan selir-selir kaisar. Dan seperti apa kehidupan di Harem atau Forbidden City itu, diserahkan kepada imajinasi para penulis Barat, yang mereka juga hanya menduga-duga - tapi kini dipercaya oleh para pembuat film, dan akhirnya dipercaya oleh umat Islam yang tidak berpikir mendalam.
Sumber: https://www.facebook.com/famhar68?fref=ts
*Prof. Ing. H. Fahmi Amhar (Profesor Riset termuda Bakorsurtanal)
foto: di istana Topkapi dengan latar Jembatan Selat Bosporus.
Karena itulah dapat dipahami, mengapa produser Turki membuat film King Sulaeman yang sekarang tayang di ANTV. Mereka bangga dengan sejarah Sultan Sulaeman yang pernah membuat Turki disegani oleh Eropa. Tetapi mereka juga percaya bahwa kehidupan seputar Sultan saat itu penuh dengan distorsi moral, intrik dan kemunafikan. Dan lebih dari itu semua, mereka dididik oleh negaranya - lewat institusi pendidikan - dengan sejarah, bahwa kehebatan Sultan itu karena Turkinya, sedang kekurangannya itu karena Islamnya. Ini realitas yang memang sengaja ditanamkan oleh Attaturk saat membangun Turki sekuler kala itu.
Saya pernah dua minggu di Turki. Rasanya saya tidak perlu heran bahwa di Turki banyak orang tidak tahu arah qiblat, karena mereka memang tidak pernah sholat. Dan di tempat-tempat publik, termasuk di bandara, tidak tersedia fasilitas untuk sholat. Istanbul malah kalah dari Amsterdam atau Tokyo.
Kembali ke soal mitos dan nasib sejarah. Apa yang dilakukan oleh Turki, juga dilakukan oleh semua negara yang pernah memiliki pemerintahan monarchi yang kuat namun kini telah dikubur. Maka mitos-mitos tersebut juga ada di Jerman, Austria, Russia dan China. Di Beijing terdapat bekas Kota Terlarang (Forbidden City), tempat Kaisar Cina tinggal. Tempat itu memiliki 9999 kamar, untuk para pegawai Kaisar dan selir-selir kaisar. Dan seperti apa kehidupan di Harem atau Forbidden City itu, diserahkan kepada imajinasi para penulis Barat, yang mereka juga hanya menduga-duga - tapi kini dipercaya oleh para pembuat film, dan akhirnya dipercaya oleh umat Islam yang tidak berpikir mendalam.
Sumber: https://www.facebook.com/famhar68?fref=ts
*Prof. Ing. H. Fahmi Amhar (Profesor Riset termuda Bakorsurtanal)
foto: di istana Topkapi dengan latar Jembatan Selat Bosporus.


0 komentar:
Posting Komentar