Oleh: Siami, S.Pd (Muslimah
HTI DPD II Tulungagung)
Isuk dhele sore tempe( pagi kedelai sore tempe), mungkin inilah peribahasa yang tepat untuk
bapak presiden kita yang terhormat, yang konon katanya merakyat, atas
kebijkannya yang membuat orang-orang kecil yang dulu mendukungnya jadi
terperanjat, karena begitu berlawanannya antara kebijakaan dan apa yang
pernah dilihat sebelum menjabat, apakah kesan merakyat memang hanya pencitraan
yang dibuat?
Ya, akhirnya palu kenaikan harga
BBM diketuk juga oleh Pemerintahan Jokowi- JK pada 18 November 2014,
kebijakan ini memang sudah digadang- gadang akan diambil oleh rezim Jokowi- JK,
bahkan sebelum dilantik sebagai presiden dan wakil presiden, setelah negoisasi
permintaan agar pemerintahan SBY-lah yang menaikkan harga BBM subsidi tidak
berhasil. Akhirnya,meskipun belum genap sebulan menjabat kebijakan inipun
diputuskan, luar biasa. Presiden menaikkan harga bensin 2000 rupiah per liter,
sehingga harga bensin menjadi 8500 per liter, sementara solar naik 1000 rupiah
per liter, kini harga solar menjadi 7500 per liter. Mungkin angka kenaikan 2000
per liter untuk bensin dianggap kecil oleh sebagian orang, apalagi orang-orang
yang hidup dengan fasilitas negara, yang notabennya adalah fasilitas milik
rakyat, karena mereka hidup dengan tunjangan dari rakyat, tentu tidak terasa,
tapi tahukah kita, kenaikan 2000 rupiah = 32,5% dari harga BBM, ini sangat
banyak, bagaimana dengan dampaknya? bisa dipastikan luar biasa banyak. Kenaikan
harga BBM jangan sampai hanya dipikirkan, oh 2000 rupiah angka yang kecil,
rakyat pasti bisa membeli, tidak memberi pengaruh berarti, tidak sesederhana
itu, tahukah kita dengan kenaikan harga BBM akan memberikan efek domino bagi
kehidupan rakyat di negeri ini, kenaikan BBM= kenaikan seluruh harga- harga
bahan kebutuhan pokok, kenaikan BBM= kenaikan tarif angkutan umum, kenaikan
BBM= kenaikan harga pupuk, kenaikan BBM= menjamurnya SPBU asing, kenaikan BBM=
bertebarannya produk- produk impor, dan tahukah kita sangat banyak penduduk
negeri ini yang hidup miskin, bahkan dibawah garis kemiskinan, dengan
penghasilan dibawah 1 juta per bulan, pernahkah kita berpikir, bagaimana mereka
akan menjalani hidup yang serba sulit atas kebijakan orang yang mengaku sebagai
pelayan rakyat?????????
Tapi, tunggu dulu, pemerintah juga
punya alasan atas kebijakan ini, pertama: dikatakan anggaran selama ini
salah arah, anggaran yang diberikan hanya untuk dibakar, padahal pembakaran itu
adalah energi, yang membuat aktivitas ekonomi dan kehidupan terus berputar.
Alasan kedua: dinyatakan bahwa subsidi BBM konsumtif, padahal
penggunanya adalah jutaan petani, nelayan, pelajar, mahasiswa dan para
karyawan, bukankah ini sesuatu yang produktif. Alasan ketiga: subsidi
BBM salah sasaran, karena banyak dinikmati orang kaya, padahal Hasil Sensus
Ekonomi Nasional 2010 pengguna BBM 65% adalah rakyat kelas bawah dan miskin,
27% menengah, 6% menengah ke atas, 2% orang kaya, sedangkan menuru data BPS
2011 kendaraan pengguna BBM, mobil penumpang 11,43%, bus 3,05%, truk 6,25%,
sepeda motor 79,26%, dari data ini kita lihat rakyat kecillah pengguna BBM
terbesar. Alasan keempat: pengurangan subsidi dalam rangka mengurangi
beban APBN, dalam APBN 2014 disebutkan anggaran subsidi BBM sebesar 246,5
triliun, ini dianggap membebani, dan harus dihilangkan, caranya, dengan mencabut
subsidinya. Padahal sebenarnya beban negeri ini adalah banyaknya hutang, per 30
Septeber 2014 hutang pemerintah sebesar 2601,72 triliun, dengan cicilan hutang
dan bunganya( yang sudah jelas haram) sebesar 273, 412 triliun, tapi anehnya
ini tidak dianggap membebani, rupanya rakyat telah tertipu lagi.
Lalu, sebenarnya alasan apa yang
benar atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi
??????????? Sebenarnya pengurangan subsidi BBM adalah amanat liberalisasi
dalam LoI IMF 2000, sekaligus perintah Bank Dunia dan syarat pemberian
hutang(Indonesia Country Assistance Strategy, Worl Bank, 2001). Bank
Dunia juga sudah mewanti- wanti pemenang pemilu harus menaikkan harga
BBM, “Tidak terlalu penting siapa yang menang. Yang diperhatikan adalah bagaimana
mereka yang terpilih menerapkan kebijakan. Salah satunya, siapa nanti yang
berani mengurangi subsidi BBM,” ujar Rodrigo A. Chaves, direktur Bank Dunia
untuk Indonesia. (Detikfinance, 21/7/2014).Dan, seperti yang yang sudah kita
saksikan, pemerintah bak boneka yang mengikuti permainan tuannya.
Akhirnya, kita tahu untuk siapa
sesungguhnya kenaikan BBM, tak lain dan tak bukan adalah untuk para kapitalis
dan pihak asing dengan mengorbankan rakyat sendiri. Padahal migas dan SDA
yang melimpah adalah milik umum. Pengelolaannya harus diserahkan kepada negara
untuk kesejahteraan rakyat, tidak boleh dikuasai swasta apalagi asing.
Rasulullah saw bersabda yang artinya:
“ Kaum Muslim berserikat dalam tiga
hal: padang rumput, air, dan api” (HR Abu Dawud dan Ahmad). Karena itu
kebijakan kenaikan harga BBM ini adalah zalim dan alasannya adalah sebuah
kebohongan. Solusinya, kembalikan pengelolaan berdasarkan syariah, dengan
menerapkan Islam kaffah, dalam naungan Khilafah Rasyidah ‘al minhaj an-nubuwah,
sehingga BBM menjadi berkah. Wallahu a’lam.......


0 komentar:
Posting Komentar