Oleh: Siami ,S.Pd*
Dunia
penerbangan kembali berduka, ya, untuk kesekian kalinya, pada 28 Desember 2014 kecelakaan pesawat kembali terjadi, kali ini
menimpa maskapai penerbangan Air Asia QZ8501 rute penerbangan
Surabaya-Singapura.Maskapai yang dikenal bertiket murah yang bermarkas di
Malaysia ini dinyatakan hilang kontak di langit selat Karimata. Pesawat jenis
airbus ini membawa 155 penumpang dan 7 kru pesawat, dinyatakan hilang kontak
pada pkl 07.08 WIB. Negeri ini berduka, dunia tersentak, keluarga korban tak
terkira sedihnya, doa dan harapan dipanjatkan untuk keselamatan QZ8501, semua
kekuatan dikerahkan untuk mencari keberadaan pesawat.
Ketika
keberadaan pesawat belumlah jelas, dunia
kembali dikejutkan dengan kabar bahwa ternyata Air Asia tidak mengambil data
cuaca dari BMKG sebelum pesawat QZ8501
melakukan penerbangan, tetapi pihak Air Asia baru mengambil data cuaca setelah
42 menit pesawat dinyatakan hilang ( kompas.com, 2/1). Belum cukup sampai
disini, ternyata Air Asia juga terbang diluar jadwal, seharusnya Air Asia
QZ8501 tidak bisa melakukan penerbangan pada hari Minggu, karena Air Asia tidak
memiliki jadwal penerbangan pada hari Minggu.
Dari
fakta ini ada yang harus kita perhatikan, pertama,
dengan Air Asia tidak mengambil data cuaca sebelum terbang menunjukkan betapa
buruknya sistem penerbangan di negeri ini, dimana keselamatan penumpang sangat
tidak diperhatikan, data cuaca mutlak diperlukan dalam melakukan penerbangan,
tapi ini diabaikan, bahkan disinyalir tidak hanya dilakukan oleh Air Asia, tapi
juga oleh maskapai lain. Oleh sebab itu tidak heran jika International Civil
Aviation Oranization menilai otoritas penerbangan sipil Indonesia buruk, ICAO
menemukan 121 permasalahan yang membahayakan keselamatan penerbangan sipil di
Indonesia,( detikNews,5/1 ). Kedua,
dalam sistem kapitalime uang adalah penguasa, Air Asia QZ8501 bisa melenggang
terbang diluar jadwal yang seharusnya tentu atas restu pihak-pihak yang
mengatur penerbangan itu sendiri. Perubahan
rute penerbangan sekecil apapun harus ada izin tertulis ke Dirjen
Perhubungan Udara, tidak hanya di Otoritas Bandara, Air Asia bisa terbang diluar
jadwal yang sudah ditentukan, tentunya tidak gratis, bahkan butuh biaya tinggi,
namun, kembali lagi, dalam kapitalisme uang segalanya, Air Asia berani
melakukan tindakan diluar prosedur penerbangan demi mendapat keuntungan, karena
banyaknya calon penumpang yang memilih terbang dengan maskapainya pada hari
Minggu, 28 Desember 2014. Ketiga, dalam
kapitalisme negara hanyalah regulator dan fasilitator saja, sementara pihak
operator diserahkan pada swasta, jadi bisa dipasatikan jika pemenuhan kebutuhan
publik diserahkan kepada swasta, yang dicari tak lain dan tak bukan adalah
keuntungan belaka, tak terkecuali dalam penerbangan.
*Muslimah HTI DPD II Tulungagung
Guru PAUD Salsabila Tulungagung


0 komentar:
Posting Komentar