Suriah, ISIS dan Khilafah
Setelah Revolusi Islam di Suriah pecah
hampir 4 tahun lalu, keinginan rakyat Suriah khususnya, dan umat Islam
di seluruh dunia umumnya, untuk menyaksikan tumbangnya rezim kafir Baats
masih harus menunggu waktu. Apa yang terjadi di Suriah sesungguhnya
merupakan perang peradaban dan politik yang melibatkan dua pihak.
Pihak pertama adalah Amerika yang
diikuti oleh Eropa, Rusia, para antek dan pengikutnya. Pihak kedua
adalah umat Islam, khususnya rakyat Syam. Pihak pertama berjuang
mati-matian untuk menghalangi tegaknya Khilafah di bumi Syam; mendirikan
rezim sekular, sebagaimana pendahulunya, yang tunduk dan mengikuti
Amerika dan Barat. Pihak kedua berjuang mati-matian untuk mendirikan
Khilafah di Bumi Syam, sebagai Uqru Dar al-Islam (lubang
kembalinya [ular] di negeri Islam). Kemudian Khilafah itu akan
membentang hingga ke negeri kaum Muslim, yang diperintah oleh sistem
Islam; yang memuji dan mengagungkan Allah SWT, Zat Yang Mahakuat lagi
Mahaperkasa.
Hizbut Tahrir Suriah telah menyampaikan Rancangan Politik Kedua kepada Rakyat Syam.
Isinya memaparkan solusi mendasar terhadap konspirasi global yang
berusaha menghancurkan Revolusi Syam, menyia-nyiakan pengorbanannya,
serta menyelamatkan Revolusi, dengan judul, “Mari bersama-sama Menjatuhkan Taghut Syam dan Mendirikan Pemerintahan Islam, Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.”
Maksud dari Rancangan Politik Kedua kepada Rakyat Syam adalah
agar Revolusi Syam tetap berpegang teguh pada tali agama Allah dengan
kuat. Dengan cara seperti itu, Revolusi ini akan mampu menghancurkan
peraduan setan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina, yang terus-menerus
melakukan konspirasi untuk menghancurkan revolusi ini.
Mereka semua dengan antek-antek mereka berdiri kokoh bersama Thaghut Syam. Mereka menopang sang thaghut
dengan dana, senjata dan pasukan untuk membunuh para pemuda umat,
mengaborsi aspirasi mereka serta merebut kemuliaan dan kehormatan
mereka. Mereka dibuat terkejut. Pasalnya, ternyata para pejuang revolusi
ini adalah kesatria yang berpegang teguh pada agama mereka. Mereka
adalah para pahlawan. Anak-anak mereka pun kesatria. Perempuan-perempuan
mereka pun seperti Khansa’. Seluruh umat Islam berdiri di pihak mereka,
dalam revolusi mereka melawan penguasa thaghut.
Hizbut Tahrir, seperti sabda Nabi, “Ar-Ra’id la yakdzibu ahlahu” (Pemimpin tidak akan pernah membohongi rakyatnya) [Ibn Atsir, Al-Kamil fi at-Tarikh, I/478].
Hizbut Tahrir mengajukan Rancangan Politiknya untuk Rakyat Syam
untuk mewujudkan kewajiban Khilafah yang agung. Tidak ada lagi harapan,
kehidupan dan masa depan bagi umat Islam ini, kecuali dengan mendirikan
dan mewujudkan Khilafah, dengan izin dan pertolongan Allah meski ujian
dan cobaannya luar biasa dan semakin berat.
Dalam pendahuluan Rancangan Politik tersebut dinyatakan, “Ini
adalah rancangan politik yang kami ajukan kepada keluarga kami yang
teguh berjuang di Syam, setelah 3 tahun meletusnya Revolusi Syam yang
penuh berkah, agar bisa membimbing jalan mereka; membantu mereka
mewujudkan tujuan yang diharapkan sekalipun mereka menghadapi
pembunuhan, tekanan, pemboikotan, blokade…”
Rancangan Politik tersebut selanjutnya menegaskan, “Dalam
konteks ini, yang perlu diingat adalah peringatan untuk keluarga kami
di Syam, bahwa Revolusi Berkah ini tidak mereka lakukan, kecuali sebagai
fase akhir sehingga mereka bisa memetik buahnya, serta menikmati
berbagai macam kebaikannya…Semua harapan mereka telah dihanguskan.
Kekayaan mereka pun telah kering. Sementara itu, di depan mereka ada
musuh, dan di belakang mereka ada lautan. Tidak ada jalan keluar bagi
mereka, kecuali melanjutkan perjalanan untuk menang…Jika tidak, mereka
akan diusir sebelum meraih tujuan. Tentu ini merupakan kerugian dan
penyesalan.”
Revolusi Berkah ini dilakukan untuk
mewujudkan perubahan mendasar, mencabut rezim tiran dan menggantinya
dengan sistem yang baik, haq dan adil. Revolusi Syam telah
menegaskan, bahwa revolusi ini merupakan revolusi untuk mentauhidkan
Allah, dan menjadikan Rasulullah saw. sebagai panutan. Revolusi ini juga
mengangkat slogan yang tidak akan bisa diwujudkan, kecuali dalam sebuah
negara, seperti negara Khulafa’ ar-Rasyidin.
Karena itu, agar Revolusi Berkah ini berhasil mewujudkan tujuannya, yaitu menjatuhkan rezim thaghut, serta mendirikan pemerintahan Islam di Damaskus Syam, maka:
- Semua pihak harus menyatakan dengan tegas, bahwa rancangan kita adalah Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah.
- Menyatakan dengan tegas, bahwa Dewan Nasional, Koalisi Oposisi, dan Dewan Jenderal, tidak mewakili sedikit pun revolusi ini.
- Para politikus dan militer yang ikhlas harus memutus semua hubungan dengan negara-negara Barat dan antek-anteknya.
- Melepaskan diri secara total dari dana politik yang najis.
- Menganggap siapa saja yang menghalangi Proyek Khilafah sebagai pengkhianat Allah, Rasul dan orang Mukmin.
- Bagi orang-orang yang ikhlas harus melepaskan kepemimpinan mereka dari pihak luar, dan menggantikannya dengan kepemimpinan yang bersih.
- Para pemimpin Revolusi dan Ahlul al-Quwwah memberikan nushrah kepada Hizbut Tahrir dan kepemimpinannya; mengumpulkan Ahl al-Halli wa al-‘Aqd baik para qadhi, ulama’ maupun tokoh masyarakat agar mereka mendukung Hizbut Tahrir dan kepemimpinannya dengan jujur dan ikhlas. Hizbut Tahrir mempunyai Rancangan Negara yang jelas, bersumber pada Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Hizbut Tahrir juga paling mampu membongkar berbagai konspirasi yang dialamatkan kepada umat Islam, selain pengalaman Hizb dalam politik global dan perjalananya di belakang kepemimpinanya ini dengan teguh mendirikan Proyek Khilafah yang agung ini, Proyek Negara Islam, Khilafah Rasyidah. Mereka selayaknya meneladani Aus dan Khazraj ketika mereka membaiat Rasulullah saw. dengan baiat nushrah dan perang. Dengan itu Allah memuliakan mereka, dengan menyatukan hati mereka, dengan berdirinya Negara Islam melalui tangan mereka…
ISIS
Amerika telah melakukan monsterisasi
“Khilafah Rasyidah”, dengan mengeksploitasi “ISIS” yang diproklamasikan
tanggal 1 Ramadhan 1435 H dengan entengnya. Tujuannya tentu meraih
keuntungan sebesar-besarnya dalam menjalankan rancangannya di kawasan
ini. ISIS sendiri melakukan pembantaian demi pembantaian atas nama
Islam. Padahal tindakannya itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan
Islam.
Dalam konteks inilah, Thalib Hadi
al-Bahrah, Ketua Koalisi Oposisi (Amerika), tanggal 16/08/2014 lalu
meminta kepada masyarakat internasional untuk secepatnya melakukan
intervensi di Suriah, dengan mengatakan, “Saya, atas nama kemanusiaan,
menyerukan kepada PBB dan semua negara yang meyakini kebebasan, agar
mereka terlibat mengatasi kondisi di Suriah, sebagaimana keterlibatan
mereka di Kurdistan, Irak. Akibatnya sama, musuhnya sama, maka tidak
boleh menggunakan dua standar yang berbeda.”
Thalib al-Bahr memenuhi harapan tuannya,
Amerika, dan selaras dengan Resolusi DK PBB no 2170 tanggal 15/08/2014
yang menjatuhkan sanksi kepada ISIS.
Siapa saja yang memperhatikan seruan ini
pasti akan tahu, bahwa ini tak lebih dari pengkhianatan terhadap
Revolusi Syam. Seperti diketahui, Amerika dan negara-negara Eropa,
Rusia, Cina dan antek-anteknya, membutuhkan justifikasi untuk melakukan
intervensi di Suriah. Targetnya bukan untuk menolong rakyat Suriah,
tetapi untuk menghancurkan Revolusi dan Proyek Khilafah.
Intervensi dengan alasan memerangi
terorisme sama sekali tidak meringankan penderitaan kaum Muslim,
sebaliknya justru semakin membuat mereka menderita. Pasalnya, serangan
ini tidak lagi memilah sipil dan militer. Serangan yang dilakukan oleh
pesawat Amerika di Yaman, Pakistan, Afganistan dan terakhir di Irak
adalah bukti yang tak terbantahkan. Intervensi ini juga menambah
legalitas Barat kapitalis kafir dan penjajah itu untuk menyerang negeri
kaum Muslim secara langsung dan memberi ruang kepada mereka untuk
menguasai wilayah tersebut. Ini jelas bertentangan dengan firman Allah
SWT (yang artinya): Sekali-kali Allah tidak akan memberikan jalan kepada kaum afir untuk menguasai orang Mukmin (TQS an-Nisa’ [4]: 141).
Masyarakat internasional, yang dipimpin
Obama, berkali-kali mengumumkan bahwa mereka hanya memikirkan
kepentingannya sendiri. Mereka tidak pernah sedikit pun peduli terhadap
kepentingan kita. Bahkan bisa dikatakan dengan tegas, bahwa masalah dan
penderitaan yang kita alami juga merupakan buah mereka. Harus dicatat,
kepentingan Amerika hari ini bukan menjatuhkan Bashar, tetapi justru
mempertahankan dia. Karena itu Amerika melarang Koalisi Oposisi, setelah
dipersentajai oleh Rusia dan Iran atas restu Amerika, untuk menjatuhkan
Bashar. Bahkan Amerika diam terhadap pembantaian Bashar yang sangat
biadab.
Kepentingan Amerika khususnya dan
negara-negara Barat umumnya di Suriah dan kawasan ini, fokus untuk
menghancurkan Proyek Islam yang sesungguhnya dan menyeluruh. Proyek itu
tak lain adalah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah. Karena
itu mereka memainkan Rancangan Khilafah (ISIS) ini untuk menjatuhkan
Khilafah, bersama-sama mereka dalam permainan ini. Buntut mereka adalah
para penguasa kaum Muslim yang bodoh, termasuk Hadi al-Bahrah ini.
Ketakutan Barat, yang tak tampak,
khususnya Amerika, terhadap apa yang dinyatakan oleh Revolusi Umat di
Syam adalah Proyek Khilafah Rasyidah. Inilah yang menjadi alasan atas
lahirnya konspirasi jahat ini.
Memperhatikan dahsyatnya konspirasi ini,
maka tidak ada jalan untuk menghadapi dan menghancurkan konspirasi ini,
kecuali umat Islam mengadopsi Proyek Khilafah ini melalui metode
Rasulullah saw. bersama para pejuang untuk mewujudkan kabar gembira
Rasulullah saw., “Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad).
WalLahu a’lam. [] hti press/syabab indonesia


0 komentar:
Posting Komentar