Dia adalah Agus Supriyanto (53 tahun), warga perumahan Griya Buana
Mutiara, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Agus menderita kanker getah
bening.
Kejadian bermula kala dia sekarat pada pukul 03.00 WIB, Selasa. Namun
setelah tiba di rumah sakit, pasien pengguna BPJS kelas III itu ditolak
dan mengeluarkan surat rujukan ke Rumah Sakit Myria. Padahal RSMH
adalah rumah sakit bertaraf internasional di Palembang.
“Alasannya kamar perawatan penuh. Tapi bagaimana mau dipindah. Suami
saya itu sedang sekarat,” kata Sri Mulyani (40 tahun), istri korban.
Sri Mulyani juga memaparkan, Rumah Sakit juga mengeluarkan surat
untuk ditandangani secara paksa agar pasien segera dikeluarkan dari
rumah sakit itu.
“Saya sudah menangis, bahkan memohon untuk merawat suami saya. Dia
sedang kritis, tetap saja salah satu perawat bernama Asri Permata Sari
menyuruh pulang karena diperintahkan dokter Dr Deny, bagian THT,” kata
Sri dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumah duka.
Melihat kondisi suaminya yang sudah dalam keadaan mata membengkak,
kepala luka-luka dan napas pendek, Sri tetap berusaha untuk mendapatkan
perawatan layaknya pasien lain.
“Tetap saja saya tak dihiraukan dan dipaksa menandatangani secara
paksa surat kepulangan atau rujukan ke Rumah sakit Myria,” ujarnya.
Selang empat jam dari ketegangan antara Sri dengan Rumah Sakit,
akhirnya Agus Supriyanto mendapatkan perawatan. Tetapi saat dirawat
oksigen Agus tidak dinyalakan oleh perawat. “Padahal napas suami saya
sudah pendek. Sekitar pukul 04.00 WIB, suami saya meninggal.”
Sri sangat menyayangkan perlakuan Rumah Sakit yang tidak menghargai
warga yang tidak mampu. “Orang susah selalu ditolak. Sepeti itulah
kejadiannya,” katanya. () viva.co.i/syabab indonesia


0 komentar:
Posting Komentar