728x90 AdSpace

  • Hot News

    Selasa, 06 Januari 2015

    Jubir HTI: Apa Hebatnya Jokowi Naik Pesawat Kelas Ekonomi?

    Presiden Jokowi Naik Pesawat Komersial (Sumber Gambar: Liputan6.com)


    Dalam sebuah catatan yang dirilis oleh media resmi HTI tertanggal 30 desember 2014, Juru Bicara HTI, Muhammad Ismail Yusanto menyatakan bahwa ia sempat mendapat kejutan kecil saat mengetahui berada satu pesawat dengan Presiden Jokowi di pesawat komersial. Kejadian tersebut terjadi pada awal Desember 2014 lalu. Terlebih lagi ternyata Presiden berada di kelas ekonomi di pesawat tersebut.

    Menurut Ismail Yusanto, bentuk hemat yang dilakukan Presiden Jokowi ini patut diapresiasi dan ditiru juga oleh para pejabat negara. Apalagi di tengah situasi saat masih sangat banyak rakyat yang hidup dalam kesusahan. Disampaikan juga bahwa sebelumnya, saat hendak menghadiri acara wisuda putranya di Singapura, Presiden Jokowi juga naik pesawat komersial. Alasannya, karena ini acara pribadi maka Presiden terbang dengan pesawat biasa. Namun ternyata, untuk acara resmi kepresidenan menghadiri acara Temu Kapolda dan Kapolres seluruh Indonesia di Semarang, Presiden Jokowi juga terbang dengan pesawat komersial. Penjelasan resmi diberikan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, bahwa dengan terbang menggunakan pesawat komersial kelas ekonomi, untuk satu titik kunjungan ke Semarang kemarin, Presiden Jokowi bisa menghemat hingga Rp 120 juta. Jika Presiden menggunakan pesawat kepresidenan dengan kapasitas penuh, maka negara harus membayar Rp 160 juta sampai Rp 170 juta. Jika Presiden menyewa pesawat Garuda Indonesia, biaya yang dikeluarkan lebih mahal lagi, yakni mencapai Rp 400 juta. Dengan naik kelas ekonomi seperti kemarin, hanya perlu biaya sekitar Rp 40 juta.

    Tetapi Ismail menyayangkan jika upaya penghematan tersebut berhenti disitu saja. "Namun, mestinya aksi penghematan tidak hanya berhenti di situ. Bila dari aksi seperti itu saja bisa dihemat sekian triliun rupiah, sebenarnya ada cara “penghematan” yang akan menghasilkan dana yang jauh lebih besar. Apa itu? Melalui kewenangan Presiden sebagai kepala negara, Jokowi bisa menghentikan semua kontrak-kontrak pengelolaan SDA seperti emas di Papua oleh Freeport, migas di Blok Mahakam oleh Total dan di Blok Cepu oleh Exxon Mobil, dan banyak lagi lainnya, yang selama ini jelas-jelas telah merugikan negara", tulis Ismail.

    Berdasarkan data-data yang ditampilkan pada Laporan Keuangan Freeport bulan Juni 2009, diketahui bahwa cadangan emas dan tembaga tambang Grasberg masing-masing sebesar 38,5 juta ons dan 35, 6 juta ton. Dengan harga rata-rata emas dan tembaga sepanjang periode tambang diasumsikan masing-masing sebesar 900 US$/ons, dan 5.000 US$/ton, maka total potensi pendapatan emas tambang Grasberg adalah ( 38,5 juta ons X 900US$ /ons) = 34, 65 US$ miliar. Adapun total potensi pendapatan tembaga tambang Grasberg adalah (35, 6 juta ton X 5.000 US$/ ton) = 178 US$ miliar.

    Menurut Ismail, jika diasumsikan mineral yang ditambang hanya emas dan tembaga, total potensi pendapatan tambang Grasberg adalah sekitar US$ 212,65 miliar. Namun, karena adanya kandungan perak dan berbagai unsur mineral lainnya, total potensi pendapatan tambang Freeport dapat mencapai US$ 300 miliar atau lebih dari Rp 3000 triliun!  

    "Contoh lain: gas di Natuna yang jumlahnya sangat besar. Di Blok Natuna D-Alpha saja diperkirakan ada 222 triliun kaki kubik gas. Inilah cadangan terbesar di dunia yang tidak akan habis dieksplorasi 30 tahun ke depan. Potensi gas yang recoverable sebesar 46 tcf (46,000 bcf) atau setara dengan 8,383 miliar barel minyak (1 boe, barel oil equivalent = 5.487 cf). Dengan potensi sebesar itu, dan asumsi harga rata-rata minyak US$ 75 / barel selama periode eksploitasi, maka nilai potensi ekonomi gas Natuna adalah US$ 628,725 miliar atau sekitar Rp 6.287,25 triliun (kurs US$/Rp = Rp 10.000). Bandingkan dengan APBN 2014 yang hanya sekitar Rp 2.000 triliun. Anehnya, potensi yang demikian besar itu hingga kini dibiarkan terus dikangkangi oleh Exxon yang telah lebih dari 25 tahun memegang konsesi di blok itu tanpa memproduksi sama sekali", tambah Ismail di dalam tulisannya tersebut.

    "Andai semua SDA yang demikian besar kandungannya itu bisa dikelola oleh negara untuk sepenuhnya kesejaheraan rakyat, tentu akan didapat “penghematan” yang nilainya bukan hanya triliunan rupiah, tetapi ribuan triliun rupiah. Jumlah yang besar ini tentu akan sangat berarti bagi pembangunan negara ini", terang Ismail.

    Jika Presiden Jokowi membiarkan SDA dikeruk oleh asing maka menurut Ismail, Presiden hanya hemat uang recehan saja. "bila Presiden Jokowi terus membiarkan itu terjadi, maka itu tak ubahnya seperti orang yang berhemat untuk “uang receh”, sementara “uang gede” yang nilainya hingga ribuan triliun malah dihambur-hamburkan. Rakyat pasti akan lebih senang bila Presiden mau memperjuangkan “uang gede” itu agar benar-benar bisa dipakai untuk kepentingan rakyat, lalu Presiden bepergian dengan naik kelas bisnis, atau naik pesawat carter atau pesawat kepresidenan sekalipun; ketimbang Presiden menghemat “uang receh” karena sering terbang dengan kelas ekonomi, sementara pada saat yang sama ia membiarkan begitu saja—karena tidak ada nyali—merebut “uang gede” dari korporat asing dan para begundalnya di dalam negeri. Kalau begitu, apa hebatnya duduk di kelas ekonomi?", tegas Ismail.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Jubir HTI: Apa Hebatnya Jokowi Naik Pesawat Kelas Ekonomi? Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top