Di tengah banyaknya dukungan dari kalangan pemimpin negara-negara dan perusahaan-perusahaan di barat terhadap Charlie Hebdo (Majalah Penghina Islam dan Nabi SAW), menyisakan keganjilan-keganjilan saat penyerangan kantor majalah tersebut.
Media online Merdeka.com mencoba mengungkap beberapa kejanggalan tersebut.
1. Sekitar 20 menit sebelum kejadian, presiden Prancis lewat

Presiden Prancis Francois Hollande diketahui lewat di depan jalan kantor Charlie Hebdo sekitar 20 menit sebelum kejadian. Hal ini menimbulkan spekulasi jika pelaku mengincar nyawa Hollande.
Namun hal janggal yakni sistem pengamanan saat presiden lewat. Tentu saja wilayah radius lima kilometer dan sekitarnya sudah steril dari ancaman ketika sang pemimpin hendak melintas. Suatu keanehan jika teror terjadi di area steril.

Saksi mata peristiwa penembakan di kantor tabloid satir Prancis Charlie Hebdo mengatakan, pelaku mengenakan pakaian serba hitam, mirip seragam militer. Mereka juga melengkapi diri dengan rompi anti-peluru.
Jika dilihat cara kerja mereka cukup rapi jali. Tak seperti teroris lainnya, mereka seolah mempunyai pola sudah diperhitungkan dan matang. Termasuk mengganti mobil di wilayah timur Paris.
Kantor tabloid satir ini sudah pernah kena serangan bom molotov dan
pelbagai ancaman peledakan pada 2011, persis di saat mereka membuat
serial kartun Nabi Muhammad SAW. Setelah itu manajemen Charlie Hebdo
membuat kebijakan tingkat keamanan sekitar kantor diperketat. Bahkan
pemerintah Ibu Kota Paris menerjunkan satu hari-satu polisi untuk
menjaga Charlie Hebdo.
Apa lacur, kemarin keamanan kantor media ini dengan mudah dijebol. Lantas kemana para polisi yang menjaganya? Bukankah itu sebuah keanehan?

Dimana-mana yang namanya aksi terorisme berlaku brutal, tidak pandang bulu, siapa saja disikat tanpa ampun. Tak memandang jenis kelamin atau pun usia. Namun tindakan teror di Charlie Hebdo berbeda. Mereka masuk ke kantor dan menanyakan nama para staf satu per satu.
Ini janggal lantaran tak semua staf dibunuh oleh mereka. Nampaknya pelaku memang mengincar orang-orang tertentu saja.
Kantor tabloid satir Charlie Hebdo yang sudah pernah mendapat ancaman
bom tentu meningkatkan ketat keamanannya. Akses-akses masuk ke ruangan
redaksi diperketat dengan membuat pintu-pintu yang hanya terbuka dengan
sensor sidik jari khusus.
Pertanyaannya sekarang? Darimana kedua teroris ini masuk hingga ke ruangan redaksi? Jempol siapa yang mereka pakai untuk bisa sampai kesana?
(merdeka.com/dakwahmedia.com/ syabab indonesia)
Media online Merdeka.com mencoba mengungkap beberapa kejanggalan tersebut.
1. Sekitar 20 menit sebelum kejadian, presiden Prancis lewat
Presiden Prancis Francois Hollande diketahui lewat di depan jalan kantor Charlie Hebdo sekitar 20 menit sebelum kejadian. Hal ini menimbulkan spekulasi jika pelaku mengincar nyawa Hollande.
Namun hal janggal yakni sistem pengamanan saat presiden lewat. Tentu saja wilayah radius lima kilometer dan sekitarnya sudah steril dari ancaman ketika sang pemimpin hendak melintas. Suatu keanehan jika teror terjadi di area steril.
2. Pelaku terlatih
Saksi mata peristiwa penembakan di kantor tabloid satir Prancis Charlie Hebdo mengatakan, pelaku mengenakan pakaian serba hitam, mirip seragam militer. Mereka juga melengkapi diri dengan rompi anti-peluru.
Jika dilihat cara kerja mereka cukup rapi jali. Tak seperti teroris lainnya, mereka seolah mempunyai pola sudah diperhitungkan dan matang. Termasuk mengganti mobil di wilayah timur Paris.
3.Keamanan ketat di luar kantor Charlie Hebdo
Apa lacur, kemarin keamanan kantor media ini dengan mudah dijebol. Lantas kemana para polisi yang menjaganya? Bukankah itu sebuah keanehan?
4. Pelaku menanyakan nama staf kantor Charlie Hebdo
Dimana-mana yang namanya aksi terorisme berlaku brutal, tidak pandang bulu, siapa saja disikat tanpa ampun. Tak memandang jenis kelamin atau pun usia. Namun tindakan teror di Charlie Hebdo berbeda. Mereka masuk ke kantor dan menanyakan nama para staf satu per satu.
Ini janggal lantaran tak semua staf dibunuh oleh mereka. Nampaknya pelaku memang mengincar orang-orang tertentu saja.
5. Mudahnya pelaku masuk ruangan
Pertanyaannya sekarang? Darimana kedua teroris ini masuk hingga ke ruangan redaksi? Jempol siapa yang mereka pakai untuk bisa sampai kesana?
(merdeka.com/dakwahmedia.com/ syabab indonesia)


0 komentar:
Posting Komentar