728x90 AdSpace

  • Hot News

    Kamis, 25 Desember 2014

    Pencitraan Jokowi menutupi kebijakannya yang mengarah kepada Neoliberal




    Oleh: Ariani,S,Pd (Muslimah HTI DPD II Tulungagung)



    Pencitraan yang coba dilakukan Jokowi di awal pemerintahannya, banyak digencarkan. Seperti pemberian kartu sakti  untuk masyarakat miskin. Serta kinerja blusukan yang dilakukan para menteri  di awal mereka diangkat.
    Sebenarnya, kebijakan yang diambil pemerintahan Jokowi saat ini tidak jauh berbeda dengan kebijakan pada masa pemerintahan SBY. Bahkan cenderung melanjutkan kebijakan yang sudah ada. Pemberian solusi  pada bidang pendidikan dan kesehatan yang cenderung pragmatis, juga terlihat senada pada pemerintahan SBY dan Jokowi. Hal terebut merupakan dampak dari kemalasan pemerintah untuk menganalisis lebih dalam permasalahan yang terjadi. Sehingga berdampak pada model  kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
    Kenaikan harga BBM sudah pernah dilakukan pada masa pemerintahan SBY dengan alasan subsidi  BBM terlalu membebani APBN. Jokowi pun ngotot menaikkan harga BBM dengan alasan yang sama. Menurut penuturan Pakar Ekonomi Syariah Arim Nasim “Sebenarnya alasan utama menaikkan BBM adalah pesanan para kapitalis yang tercantum dalam UU migas, yakni, Agar harga jual BBM diserahkan ke harga pasar. Jadi, kenaikan harga BBM adalah untuk kepentingan para kapitalis.” (mediaumat.com, 7/11/2014)
    Eksploitasi SDA di Indonesia tidak kunjung usai. Kontrak Freeport akan berakhir pada 2021. Namun renegosiasi perpanjangan kontrak tambang di Papua sampai tahun 2041 sudah dilakukan. (kompas.com)
    Hal tersebut akan semakin buruk dengan adanya MEA 2015. Indonesia menjadi sasaran empuk sebagai target pangsa pasar. Semakin menguntungkan asing dan menyengsarakan rakyat.
    Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan Pemerintah yang akan datang tetap menjadikan Kapitalisme sebagai azas kebijakannya. Padahal sistem tersebut telah terbukti gagal dalam menciptakan kesejahteraan kolektif, memperbesar ketimpangan ekonomi, menciptakan dehumanisasi dan kerusakan ekologi. Bangunan sistem tersebut juga sangat rapuh dan telah menciptakan berbagai krisis yang telah memporak-porandakan tatanan ekonomi global termasuk di Indonesia.
    Sudah seharusnya bangsa ini meninggalkan Demokrasi, dan beralih kepada sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam dibangun di atas pondasi akidah Islam. Ini adalah akidah yang haq karena berasal dari Allah yang dibawa kepada umat manusia melalui Muhammad Rasulullah saw. Akidah Islam merupakan akidah yang memuaskan akal, menenteramkan jiwa, dan sesuai dengan fitrah manusia. Karenanya, peraturan yang terpancar dari akidah Islam, seperti sistem ekonomi Islam, memiliki karakter yang khas dan manusiawi.
    Dalam konteks individu, kegiatan ekonomi dilandasi oleh nilai-nilai ibadah. Bukan materi yang menjadi orientasi (profit oriented), tetapi keridhaan Allah. Mencari materi merupakan perkara mubah dan menjadi wajib bagi seseorang yang menjadi penanggungjawab nafkah dalam keluarga. Mencari nafkah tentu tidak dengan menghalalkan segala cara melainkan harus terikat dengan hukum syariah.
    Dalam konteks negara, kegiatan ekonomi merupakan salah satu wujud pengaturan dan pelayanan urusan rakyat. Inilah tugas umum negara. Untuk merealisasikannya, negara menerapkan syariah Islam baik dalam urusan ekonomi di dalam negeri maupun di luar negeri.
    Negara menerapkan hukum-hukum Allah sebagai koridor kegiatan ekonomi dan bisnis untuk mencegah aktivitas ekonomi yang zalim, eksploitatif, tidak transparan, dan menyengsarakan umat manusia. Negara menerapkan politik ekonomi agar warga dapat hidup secara layak sebagai manusia menurut standar Islam. Negara juga menjalin hubungan secara global dan memberikan pertolongan agar umat manusia di seluruh dunia melihat dan merasakan keadilan sistem Islam.
    Ekonomi Islam merupakan solusi bagi umat manusia untuk keluar dari krisis dan hidup sejahtera. Untuk itu, kita membutuhkan Khilafah Islamiyah sebagai institusi yang menerapkannya. Sehingga Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. Wallahu a’lam
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Pencitraan Jokowi menutupi kebijakannya yang mengarah kepada Neoliberal Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top