728x90 AdSpace

  • Hot News

    Selasa, 03 Juni 2014

    Konferensi Islam dan Peradaban (KIP) di Kendari Sulawesi Tenggara

    Sukses KIP Kota Kendari, Hadirkan 1400 Tokoh Umat

    Kendari -- Seruan takbir yang berapi-api dan suasana hening-haru, bergantian mewarnai Fakhira Ballroom hotel Zahra Kendari. Sedikitnya 1.400 peserta Konferensi Islam dan Peradaban (KIP) 1435 H tersuasana dengan dokusinema Indonesia Milik Allah; Saatnya Khilafah menggantikan Demokrasi dan Sistem Ekonomi Liberal. Acara ini dihelat Hizbut Tahrir Indonesia Sulawesi Tenggara, ahad (1/6) sebagai rentetan agenda KIP yang digelar di 70 kota se-Indonesia. Meskipun Kota Kendari diguyur hujan sejak semalam, tetapi tidak menyurutkan para peserta untuk datang dalam acara ini. Konferensi ini menghadirkan dua orang pembicara dari HTI Sultra, Ketua Lajnah Faaliyah Muhammad Sjaiful dan Saenuddin selaku Humas HTI Sultra. Suasana menjadi semakin hangat dengan orasi politik yang ideologis dari Ketua DPP HTI Muhammad Rahmat Kurnia. Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut merupakan representasi dari para tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara, terdiri atas ulama, intelektual, birokrat dan tokoh pemuda.
    Dalam paparannya, Muhammad Sjaiful menjelaskan mengenai kerusakan demokrasi dari sisi konsep dan fakta kerusakan yang dihasilkan, sehingga tidak pantas kaum muslimin mengambil demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Dan hampir seluruh kerusakan yang terjadi di dunia ini akibat demokrasi yang menyerahkan kedaulatan membuat hukum dan aturan pada manusia.
    Pernyataan Sjaiful dikuatkan dengan testimoni dari Muh Nur salah seorang mantan legislator Kota Kendari, yang pernah menjadi ketua pansus Perda Miras beberapa tahun silam. “saya ini bukan cuman belajar konsep berdemokrasi, tapi pelaku demokrasi sehingga saya tahu persis bagaimana proses berdemokrasi itu. Hampir semua Undang-Undang dan Perda yang dihasilkan itu merupakan pesanan dari orang, termasuk Perda miras yang pernah saya pimpin.” ujar Muh. Nur insyaf. “untuk itu saya bahkan mundur dari jabatan partai politik” imbuhnya.
    Sementara Saenuddin, memaparkan subtema Sistem Ekonomi Liberal, sistem rusak, menghasilkan kerusakan dan kesengsaraan. Dipaparkan bahwa sistem Ekonomi ini telah menyebabkan korporasi menguasai seluruh sektor strategis di berbagai Negara berdaulat, termasuk Indonesia. Hasilnya Indonesia gigit jari terhadap kekayaan yang dimiliki sembari merasakan penderitaan akibat persekongkolan penguasa dan korporasi.
    Adapun Orasi Politik yang disampaikan oleh Muhammad Rahmat Kurnia, menggugah peserta agar tidak lelap dalam kerusakan ini dan bangkit dengan kekuatan ideologi Islam dalam bentuk perjuangan menegakkan Khilafah. Fakta yang demikian komplit menjadikan orasi politik dari pakar Statistik IPB ini merenyuhkan hati para peserta, untuk bangkit berjuang menegakkan Khilafah, hal ini tampak dari ekspresi peserta.
    Prof. Samdin, selaku Guru besar Ekonomi Islam di Universitas Halu Oleo usai acara memaparkan bahwa “Sistem syariah dan Khilafah itu mutlak, tidak ada lagi tawar menawar, untuk itu saya telah menjalankan tugas saya sebagai guru besar ekonomi Islam untuk menjelaskan kepada para mahasiswa tentang kerusakan sistem ekonomi kapitalis tersebut”. Hal senada juga disampaikan oleh Saefuddin salah seorang pengusaha papan atas di Sulawesi Tenggara.
    Kegiatan yang berakhir pukul 11.45 ini ditutup dengan doa yang menambah suasana persaudaraan semakin erat, dan suasana haru semakin menjadi-jadi. #IndonesiaMilikAllah. []ardhy/MI Sultra/ hti press/ syabab indonesia














    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Konferensi Islam dan Peradaban (KIP) di Kendari Sulawesi Tenggara Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top