Paska Dolly, FPI Minta Pondok Rangon Juga Ditutup
Front
Pembela Islam (FPI) mendesak Pemerintah Kota Depok bersikap tegas
dalam memerangi prostitusi yang ada di wilayahnya. Salah satunya,
lokalisasi yang ada di kawasan Pondok Rangon, Cimanggis, Depok.
Tak jauh berbeda dengan
lokalisasi Dolly yang ada di Surabaya, kawasan Pondok Rangon juga
dituding kerap dijadikan ajang prostitusi terselubung. Maraknya
peredaran minuman haram dan warung esek-esek menjadikan wilayah ini
kerap dijadikan sasaran razia oleh petugas terlebih menjelang bulan suci
Ramadan seperti ini.
Ketua FPI Kota Depok Habib Idrus Al Gadri mengatakan, jika Pemkot tidak mengambil langkah tegas, maka dia mengancam akan turun langsung ke lokasi mesum tersebut.
Dia menilai, keberhasilan Pemkot Surabaya menutup Gang Dolly merupakan tamparan keras bagi Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dan wakilnya, Idris Abdul Somad. Apalagi, Idris merupakan kyai dan pernah menjabat di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok. "Kenapa sih, sampai sekarang enggak punya sikap untuk menutup wilayah mesum itu. Ini sudah lama dibiarkan," kata Idrus, Kamis 19 Juni 2014.
Bukan hanya Pondok Rangon, lanjut Idrus, dia juga mengancam akan turun langsung ke tempat-tempat yang kerap dijadikan ajang mesum dan maksiat. Ia menegaskan siap perang pada siapapun yang menjadi beking atas lokasi-lokasi tersebut.
"Kami sekarang ini mengedepankan perda. Namun jika itu tidak juga dijalankan kami siap perang. Kalau Wali Kota enggak berani juga, ya mending pakai konde dan rok saja. Malu tuh sama Bu Risma, Wali Kota Surabaya," jelasnya.
Puluhan kafe dan warung remang-remang yang kerap dijadikan ajang prostitusi terselubung di wilayah Pondok Rangon merupakan tugas lama Pemerintah Depok. Sebelumnya, Pemkot Depok melalui Satpol PP telah berulang kali melakukan razia hingga penyegelan. Namun nyatanya, hal itu hanya berlangsung sementara.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail bahkan sempat berjanji akan menggusur kafe-kafe dan warung remang-remang itu lantaran berdiri secara ilegal tanpa memiliki IMB. Namun sampai saat ini hal itu belum juga terealisasi. Sebelum Nur Mahmudi beralasan, pihaknya tidak bisa menggusur lantaran tidak adanya beko (alat pengeruk). (ita/ viva.co.id)
Ketua FPI Kota Depok Habib Idrus Al Gadri mengatakan, jika Pemkot tidak mengambil langkah tegas, maka dia mengancam akan turun langsung ke lokasi mesum tersebut.
Dia menilai, keberhasilan Pemkot Surabaya menutup Gang Dolly merupakan tamparan keras bagi Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dan wakilnya, Idris Abdul Somad. Apalagi, Idris merupakan kyai dan pernah menjabat di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok. "Kenapa sih, sampai sekarang enggak punya sikap untuk menutup wilayah mesum itu. Ini sudah lama dibiarkan," kata Idrus, Kamis 19 Juni 2014.
Bukan hanya Pondok Rangon, lanjut Idrus, dia juga mengancam akan turun langsung ke tempat-tempat yang kerap dijadikan ajang mesum dan maksiat. Ia menegaskan siap perang pada siapapun yang menjadi beking atas lokasi-lokasi tersebut.
"Kami sekarang ini mengedepankan perda. Namun jika itu tidak juga dijalankan kami siap perang. Kalau Wali Kota enggak berani juga, ya mending pakai konde dan rok saja. Malu tuh sama Bu Risma, Wali Kota Surabaya," jelasnya.
Puluhan kafe dan warung remang-remang yang kerap dijadikan ajang prostitusi terselubung di wilayah Pondok Rangon merupakan tugas lama Pemerintah Depok. Sebelumnya, Pemkot Depok melalui Satpol PP telah berulang kali melakukan razia hingga penyegelan. Namun nyatanya, hal itu hanya berlangsung sementara.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail bahkan sempat berjanji akan menggusur kafe-kafe dan warung remang-remang itu lantaran berdiri secara ilegal tanpa memiliki IMB. Namun sampai saat ini hal itu belum juga terealisasi. Sebelum Nur Mahmudi beralasan, pihaknya tidak bisa menggusur lantaran tidak adanya beko (alat pengeruk). (ita/ viva.co.id)
() syabab indonesia


0 komentar:
Posting Komentar