Bekasi -- Bertempat di Jababeka Convention Center Bekasi, HTI Bekasi dan Purwasuka mengadakan even Konferensi Islam dan Peradaban pada Kamis, 29/05/2014. Hadir sekitar 5000 peserta dari sekitar Bekasi, Karawang, Purwakarta, Cikampek dan Subang. Gemuruh teriakan takbir mengggema di konferensi tersebut.
Pemateri pertama, Abu Nabila mengungkapkan fakta buruknya demokrasi dan betapa rakyat telah ditipu oleh janji manis demokasi. Sesungguhnya Indonesia telah menjelma menjadi corporate state sebagaimana pengusung demokrasi yaitu Amerika. Dan beliau menyimpulkan bahwa demokrasi: dari korporasi, oleh korporasi dan untuk korporasi.
Pemateri kedua, DR. Waluyo Sakarsono, CES.DEA, tokoh Purwakarta sekaligus Ketua DPD II HTI Purwakarta yang sempat tinggal di Perancis sambil menyelesaikan kuliah S2 dan S3 nya di sana menceritakan bagaimana negara Perancis benar-benar menerapkan demokrasi. Beliau menggambarkan bahwa sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi liberal bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dicontohkan di Perancis, segala sesuatu halal asal menguntungkan.
"Segala bisa dijual bahkan "tubuh" manusia pun bisa dijual melalui prostitusi secara legal. Terakhir, Perancis melegalkan pernikahan sejenis, inilah buah demokrasi", ungkapnya.
Kemudian Ust Irwan Saifulloh (Anggota DPP HTI) menyampaikan seruan Hizbut Tahrir Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu membahu memperjuangkan syariah dan khilafah.
Lalu ditutup doa oleh KH. Ahmad Zaenudin, seorang ulama kharismatik, mengajak seluruh peserta untuk sungguh-sungguh berharap pertolongan Alloh SWT agar disegerakan tegaknya kembali syariah dan khilafah.
Pemateri pertama, Abu Nabila mengungkapkan fakta buruknya demokrasi dan betapa rakyat telah ditipu oleh janji manis demokasi. Sesungguhnya Indonesia telah menjelma menjadi corporate state sebagaimana pengusung demokrasi yaitu Amerika. Dan beliau menyimpulkan bahwa demokrasi: dari korporasi, oleh korporasi dan untuk korporasi.
Pemateri kedua, DR. Waluyo Sakarsono, CES.DEA, tokoh Purwakarta sekaligus Ketua DPD II HTI Purwakarta yang sempat tinggal di Perancis sambil menyelesaikan kuliah S2 dan S3 nya di sana menceritakan bagaimana negara Perancis benar-benar menerapkan demokrasi. Beliau menggambarkan bahwa sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi liberal bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dicontohkan di Perancis, segala sesuatu halal asal menguntungkan.
"Segala bisa dijual bahkan "tubuh" manusia pun bisa dijual melalui prostitusi secara legal. Terakhir, Perancis melegalkan pernikahan sejenis, inilah buah demokrasi", ungkapnya.
Kemudian Ust Irwan Saifulloh (Anggota DPP HTI) menyampaikan seruan Hizbut Tahrir Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu membahu memperjuangkan syariah dan khilafah.
Lalu ditutup doa oleh KH. Ahmad Zaenudin, seorang ulama kharismatik, mengajak seluruh peserta untuk sungguh-sungguh berharap pertolongan Alloh SWT agar disegerakan tegaknya kembali syariah dan khilafah.











0 komentar:
Posting Komentar