Ketika saya
menghadiri kegiatan dalam rangka memperingati isra’ mi’raj nabi Muhammad saw.
di wilayah tempat tinggal saya yang dibahas hanya seputar sejarah perjalanan
rasulallah saw dan perintah melaksanakan sholat wajib lima waktu saja. Namun
saya jarang sekali mendengarkan pembahasan masalah perjuangan rasulallah saw
dan para sahabat sebelum isra’ mi’raj Nabi saw. yakni melawan kezaliman dan
kemusyrikan di makkah dan perjuangan dalam membangun sebuah daulah di madinah
al-munawwarah dengan nashrullah. Oleh karena itu tulisan ini dibuat semoga
dapat mengungkap peristiwa penting lainnya di balik peristiwa isra’ mi’raj Nabi
Muhammad saw. yakni perjalanan dakwah Rasul saw sampai tegaknya Daulah di
Madinah.
Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami Sesungguhnya Dia adalah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (TQS al Israa [17] : 1). Ayat ini menyampaikan pada kita bagaimana
Allah swt telah memperjalankan Rasulullah saw dari al-masjidil haram di makkah
ke al-masjidil aqsha di palestina.
Dikisahkan pada suatu malam di antara malam-malam yang disinari oleh cahaya
ketuhanan, ketika Nabi Muhammad saw berbaring di pembaringannya dalam keadaan
antara bangun dan tidur, maka Jibril as. mendatangi Rasulullah saw. Dengan
membawa Buraq, yaitu binatang untuk kendaraan yang pernah mengangkut para nabi
sebelumnya. Buraq meletakan kukunya ke seluruh anggota badannya, lalu
mengangkatnya dan membawanya pergi. Rasulullah saw diperlihatkan akan
tanda-tanda kekuasaan Allah ketika beliau berada di antara langit dan bumi,
hingga akhirnya beliau sampai di Baitul Maqdis. (Rawwas Qol’ahji: Sirah
Nabawiyah, sisi politis perjuangan Rasulullah saw, hal 113)
Di Baitul Maqdis beliau bertemu dengan Ibrahim
al-Khalil, Musa dan Isa yang berada di tengah-tengah rombongan para nabi yang
telah berkumpul untuk menyambutnya. Kemudian mereka sholat dan Rasulullah saw.
Yang menjadi imamnya. Setelah sholat beliau dibawakan dua gelas berisi susu dan
satunya lagi berisi khomer. Beliau mengambil gelas yang berisi susu lalu
meminumnya, sedang gelas yang berisi khomer beliau tinggalkan. Jibril as.
berkata kepadanya: kamu telah membimbing menuju fitrah, kamu telah
membimbing umatmu, wahai Muhammad. Dalam riwayat lain bahwa beliau sholat
bersama para nabi setelah beliau kembali dari mi’raj. Ini adalah peristiwa
isra’ nabi Muhammad saw.
Peristiwa mi’raj nabi Muhammad saw. Telah
meriwayatkan Abu Sa’id al-Khudri ra. Bahwa Rasulallah saw. Bersabda: “Setelah
aku selesai dengan pekerjaanku di Baitul Maqdis, aku dibawanya Mi’raj, dan aku
belum pernah melihat sesuatu yang lebih bagus darinya, dia merupakan sesuatu
yang dipandangi oleh mayit-mayit kalian ketika sekarat. Temanku membawaku naik
kesana, hingga akhirnya aku sampai pada suatu pintu diantara pintu-pintu
langit, namanya pintu al-Hafazhah. Pintu itu dijaga seorang malaikat diantara
malaikat-malaikat, namanya Ismail. Ismail ini memimpin dua belas ribu malaikat,
dan tiap-tiap malaikat yang dipimpin Ismail ini juga memimpin dua belas ribu
malaikat.” Rasulallah saw. Bersabda ketika menceritakan kejadian ini: “Dan
tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri”.
Di pintu langit pertama ini Rasulallah saw bertemu
dengan nabi Adam as. dan melihat kejadian-kejadian dan kekuasaan Allah swt,
beliau melihat orang-orang yang bibirnya seperti bibir onta, sedang ditangannya
ada potongan-potongan api sebesar genggaman tangan mereka melemparka potongan
api tersebut ke mulut mereka. Kemudian Rasulullah saw bertanya pada malaikta
Jibril: Siapakah mereka itu, wahai Jibril? Jibril menjawab: Mereka
itu adalah orang-orang yang sewenang-wenang makan harta anak yatim. Dan
masih banyak kejadian yang lainnya.
Selanjutnya Rasulullah saw dibawa ke langit kedua
disana beliau bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria. Lalu di
langit ketiga bertemu dengan Yusuf bin Ya’kub. Dan sampai pada langit ke tujuh
bertemu dengan Ibrahim as. Setelah itu beliau memasuki Sidrat al-Muntaha. Di
Sidrat al-Muntaha inilah Rasulullah saw dan umatnya mendapat perintah sholat
sebanyak lima puluh kali sholat sehari semalam, yang sebelumnya hanya dua kali
sholat yaitu dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari. Ketika
Rasulullah saw berpaling untuk pulang beliau melintasi Musa bin Imran. Lalu
Musa bin Imran bertanya pada beliau: “Berapa banyaknya kewajiban sholat yang
diperintahkan kepadamu?” Beliu menjawab:”lima puluh kali sholat setiap
hari”. Lalu Musa bin Imran berkata: “Ingat, sholat itu pekerjaan berat,
sedang umatmu umat yang lemah. Untuk itu, aku sarankan agar kamu kembali lagi
kepada Tuhanmu, lalu mintalah keringanan untukmu dan utamanya umatmu”.
Kemudian Rasulullah saw kembali kepada Allah swt
memohon keringanan lalu Allah menetapkan sepuluh kali sholat, lalu beliau
pergi. Sampai beberapakali kembali kepada Tuhannya Rasulullah saw akhirnya
diberikan keringan sampai pada lima kali sholat sehari semalam sebagai
kewajiban bagi beliau dan umatnya. Inilah sejarah singkat peristiwa isra’
mi’raj nabi Muhammad saw. dan turunnya perintah kewajiban sholat lima waktu bagi
umat Nabi Muhammad saw.
Meneladani Perjuangan Rasulallah saw.
Ketika di Makkah Rasulallah saw mengawali
aktivitas dakwah dengan membentuk kutlah sahabat (kelompok sahabat), ketika
pertama kali menerima wahyu Rasulullah saw pertama kali menyeru kepada istrinya
Siti Khadijah, Ali bin Abi Thalib sepupunya, Zaid bin Haritsah maulanya, Abu
Bakar ash-Shiddiq sahabatnya dan ada sekitar 40 sahabat dan sahabiyah yang
masuk Islam melalui dakwah Rasulallah saw di Makkah.
Seiring perjalanan waktu dakwah Rasulullah saw dan
para sahabat, maka orang-orang kafir Quraisy di Makkah mulai menyadari bahaya
dakwah tersebut dan sepakat untuk menentang, memusuhi dan memeranginya. Mereka
menyimpulkan dengan pikiran yang dangkal untuk memerangi dakwah nabi Muhammad
saw dengan berbagai tekanan dan mendustakan kenabiannya.
Kafir Quraisy terus menerus menyerang Rasul saw
dan dakwahnya dengan cara hina dan menyakitkan. Mereka terus menerus
mempergunjingkan hal itu, tetapi hal itu tidak membelokkan Rasul dari
dakwahnya. Bahkan beliau tetap meneruskan seruannya kepada manusia menuju agama
Allah, disertai dengan memaki-maki berhala-berhala itu, mencelanya,
merendahkannya dan menganggap bodoh atas akal orang yang menyembahnya dan
menyucikannya. (An-Nabhani Daulah Islam,hal 22)
Orang-orang Quraisy menggunakan berbagai sarana
untuk memalingkan Muhammad dari dakwahnya, namun tidak berhasil. Sarana-sarana
terpenting yang mereka gunakan untuk menyerang dakwah ini ada tiga, yaitu: (1)
Penganiayaan, (2) Berbagai propaganda di dalam dan di luar kota Makkah, dan (3)
Pemboikotan.
Mengenai penganiayaan, maka hal ini telah menimpa
Nabi saw, meskipun berada dalam perlindungan kaumnya. Begitu juga menimpa
seluruh kaum muslim yang menjadi pengikutnya. Keluarga Yasir telah disiksa
dengan siksaan yang amat sadis agar mereka meninggalkan agamanya. Siksaan itu
tidak berpengaruh sedikitpun pada keluarga ini kecuali semakin mantapnya iman
dan keteguhan mereka. Seperti itulah kafir Quraisy secara terus menerus
menyiksa Nabi dan sahabatnya.
Kafir Quraisy menyadari bahwa perlawanan terhadap
dakwah dengan menggunakan cara penganiayaan tidak berhasil, maka mereka beralih
dengan cara lain yaitu dengan senjata propaganda memusuhi Islam dan kaum muslim
di mana-mana, baik di dalam kota Makkah maupun di luar kota Makkah, seperti di
Habsyi. Mereka menggunakan cara propaganda itu dengan segala bentuknya dan
modelnya, seperti berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai isu atau
tuduhan. Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam dan para
pengikutnya, membusuk-busukan isinya dan menghina esensinya. Mereka melontarkan
kebohongan-kebohongan tentang Rasul dan menyiapkan semua kata-kata yang
ditujukan untuk propaganda memusuhi Muhammad, baik di Makkah maupun di luar
Makkah, terutama propaganda di musim haji.
Demikianlah berbagai propaganda menemui kegagalan
dan tenggelam. Kekuatan kebenaran yang diserukan Rasul saw dengan amat
gamblang, dan tampak pada lidah beliau, mengungguli seluruh propaganda busuk. Cahaya
Islam yang baru terbit mampu mencerai-beraikan semua isyu dan propaganda.
Karena itu kafir Quraisy beralih pada senjata ketiga, yaitu pemboikotan dan
mereka sepakat untuk memboikot Rasul dan para kerabatnya. Mereka membuat
perjanjian tertulis yang isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib
secara total. Masa pemboikotan berlangsung selama tiga tahun dan mereka
menunggu apakah Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib akan meninggalkan Muhammad
juga apakah kaum muslim mau meninggalkan keislaman mereka. Sehingga Muhammad
akan sendirian dan kemungkinan akan meninggalkan dakwahnya.
Hanya saja hal tersebut tidak berpengaruh
sedikitpun pada Rasul saw, melainkan makin berpegang teguh kepada tali agama
Allah, makin kuat menggenggam agama Allah dan semakin bersemangat di jalan
dakwah mengajak manusia kepada Allah. Demikian juga kekuatan dan keteguhan
orang-orang mukmin yang menyertai beliau tidak surut. Penyebaran dakwah Islam
di kota Makkah dan di luar Makkah tidak mengalami kemunduran yang berarti. Hingga
akhirnya kabar pemboikotan kafir Quraisy pada Muhammad saw sampai ke telinga
suku-suku Arab yang berada di luar kota Makkah. Akibatnya dakwah mencuat keluar
dan tersebar luas di tengah-tengah kabilah-kabilah Arab. Rasul dan kaum muslim
atas pertolongan Allah berhasil mengakhiri pemboikotan dan mereka kembali
sehingga beliau saw dapat melanjutkan aktivitas dakwahnya, hingga jumlah kaum
muslim bertambah banyak.
Demikianlah berbagai langkah kafir Quraisy dalam
bentuk penganiayaan, propaganda dan pemboikotan telah gagal dan tidak mampu
memaksa kaum muslim meninggalkan agamanya. Aksi tersebut tidak berhasil
menghentikan Rasul dari dakwahnya, hingga Allah swt memenangkan dakwah Islam
meski oleh berbagai kesulitan dan siksaan.
Isra’ Mi’raj dan Nashrullah
Isra’ Mi’raj
adalah peristiwa penanda kemenangan dakwah rasul setelah menahan cobaan dan
siksaan selama 13 tahun. Setelah
menghadapi penyiksaan fisik sejak pamannya Abu Thalib meninggal, yaitu paman
yang telah membelanya dari penganiayaan dengan memanfaatkan kedudukannya yang
tinggi di Makkah. Dan juga setelah menderita tekanan mental sejak meninggalnya
istri tercinta Khadijah, istri yang sangat setia yang berfungsi sebagai
pengobat guna mengobati luka-luka Rasulullah saw. Maka Allah swt hendak
menghormatinya dengan perjalanan yang penuh berkah ini, yakni perjalanan Isra’
dan Mi’raj.
Rasulullah saw
telah kembali dari perjalanannya yang penuh berkah yakni Isra’ dan Mi’raj yang
semakin memperteguh tekadnya dengan dorongan kekuatan yang baru, kekuatan yang
mampu menghancurleburkan gunung yang kokoh. Sambil menunggu datangnya musim
haji, dimana ketika musim haji banyak dari berbagai suku yang datang ke Makkah,
beliau sudah memulai aktivitasnya, yaitu menyeru kepada Allah.
Setelah musim
haji tiba, dan para delegasi dari berbagai suku dan tokoh-tokoh mereka telah
berdatangan, maka mulailah Rasulullah saw mendatangi mereka di tempat
peristirahatannya di Mina. Beliau menawarkan agama dan ideologi kepada mereka,
dan beliau meminta kepada mereka dua perkara:Pertama, beriman kepada
Allah swt semata dan membuang yang lainnya diantara sesembahan-sesembahan yang
palsu, serta beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. Kedua, melindungi
Rasulullah saw, membelanya dan menghadapi setiap orang yang memusuhinya,
sehingga beliau aman di dalam menyampaikan risalah Tuhannya.
Rasulullah saw
menemui Bani Kindah yang dipimpin oleh seorang pemimpinnya yakni Mulaih,
Rasulullah saw menyeru mereka supaya beriman, menolong dan melindunginya, namun
mereka menolak. Lalu Rasulullah saw mendatangi Bani Amir Sha’sha’ah. Beliau
menyeru mereka agar hanya menyembah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi.
Lalu ada diantara mereka yang bernama Baiharah bin Firas berkata: “Apa
pendapatmu jika kami membai’atmu untuk membela agama yang kamu serukan, lalu
Allah memenangkan kamu atas orang-orang yang menentangmu, apakah kekuasaan
sesudahmu akan diberikan kepada kami?” Rasulullah saw berkata: “Hal itu
adalah urusan Allah, Allah akan memberikan kekuasaan kepada siapa yang
dikehendakinya.” Dan akhirnya bani
Amir Sha’sha’ah menolak dan tidak tertarik.
Selanjutnya
beliau mendatangi Bani Hanifah di tempat persinggahan mereka. Beliau menyeru
mereka agar menyembah Allah semata, dan beliau juga memperkenalkan dirinya
kepada mereka, namun mereka menolaknya dengan cara kasar dan keji yang tidak
pernah dilakukan oleh Bangsa Arab lainnya.
Rasulullah
saw. mendapatkan bahwa permintaan an-nushrah (pertolongan dan
perlindungan) justru yang menjadi batu rintangan yang menghambat proses
penerimaan dakwah beliau. Untuk itu, beliau berpendapat bahwa strategi terbaik
adalah menghentikan sementara permintaan an-nushrah, hingga hati mereka
melebur dulu dengan iman dan merasakan manisnya, sehingga untuk sementara cukup
menyerukan mereka agar beriman kepada Allah swt.
Tidak lama
kemudian Rasulullah saw mengubah pandangan dan perhatiannya dari semua kaum,
dan lalu memfokuskannya pada penduduk Madinah al-munawwarah (Yasrib ketika
itu). Perubahan itu karena beberapa faktor diantaranya: 1. Sesungguhnya
penduduk Madinah itu hidup bertetangga dengan penganut agama Yahudi. Sedang
agama Yahudi adalah agama langit, sehingga dapat dipastikan bahwa mereka
memiliki pemikiran yang terbuka dibanding kaum yang lain sehingga lebih mudah
menerima seruan kepada Islam. 2. Sesungguhnya daerah Madinah dianggap sebagai
daerah terbaik dan strategis untuk didirikan Daulah Islam yaitu negara yang
berdirinya sangat serius diusahakan oleh Muhammad saw agar dengannya
memungkinkan penerapan syari’at Islam secara menyeluruh. (Rawwas Qol’ahji:
Sirah Nabawiyah, sisi politis perjuangan Rasulullah saw, hal 127)
Ketika
memasuki musim haji tahun berikutnya, maka ada dua belas orang laki-laki di
antara kaum Anshar yang mereka itu menemui Rasulullah saw di Aqabah. Pertemuan
ini merupakan Bai’at Aqabah pertama. Mereka membai’at Rasulullah saw
sebagaimana bai’atnya kaum perempuan, yaitu bai’at untuk mengambil ideologi
Islam. Dalam bai’at ini tidak menyinggung masalah perang sebagai pembelaan atas
Rasulullah saw. Mereka membai’at beliau bahwa seorang pun diantara mereka tidak
akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina,
tidak membunuh anak-anak mereka, tidak akan mendatangkan bukti-bukti yang
direkayasa di antara dua tangan dan kakinya dan tidak akan melakukan maksiyat
dalam hal yang ma’ruf. (An-Nabhani Daulah Islam,hal 44)
Ketika dua belas
orang yang telah membai’at Rasulullah saw hendak kembali ke Madinah maka
Rasulllah saw mengutus Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf agar turut
bersama mereka. Rasulullah saw memerintahkan agar ketika sampai di Madinah,
Mush’ab bin Umair mengajari mereka membaca al-qur’an, mengajari mereka tentang
islam, dan memberi mereka pemahaman tentang agama. Selain itu Rasulullah saw
mengutus Mush’ab bin Umair ke Madinah membawa misi yakni misi politik yaitu: 1.
Untuk mengenal dari dekat tentang masyarakat Madinah dan keberadaannya, untuk
mengetahui perasaan yang sebenarnya terhadap dakwah, da’i (yang
mendakwahkannya), dan perubahan apa yang kemungkinan terjadi dengan perasaan
ini, untuk mengetahui mana yang teman dan mana yang lawan, mana orang-orang
yang mendukung dan yang menentang. 2. Menyiapkan orang-orang yang beriman
diantara penduduk Madinah untuk menerima strategi “an-nushrah” yang
sementara dihentikan oleh Rasulullah saw.
Mush’ab bin
Umair berangkat ke Madinah bersama kafilah orang-orang Madinah yang telah
membai’at Rasulullah saw untuk keimanan. Mush’ab bin Umair tinggal selama
setahun penuh. Setelah setahun pada musim haji Mush’ab bin Umair kembali ke
makkah bersama beberapa penduduk Madinah yang hendak pergi ke Makkah. Suatu
malam Mush’ab bin Umair menemui Rasulullah saw untuk melaporkan kepada
Rasulullah saw tentang Madinah dan penduduknya. Dengan demikian Rasulullah saw
dengan jelas mengetahui bahwa orang-orang yang beriman diantara penduduk
Madinah benar-benar yakin akan wajibnya melindungi dan membela Rasulullah saw.
Rasulullah saw
membuat kesepakatan dengan orang-orang mukmin diantara penduduk Madinah untuk
berkumpul di Aqabah guna diambil bai’atnya. Akhirnya berkumpul sekitar tujuh
puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan diantara isteri mereka.
Kemudian Rasulullah saw meminta dua belas perwakilan dari mereka untuk menemui
Rasulullah saw. Kemudian setelah paman Rasul Abbas bin Abdul Muthalib selesai
menyampaikan perkataannya lalu Rasulullah saw meminta mereka untuk berbai’at
dalam rangka keimanan dan kesediaan menolong Rasulullah saw (an-nushrah)
dan merekapun membai’atnya.
Setelah
selesainya bai’at aqabah maka kekuatan kaum muslim semakin kuat di Madinah,
maka selanjutnya Rasulullah menyiapkan kekuatan dari Makkah yakni menyiapkan
kaum muslim untuk hijrah secara sembunyi-sembunyi dan kelompok-kelompok ke
Madinah untuk menyusun kekuatan yang lebih besar lagi. Kaum msulimin secara sembunyi-sembunyi
hijrah ke Madinah untuk bergabung dengan kaum muslimin yang sudah menunggu
kedatangan saudara mereka seakidah. Keberadaan kekuatan Islam yang berada di
Madinah dan kesiapan Madinah untuk menerima Rasul saw, serta pendirian Daulah Islam disana, merupakan perkara yang
mendorong Rasul saw untuk hijrah.
Nabi saw tiba
di Madinah, sejumlah sahabat dari penduduk Madinah, kaum muslim, bahkan
orang-orang musyrik dan kaum yahudi menyambut kedatangannya. Sejak tiba di
Madinah, Rasul saw memerintahkan para sahabat membangun masjid sebagai tempat
shalat, berkumpul, bermusyawarah, dan mengatur berbagai urusan kaum muslimin.
Dengan demikian kedudukan Rasul saw adalah sebagai seorang pemimpin/kepala
negara di Madinah dan mulai menerapkan syari’at Islam secara menyeluruh.
Itulah
perjuangan Rasulullah saw yang wajib kita teladani dalam rangka memperingati
Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Semoga kita senantiasa dapat mengambil
hikmah dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj nabi saw serta bagaimana perjuangan
Nabi saw dalam rangka mendirikan Daulah islam di Madinah untuk menerapkan
syariah Islam secara menyeluruh.
Dengan
keyakinan akan janji Allah dan Bisyarah Rasulullah saw bahwa akan tegaknya
Islam kembali sebagaimana zaman kenabian dahulu yakni tegaknya Khilafah ‘ala
Minhajinnubuwah yang insya allah tidak lama lagi akan tegak. Sebagaimana hadis
yang diriwayatkan oleh Ahmad Rasulullah saw bersabda:
Akan ada di zaman kalian zaman
kenabian. Selama Allah berkehendak, ia akan tetap ada. Kemudian Dia
mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian ada zaman
Khilafah yang mengikuti metode kenabian. Maka, dengan kehendak Allah, ia akan
tetap ada. Kemudian Dia pun mengakhirinya, jika Allah berkehendak untuk
mengakhirinya. Kemudian akan ada para penguasa
yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun
mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada para
penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun
mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada
Khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian. Setelah itu, beliau diam. (Hr.
Ahmad dalam Musnad-nya, dimana semua perawinya adalah tsiqqat)
Semoga umur
kita disampaikan pada saatnya nanti ketika Khilafah tegak sehingga kita bisa
menyaksikan kemuliaan di bawah naungan Daulah Khilafah!


0 komentar:
Posting Komentar