Oleh:
Puji Astutik
Humanisme
dilihat dari sudut kebahasaan berasal dari bahasa latin humanus yang memiliki
akar kata homo yang berarti manusia. Humanus memiliki arti sifat manusiawi.
Jadi humanisme dapat didefinisikan sebagai paham yang memanusiakan manusia.
Memanusiakan manusia artinya berinteraksi dengan manusia lainnya dibangun oleh
nilai-nilai keluhuran budi pekerti bukan persaingan apalagi nafsu pribadi. Mau
menang sendiri, mau baik sendiri, ingin menguasai dan rakus kekuasaan bukanlah
contoh manusia humanis.
Humanis
Dadakan
Demokrasi
yang melabeli suara rakyat bak suara Tuhan menjadikan para kontestan pemilu
berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendulang suara rakyat. Segala macam
cara bisa menjadi halal demi meraih lidi dari rakyat. Sungguh, rakyat begitu
bernilai di musim pemilu. Berbagai janji kemakmuran dan kesejahteraan selalu
dielu-elukan demi menggait simpati rakyat.
Saat
pemilu inilah bermunculan para humanis dadakan. Mereka yang semula cuek dengan
kondisi yang ada tiba-tiba menjadi pribadi yang humanis dan penuh simpati pada
rakyat. Blusukan ke pasar-pasar, keliling ke berbagai daerah mendengarkan
keluhan rakyat miskin. Tim sukses kadang membagi-bagikan uang, kaos, sembako
dan lain-lain. Terkesan aneh, namun rakyat sudah paham apa maksud dan tujuan
mereka bersikap demikian.
Motif
Kepentingan
Motif
kepentingan itulah sebenarnya yang melatar belakangi sikap politisi yang
dadakan humanis. Kepentingan bisa diterjemahkan sebagai dasar bagi seseorang
untuk melakukan sesuatu. Kepentingan ini bisa berasal dari diri pribadi,
kelompok, golongan atau juga ideologi. Setiap politisi mengusung kepentingannya
masing-masing. Entah itu kepentingan bersumber dari diri pribadi ataupun
kelompok. Akhirnya bukan lagi kepentingan politik yang ada tapi politik
kepentingan dari masing-masingnya.
Sungguh ironis dan tragis negeri ini telah
menjadi wadah tumbuh suburnya politik kepentingan. Padahal kepentingan inilah
yang telah mencabik-cabik nilai-nilai kemanusiaan. Muncullah sosok-sosok dewan
yang kinerjanya mencari-cari celah untuk memakmurkan pribadi politisi.
Sibuk berkolaborasi dengan pihak-pihak yang bisa mendukung pengumpulan
pundi-pundi kekayaan. Plesiran ke berbagai kota dan negara tanpa ingat janjinya
dulu kepada rakyat.
Kesalahan
Demokrasi
Tumbuh
suburnya motif kepentingan dan matinya humanisme pada diri politisi saat ini
tidak lepas dari kesalahan yang ada pada sistem demokrasi. Pertama,
demokrasi tidak memiliki standar baik buruk yang hakiki. Maksudnya sesuatu itu dikatakan baik atau buruk dalam
sisitem ini dikembalikan kepada definisi masing-masing orang. Akhirnya
terjadilah perbedaan makna baik dan buruk di antara manusia. Akibatnya, jalan
yang ditempuh seseorang untuk meraih kursi jabatan dan kekuasaan bisa lewat
jalan mana pun asal tujuan tercapai. Tentu metode meraih kekuasaan "yang
penting menang” ini akan berimplikasi pada kinerjanya nanti ketika menjabat.
Sebagai
ilustrasi adalah saat seorang caleg mengeluarkan uang ratusan sampai milyaran
rupiah untuk mendapatkan suara rakyat maka bisa diprediksi caleg tersebut jika
berhasil meraih "tahta" dewan akan berusaha mengembalikan modal yang dikeluarkannya selama masa
pemilu. Teori keharaman money
politik itu dalam sistem demokrasi
tidak terdefinsi dengan jelas dan tidak terjerat hukum dengan pasti karena
hampir semua politisi yang menduduki kursi empuk itu juga melalui jalur uang.
Sehingga jiwa kemanusiaan itu pelan-pelan akan mati dalam diri politisi
tergantikan oleh nafsu kepentingan pribadi dan kelompok.
Kedua,
demokrasi mengusung ide
kebebasan. Memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk mengaktualisasikan
diri seolah teori manusiawi. Namun sesungguhnya dalam hal itu ada racun yang
sangat berbahaya. Kebebasan menjadi pintu terjadinya maksiat, konflik, serta
kediktatoran minoritas atas nama mayoritas. Contohnya, Kebebasan kepemilikan
telah terbukti menjadikan politisi ambisius untuk terus meraup untung dari
jabatan yang sedang didudukinya. Sumber daya alam yang harusnya dikuasai negara
untuk hajat hidup rakyat menjadi dikuasai saham pribadi dan pemilik modal.
Humanisme itu mati jika sudah bertemu dengan kepentingan pribadi, kelompok atau
juga golongan.
Ketiga, demokrasi memberikan kedaulatan kepada rakyat. Pada prakteknya
kedaulatan tidaklah ada ditangan rakyat. Karena banyak kebijakan yang
tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Jadi, kedaulatan itu ada ditangan para
dewan dan penguasa. Rakyat hanyalah “atas nama saja” sehingga menjadi tidak vulgar dominasi kepentingan politisi kepada rakyat.
Politisi
Dalam Prespektif Islam
Politik
dalam Islam bermakna mengurusi urusan rakyat bukan mengurusi urusan individu,
kelompok atau juga golongan. Adapun tingkah laku seseorang dalam Islam
didasarkan untuk mentaati Allah SWT semata bukan untuk memperturutkan
kepentingan pribadi, kelompok atau juga golongan. Dan tingkah laku tersebut
harus senatiasa terikat dengan syariat Allah SWT. Sehingga sifat humanisnya
politisi muslim murni lahir dari kesadaran untuk menaati Allah SWT bukan
kepentingan untuk meraih kekuasaan.
Definisi
politik dan ketentuan perbuatan dalam Islam yang demikian menjadikan orientasi
politisi Islam adalah bagaimana supaya ketaatan kepada Allah SWT itu bisa
terlaksana bagi seluruh rakyat. Dengan demikian jelas bahwa Islam tidak pro
kebebasan ala demokrasi dan bukan berarti pula tidak memberikan kebebasan
kepada rakyat. Islam memberikan kebebasan bagi manusia yang dibatasi dengan
ketentuan syariat. Jadi akan ada yang halal dilakukan dan akan ada yang haram
dilakukan.
Orientasi
politik meraih ketaatan kepada Allah SWT ini menjadikan politisi Islam amanah
dalam menjalankan tugasnya dan penuh keihlasan memberikan pelayanan kepada
rakyat. Apabila syariat Allah SWT belum tegak dimuka bumi maka selama itu pula
politisi Islam akan terus berjuang hingga tegaknya. Karena kedaulatan itu ada
ditangan syara’, sehingga syariat inilah yang harus diperjuangkan sehingga
seluruh rakyat tunduk pada syariat Allah SWT. Sebagaimana firman Allah swt yang
artinya:
“Apakah hukum jahiiyah yang mereka kehendaki? Hukum
siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50).()

0 komentar:
Posting Komentar