728x90 AdSpace

  • Hot News

    Rabu, 28 Mei 2014

    HUMANIS DEMI KEPENTINGAN




    Oleh: Puji Astutik

    Humanisme dilihat dari sudut kebahasaan berasal dari bahasa latin humanus yang memiliki akar kata homo yang berarti manusia. Humanus memiliki arti sifat manusiawi. Jadi humanisme dapat didefinisikan sebagai paham yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia artinya berinteraksi dengan manusia lainnya dibangun oleh nilai-nilai keluhuran budi pekerti bukan persaingan apalagi nafsu pribadi. Mau menang sendiri, mau baik sendiri, ingin menguasai dan rakus kekuasaan bukanlah contoh manusia humanis.

    Humanis Dadakan
    Demokrasi yang melabeli suara rakyat bak suara Tuhan menjadikan para kontestan pemilu berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendulang suara rakyat. Segala macam cara bisa menjadi halal demi meraih lidi dari rakyat. Sungguh, rakyat begitu bernilai di musim pemilu. Berbagai janji kemakmuran dan kesejahteraan selalu dielu-elukan demi menggait simpati rakyat. 
    Saat pemilu inilah bermunculan para humanis dadakan. Mereka yang semula cuek dengan kondisi yang ada tiba-tiba menjadi pribadi yang humanis dan penuh simpati pada rakyat. Blusukan ke pasar-pasar, keliling ke berbagai daerah mendengarkan keluhan rakyat miskin. Tim sukses kadang membagi-bagikan uang, kaos, sembako dan lain-lain. Terkesan aneh, namun rakyat sudah paham apa maksud dan tujuan mereka bersikap demikian.

    Motif Kepentingan
    Motif kepentingan itulah sebenarnya yang melatar belakangi sikap politisi yang dadakan humanis. Kepentingan bisa diterjemahkan sebagai dasar bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Kepentingan ini bisa berasal dari diri pribadi, kelompok, golongan atau juga ideologi. Setiap politisi mengusung kepentingannya masing-masing. Entah itu kepentingan bersumber dari diri pribadi ataupun kelompok. Akhirnya bukan lagi kepentingan politik yang ada tapi politik kepentingan dari masing-masingnya.
    Sungguh ironis dan tragis negeri ini telah menjadi wadah tumbuh suburnya politik kepentingan. Padahal kepentingan inilah yang telah mencabik-cabik nilai-nilai kemanusiaan. Muncullah sosok-sosok dewan yang kinerjanya mencari-cari celah untuk memakmurkan pribadi politisi. Sibuk berkolaborasi dengan pihak-pihak yang bisa mendukung pengumpulan pundi-pundi kekayaan. Plesiran ke berbagai kota dan negara tanpa ingat janjinya dulu kepada rakyat.

    Kesalahan Demokrasi
    Tumbuh suburnya motif kepentingan dan matinya humanisme pada diri politisi saat ini tidak lepas dari kesalahan yang ada pada sistem demokrasi. Pertama, demokrasi tidak memiliki standar baik buruk yang hakiki. Maksudnya  sesuatu itu dikatakan baik atau buruk dalam sisitem ini dikembalikan kepada definisi masing-masing orang. Akhirnya terjadilah perbedaan makna baik dan buruk di antara manusia. Akibatnya, jalan yang ditempuh seseorang untuk meraih kursi jabatan dan kekuasaan bisa lewat jalan mana pun asal tujuan tercapai. Tentu metode meraih kekuasaan "yang penting menang” ini akan berimplikasi pada kinerjanya nanti  ketika menjabat.
    Sebagai ilustrasi adalah saat seorang caleg mengeluarkan uang ratusan sampai milyaran rupiah untuk mendapatkan suara rakyat maka bisa diprediksi caleg tersebut jika berhasil meraih "tahta" dewan akan berusaha mengembalikan modal yang dikeluarkannya selama masa pemilu. Teori keharaman money politik itu dalam sistem demokrasi tidak terdefinsi dengan jelas dan tidak terjerat hukum dengan pasti karena hampir semua politisi yang menduduki kursi empuk itu juga melalui jalur uang. Sehingga jiwa kemanusiaan itu pelan-pelan akan mati dalam diri politisi tergantikan oleh nafsu kepentingan pribadi dan kelompok.
    Kedua, demokrasi mengusung ide kebebasan. Memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk mengaktualisasikan diri seolah teori manusiawi. Namun sesungguhnya dalam hal itu ada racun yang sangat berbahaya. Kebebasan menjadi pintu terjadinya maksiat, konflik, serta kediktatoran minoritas atas nama mayoritas. Contohnya, Kebebasan kepemilikan telah terbukti menjadikan politisi ambisius untuk terus meraup untung dari jabatan yang sedang didudukinya. Sumber daya alam yang harusnya dikuasai negara untuk hajat hidup rakyat menjadi dikuasai saham pribadi dan pemilik modal. Humanisme itu mati jika sudah bertemu dengan kepentingan pribadi, kelompok atau juga golongan.
    Ketiga, demokrasi memberikan kedaulatan kepada rakyat. Pada prakteknya kedaulatan tidaklah ada ditangan rakyat. Karena banyak kebijakan yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Jadi, kedaulatan itu ada ditangan para dewan dan penguasa. Rakyat hanyalah “atas nama saja” sehingga menjadi tidak vulgar dominasi kepentingan politisi kepada rakyat.

    Politisi Dalam Prespektif Islam
    Politik dalam Islam bermakna mengurusi urusan rakyat bukan mengurusi urusan individu, kelompok atau juga golongan. Adapun tingkah laku seseorang dalam Islam didasarkan untuk mentaati Allah SWT semata bukan untuk memperturutkan kepentingan pribadi, kelompok atau juga golongan. Dan tingkah laku tersebut harus senatiasa terikat dengan syariat Allah SWT. Sehingga sifat humanisnya politisi muslim murni lahir dari kesadaran untuk menaati Allah SWT bukan kepentingan untuk meraih kekuasaan.
    Definisi politik dan ketentuan perbuatan dalam Islam yang demikian menjadikan orientasi politisi Islam adalah bagaimana supaya ketaatan kepada Allah SWT itu bisa terlaksana bagi seluruh rakyat. Dengan demikian jelas bahwa Islam tidak pro kebebasan ala demokrasi dan bukan berarti pula tidak memberikan kebebasan kepada rakyat. Islam memberikan kebebasan bagi manusia yang dibatasi dengan ketentuan syariat. Jadi akan ada yang halal dilakukan dan akan ada yang haram dilakukan.
    Orientasi politik meraih ketaatan kepada Allah SWT ini menjadikan politisi Islam amanah dalam menjalankan tugasnya dan penuh keihlasan memberikan pelayanan kepada rakyat. Apabila syariat Allah SWT belum tegak dimuka bumi maka selama itu pula politisi Islam akan terus berjuang hingga tegaknya. Karena kedaulatan itu ada ditangan syara’, sehingga syariat inilah yang harus diperjuangkan sehingga seluruh rakyat tunduk pada syariat Allah SWT. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya:
    “Apakah hukum jahiiyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50).()
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: HUMANIS DEMI KEPENTINGAN Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top