Gus Uwik : Caleg Stres Bogor Naik 100 Persen, Bukti Gagalnya Demokrasi
Jumlah Caleg (Calon Legistatif) stres di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) di Jalan Dr. Sumeru No. 114, Kelurahan Menteng Bogor, Kota Bogor, semakin bertambah. Terlebih setelah pengumuman resmi dari KPU Caleg mana saja yang lolos menjadi anggota dewan.
Meningkatkanya jumlah caleg stes diakibatkan oleh
tidak terpilihnya mereka menjadi wakil rakyat. Berdasarkan data dari
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi jumlah pasien yang berobat jalan meningkat
tajam sejak KPU mengumumkan hasil akhir dari Pemilu Legislatif 2014.
Peningkatan pasien yang berobat jalan karena
mengalami stres tercatat hingga 100 persen. Sebelum KPU mengumumkan
hasil akhir dari Pemilihan Legislatif hanya ada 50 hingga 60 pasien
tapi, setelah pengumuman jumlah pasien hingga 150 orang setiap harinya.
Menanggapi fenomena tersebut tokoh muda Islam bogor
menyatakan inilah bukti bahwa politik saat ini tidak lepas dari
permainan kotor, yakni money politik dengan menghalalkan segala macam
cara.
"Info dari Humas RSMM Kota Bogor, Dr. Farid
mengatakan, pasien yang datang dan berobat jalan kebanyakan mengalami
depresi dan memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Banyak yang tidak
terpilih, banyak juga yang berobat akibat mengalami stres yang parah.
Hal itu dipicu oleh dana yang dikeluarkan untuk menjadi wakil rakyat
terbilang tinggi, sehingga meninggalkan hutang dan kekecewaan mendalam.
Selain itu para caleg semakin stres ketika di iming-imingi para tim
sukses yang menjanjikan suara yang banyak dan memastikan sang caleg
melenggang menjadi anggota dewan, namun faktanya nol besar," jelasnya.
Lebih lanjut, politis muda bogor ini menegaskan
bahwa sekali lagi ini adalah bukti bahwa sebagian besar caleg dalam
meraih syahwat politiknya lebih mengedepankan logika suara dan
popularitas daripada logika ide/gagasan. Ditambah lagi, fakta mereka
stres karena ada tanggungan beban hutang yang banyak menunjukkan bahwa
kebanyakan dari calon politisi banyak yang berselingkuh dengan pengusaha
hitam. Sebab hanya merekalah yang punya cukup modal untuk membiayai
modal politik selama kampanye.
"Sudahlah minim gagasan dan ditambah adanya
selingkuh dengan pengusaha hitam maka jangan berharap bogor akan terjadi
perubahan. Yang ada adalah mereka berkhidmat pada kepentingan para
kapitalis. Korupsi, proyek fiktik, kebijakan yang dzolim akan terus
muncul. Janji akan menyejahterakan masyarakat, sebagaimana yang di
gembar-gemborkan selama kampanye bak pepesan kosong. Mereka akan sibuk
sendiri untuk mengembalikan modal dan keuntungan modal politik. Ini
adalah bukti gagalnya demokrasi," tegasnya.
Oleh karena itu, menurut tokoh muda yang juga Ketua
DPP HTI ini mengingatkan bahwa para anggota legislatif yang lolos pada
pileg kemarin sejatinya apa yang mereka lakukan tidak jauh beda.
Sama-sama menghalalkan segala cara, yang salah satunya menggunakan
politik uang dan selingkuh dengan pengusaha hitam. Pemerintahan akhirnya
'disetir' oleh para pengusaha hitam. Dan inilah model negara korporasi.
Masih menurut Gus Uwik, pemerintahan korporasi tak
ubahnya perusahaan yang hanya memikirkan keuntungan. Dalam pemerintahan
korporasi, subsidi terhadap rakyat, yang sebenarnya merupakan hak
rakyat, dianggap pemborosan. Aset-aset negara yang sejatinya milik
rakyat pun dijual. Itulah pemerintahan korporasi, yang tidak bisa
dilepaskan dari sistem politiknya: demokrasi. Pemilu legislatif kemarin
menjadi pintu utamanya.
Oleh karena itu, bila para politikus berselingkuh
dengan pengusaha hitam yang sekarang ini berada di jajaran kepemimpinan
bogor maka perwujudan Bogor sebagai pemerintahan korporasi akan semakin
nyata. Lihat saja nanti, keputusan-keputusan politik dibuat tidaklah
sungguh-sungguh demi kepentingan rakyat, tetapi untuk kepentingan
bisnis. Kader partai yang duduk di parlemen pun kelak juga hanya akan
menjadi alat legitimasi bagi pemuasan syahwat politik-ekonomi elit
partai. Ujungnya, rakyatlah yang akan menanggung akibatnya berupa
pemiskinan dan kesenjangan kaya-miski yang makin lebar.
"Inilah pentingnya perjuangan penegakkan syariat
Islam dalam bingkai Khilafah. Sebab hanya dengan syariat Islam, proses
politik bukan menghamba pada uang dan berselingkuh dengan pengusaha
hitam, namun tunduk pada keagungan aturan Allah yang pasti
menyejahterakan seluruh rakyat. Sistem politik demokrasi yang telah
terbukti gagal dan bahkan menyengsarakan masyarakat harus di tolak dan
dicampakkan," tegasnya.
Oleh : Amir S/ bogorplus.com/ syabab indonesia


0 komentar:
Posting Komentar