Yogyakarta--Diiringi cuaca yang cukup teduh, Gema Pembebasan Komisariat UGM
mengadakan acara Open House GEMA Pembebasan dengan tema "Menyatukan Kekuatan
Mahasiswa Menuju Indonesia Adidaya" bertempat di Area Barat Graha Sabha
Pramana UGM pada hari Sabtu, 22 Maret 2013. Pada acara ini, hadir para mahasiswa dari berbagai lembaga, diantaranya perwakilan dari
PMII Komisariat Fakultas Pertanian UGM dan LDK Jama’ah Shalahuddin UGM.
Selain itu, turut hadir pula Burhanuddin Ihsan (Ketua Gema Pembebasan
Komisariat UGM) dan Nasruri Aji Pratomo (Ketua Umum Gema Pembebasan
DIY). Menurut Azzam selaku moderator, acara Open House ini diadakan
sebagai pengganti acara Dialogika, yang karena suatu kendala tidak bisa
dilaksanakan minggu itu.
Acara ini dimulai dengan pemaparan dari Nasruri yang memperkenalkan tentang Gema Pembebasan. Menurutnya, Gema Pembebasan lahir didasari untuk membebaskan pemikiran-pemikiran asing dari umat Islam, yaitu sekulerisme-liberalisme.
“Karena itu, Gema Pembebasan memiliki tagline yaitu Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam. bersatu di sini maksudnya menyatukan komponen mahasiswa Islam yang bergerak dalam pergerakan internal maupun eksternal kampus yang pada era reformasi ini terpisah dan tidak bergerak selayaknya gerakan mahasiswa.”
Nasruri juga menjelaskan bahwa Gema Pembebasan bergerak secara terstruktur untuk menegakkan ideologi Islam, sebagai ideologi yang diembannya, bukan ideologi Kapitalisme maupun Sosialisme yang jelas-jelas sudah runtuh. Dia juga menekankan supaya ideologi Islam yang dibawa Gema Pembebasan ini agar dijadikan sebagai solusi utama, bukan sekadar solusi alternatif, karena dianggap mampu menyelesaikan problematika umat.
Berikutnya, Burhanuddin menerangkan tentang romantisme sejarah mahasiswa. Dia mengatakan bahwa setiap perubahan besar di negeri ini selalu melibatkan peran mahasiswa, misalnya pada Reformasi 1998. Maka, penting bagi mahasiswa untuk menyadari perannya sebagai agen kontrol sosial dan perubahan, tidak terjebak pada apatisme yang melanda dunia mahasiswa saat ini.
Di sesi obrolan santai, Ari dari PMII Komsat Fakultas Pertanian UGM menanyakan realitas penerapan ideologi Islam yang notabene diterapkan dalam bentuk negara Khilafah, yang dianggap mustahil karena banyaknya perbedaan di tengah umat saat ini. Menjawab persoalan itu, Burhanuddin dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan sudah ada sejak zaman Rasulullah mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah, dan ternyata tidak ada masalah dengan itu.
“Justru, di tengah penerapan ideologi Islam, orang-orang non-muslim lebih rela tinggal di bawah naungannya dibandingkan imperium lain!” tegas Burhan.
Acara ditutup dengan ajakan pada gerakan mahasiswa untuk menyatukan visi dan bergerak demi tegaknya ideologi Islam, sebagaimana tagline yang diusung Gema Pembebasan. [ADW]
GEMA Pembebasan Yogyakarta/ GPUGM News/ syabab indonesia
Acara ini dimulai dengan pemaparan dari Nasruri yang memperkenalkan tentang Gema Pembebasan. Menurutnya, Gema Pembebasan lahir didasari untuk membebaskan pemikiran-pemikiran asing dari umat Islam, yaitu sekulerisme-liberalisme.
“Karena itu, Gema Pembebasan memiliki tagline yaitu Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam. bersatu di sini maksudnya menyatukan komponen mahasiswa Islam yang bergerak dalam pergerakan internal maupun eksternal kampus yang pada era reformasi ini terpisah dan tidak bergerak selayaknya gerakan mahasiswa.”
Nasruri juga menjelaskan bahwa Gema Pembebasan bergerak secara terstruktur untuk menegakkan ideologi Islam, sebagai ideologi yang diembannya, bukan ideologi Kapitalisme maupun Sosialisme yang jelas-jelas sudah runtuh. Dia juga menekankan supaya ideologi Islam yang dibawa Gema Pembebasan ini agar dijadikan sebagai solusi utama, bukan sekadar solusi alternatif, karena dianggap mampu menyelesaikan problematika umat.
Berikutnya, Burhanuddin menerangkan tentang romantisme sejarah mahasiswa. Dia mengatakan bahwa setiap perubahan besar di negeri ini selalu melibatkan peran mahasiswa, misalnya pada Reformasi 1998. Maka, penting bagi mahasiswa untuk menyadari perannya sebagai agen kontrol sosial dan perubahan, tidak terjebak pada apatisme yang melanda dunia mahasiswa saat ini.
Di sesi obrolan santai, Ari dari PMII Komsat Fakultas Pertanian UGM menanyakan realitas penerapan ideologi Islam yang notabene diterapkan dalam bentuk negara Khilafah, yang dianggap mustahil karena banyaknya perbedaan di tengah umat saat ini. Menjawab persoalan itu, Burhanuddin dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan sudah ada sejak zaman Rasulullah mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah, dan ternyata tidak ada masalah dengan itu.
“Justru, di tengah penerapan ideologi Islam, orang-orang non-muslim lebih rela tinggal di bawah naungannya dibandingkan imperium lain!” tegas Burhan.
Acara ditutup dengan ajakan pada gerakan mahasiswa untuk menyatukan visi dan bergerak demi tegaknya ideologi Islam, sebagaimana tagline yang diusung Gema Pembebasan. [ADW]
GEMA Pembebasan Yogyakarta/ GPUGM News/ syabab indonesia


0 komentar:
Posting Komentar