
Berikut potongan isi surat Ummu Azzam AbdurRahman yang diambil dari al-mustaqbal.net tentang trik kotor densus 88 dalam melakukan aksinya. Syindo press akan menyajikan potongan isi surat tersebut yang hanya berisi poin-poin trik tersebut saja. untuk isi surat lengkapnya terdapat di al-mustaqbal.net dengan judul Sebuah Pesan Dari Muslimah : Waspada Trik Kotor Densus Laknatullah.
..................................................................................................................................................................
Seorang nara sumber memberikan kesaksian
seperti ini (semoga kejujurannya terjaga dan jika memang dia
benar-benar menyampaikan kebenaran semoga Allah selalu melindungi dan
memberikan keistiqomahan kepadanya):
“Kemarin saya didatangi oleh kerabat
saya yang adalah seorang intel Densus 88. Dia datang untuk
memperingatkan saya agar tidak terpengaruh apabila ada hasutan
sekelompok orang untuk berjihad di indonesia. Kerabat saya itu mendengar
dari sepupu saya bahwa saya sering memposting berita-berita jihad luar
negeri di akun-akun saya lalu dia datang untuk memperingatkan saya agar
berhati-hati apabila ada ajakan dari teman atau bahkan sekelompok orang
yang mengaku akan berjihad di negeri Indonesia ini.
Saya baru tahu bahwa Densus 88 mempunyai
cara licik untuk melanggengkan namanya. Singkat saja, kerabat saya itu
menjelaskan cara-cara Densus membuat orang menjadi tersangka teroris,
yakni lebih kurang sebagai berikut:
- Densus 88 memiliki intel di jejaring sosial dengan membuat akun-akun khusus yang diberi pekerjaan untuk mencari dan memantau akun yang berjiwa mujahid, terlebih yang mempunyai cita-cita mati syahid dan sering memposting berita-berita jihad.
- Setelah target ditemukan, maka akun intel Densus 88 yang menyamar sebagai mujahid tersebut akan mengirimkan pertemanan. Setelah dikonfirmasi, maka mereka akan memulai bertanya-tanya di mana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakan syariat di Indonesia. Kalau trik awal semua berjalan lancar, maka intel tadi mengajak ikhwan tadi untuk melakukan pertemuan rahasia.
- Bagi mereka yang pada akunnya telah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai perindu syahid.
- Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban Densus 88 ini akan langsung diberi latihan militer atau langsung dipersenjatai.
- Setelah itu, calon korban ini dicarikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi Densus 88 untuk menyerbu (kita semua telah tahu bahwa rata-rata penyergapan “teroris” adalah di rumah kontrakan bukan?)
- Setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang isinya belum komplit akan mereka antarkan ke kontrakan. Biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa bahan-bahan itu akan dijadikan bom rakitan untuk mengajari calon korban ini merakit bom (namun bagi Densus 88, bahan-bahan ini nantinya akan mereka jadikan sebagai barang bukti untuk memojokkan ikhwan-ikhwan yang mereka jebak).
- Perlu diketahui bahwa para calon korban ini diberi senjata dengan peluru yang terbatas agar saat dilakukan penyergapan dan mereka melakukan perlawanan tidak akan sanggup terlalu lama bertahan karena peluru keburu habis sehingga saat mereka telah kehabisan peluru maka Densus 88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan (basi seperti biasa dilakukan terhadap tersangka kejahatan kriminal) bahwa tersangka melakukan perlawanan saat akan ditangkap. Korban ditembak mati dan habis perkara, tidak akan ada lagi pertanyaan dan pembelaan. Paling banter hanya sedikit protes dari Komnas HAM yang biasanya juga tidak lama kemudian sudah lenyap ditelan angin.
- Setelah semua siap, maka akan terjadilah DRAMA PENGGEREBEKAN “TERORIS” dan akan disiarkan biasanya secara LIVE di TV ONE yang sudah diberitahu sebelumnya (Anda masih ingat bukan drama lucu seperti ini yang pernah terjadi di Temanggung dan disiarkan secara langsung berjam-jam oleh tv tersebut? Inilah salah satu bukti kebenaran info ini. InsyaAllah.)
- Saat penggerebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata. Itu dikarenakan sang calon korban ini sudah didoktrin untuk membenci Pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama Densus 88 sehingga saat mereka tahu bahwa datang Densus 88 ke kontrakan mereka untuk menyerang, para korban ini sangat bersemangat karena mereka berpikir bahwa mati di tangan Densus 88 adalah mati syahid. Sambil menyelam minum air, karena para calon korban ini juga diajari untuk menjadi pendiam dan bersikap eksklusif di lingkungan tempat tinggal mereka sehingga otomatis setiap terjadi penyergapan maka kesaksian masyarakat sekitar akan seragam yakni bahwa para “teroris” ini sangat eksklusif tidak mau bergaul dengan tetangga dan sebagainya. Keuntungan bagi Densus, ke depannya akan semakin meringankan tugas mereka karena dengan sendirinya masyarakat akan sudah bisa “menjaga” sendiri lingkungan mereka dari masuknya pria-pria berjenggot bercelana cingkrang dan wanita-wanita bercadar ke dalam lingkungan mereka. Pemberangusan Islam kaaffah oleh masyarakat Islam sendiri. Sangat licik tetapi nampak sangat cantik.
- Perlu diketahui bahwa yang direkrut oleh para intel ini adalah anak-anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita-cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah dikelabui untuk menjadi tumbal Densus 88 yang ingin tetap eksis dan mendapatkan gelontoran dana yang semakin besar dari tuan-tuan mereka yang mereka jilati telapak kakinya. Selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di Indonesia.
- Anggota atau pasukan Densus 88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu mengenai skenario tersebut karena demi menjaga kerahasiaan operasi ini mereka juga dibodohi oleh kesatuannya sendiri. Mereka hanya tahu bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris/ jaringan Al Qaeda.
- Si korban akan langsung ditembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti apapun bahwa dia telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya. Adapun yang masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar bahwa yang merekrut mereka ini adalah intelejen Densus 88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka memang mujahid (baca: mujahid buatan Densus)
Saya dibuat tidak mampu berkata-kata
lagi setelah mendengar penjelasan yang dibeberkan oleh kerabat saya itu
karena memang begitu banyaknya kesamaan modus operasinya dengan aksi
penyergapan “teroris” yang sering dilakukan Densus laknatullah selama
ini.
...................................................................................................................................................................
Ummu Azzam AbdurRahman
(Di salah satu sudut sunyi di Bumi Allah, 16 Oktober 2013)

0 komentar:
Posting Komentar