Oleh: Abu Husna
Hari
ini (Jum’at: 26/4/2013) publik dikagetkan dengan wafatnya seorang Ustadz muda
yang sangat terkenal, yakni Ustadz Jefri Al Buchori yang akrab dikenal UJE.
Dari keterangan Kasat Lantas Polresto Jakarta Selatan, AKBP Hindarso
mengatakan, beliau meninggal pada pukul 01.00 WIB. Dai muda yang akrab disapa
Uje itu meninggal dalam kecelakaan tunggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta
Selatan, tepatnya di Jalan Gedong Hijau, saat mengendarai sepeda motor.
Dilansir laman Wikipedia,
saat ini, jenazah Uje sudah dibawa ke rumah duka di Perum Bukit
Mas, Jalan Narmada III, Rempoa, Bintaro, Tangerang Selatan. Rencananya
dimakamkan setelah shalat Jum’at. (www.republika.co.id).
Kabar
wafatnya Ustaz Jefri Al Buchori alias Uje mengagetkan umat Islam di seluruh
Indonesia, tak terkecuali bagi Ustaz Felix Siauw. ''Rasanya nggak percaya ya
Uje sudah meninggal? Kita juga sama nanti, karenanya jangan menunggu siap untuk
beramal salih,'' ujar dai dan juga penulis terkemuka itu dalam akun Twitter-nya
@felixsiauw. ''Semoga Allah merahmati
dan memberinya kebaikan di akhirat,'' tuturnya. Menurut Ustaz Felix, Uje bisa
menjadi contoh. ''Uje dulunya pecandu, lalu beliau bertaubat. Alhamdulillah
wafat dikenal sebagai dai. Beliau menjadi contoh yang baik bagi kita semua.''
(www.republika.co.id).
Salah
Persepsi Tentang Sebab Kematian
Banyak
orang yang menyangka bahwa penyebab kematian itu bermacam-macam. Kadang-kadang
suatu kematian didahului oleh suatu penyakit yang mematikan seperti AIDS,
leuchemia, penyakit sampar atau kerana tertusuk pisau, tertembak, terbakar api,
terpenggal kepalanya, serangan jantung (stroke) dan
sebagainya. Mereka mengatakan bahwa semua itu adalah sebab-sebab
yang secara langsung menyebabkan datangnya kematian. Artinya,
kematian itu datang kerana sebab-sebab tersebut. Berdasarkan
kenyataan seperti itu terkenal di kalangan mereka sebuah pepatah: “Banyak sebab
untuk mati tapi hasilnya satu, yaitu mati”.
Pada
hakekatnya kematian dan sebab kematian adalah satu, yaitu sampainya ajal, tidak
ada sebab yang lainnya. Bebagai contoh di atas yang seringkali terjadi
dan dapat menghantarkan kepada kematian hanya merupakan suatu kondisi yang
menghantarkan kepada kematian, dan bukan sebab-sebab kematian itu sendiri.
Sebagaimana
diketahui, suatu sebab akan menghasilkan musabab atau akibat secara pasti; dan
satu musabab tidak akan terjadi melainkan dengan hanya satu sebab bagi musabab
sendiri. Berlainan dengan keadaan/kondisi, ia merupakan suatu
kondisi yang berkaitan dengan hal ikhwal tertentu (pembunuhan, hukuman mati,
penyakit yang mematikan dan sebagainya) yang dapat menghasilkan sesuatu
berdasarkan kebiasaan. Tetapi keadaan/kondisi kadang-kadang
menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan atau bahkan tidak
menghasilkan sesuatu apapun. Kadang-kadang ditemukan adanya keadaan
(yang mematikan) tetapi kematian tidak terjadi, dan terkadang ditemukan
kematian tanpa didahului oleh suatu keadaanpun.
Memang
banyak hal/kasus yang dapat menghantarkan kepada kematian. Tetapi hubungan
keduanya itu tidak bisa dijadikan sebagai postulat kausalitas,
kerana kadang-kadang ‘kasus/peristiwa’ berbahaya itu terjadi tetapi
tidak mengakibatkan kematian. Dan sebaliknya, kematian bisa datang
tanpa didahului oleh suatu peristiwa/kasus semacam itu. Sebagai
contoh orang yang tertusuk pisau dan menderita luka parah sehingga –menurut
analisa medis– seharusnya ia mati, tetapi ternyata ia tidak mati,
bahkan kemudian sembuh dan sehat wal afiat. Begitu juga
kadang-kadang terjadi kematian tanpa sebab yang jelas, yaitu di luar
perhitungan medis, seperti serangan jantung yang membawa kematian seseorang
secara mendadak.
Sebab
Kematian adalah Datangnya Ajal
Kejadian-kejadian
di atas tadi banyak ditemui dan diketahui oleh para dokter, ribuan kasus yang
diterima oleh rumah sakit-rumah sakit, suatu sebab yang biasanya secara pasti
dan lazim dapat menghantarkan kematian pada seseorang ternyata orang tersebut
tidak mati, sebaliknya malah kematian itu bisa datang secara tiba-tiba tanpa
diketahui sebab-sebabnya. Berdasarkan hal ini para dokter umumnya
menggambarkan keadaan pasien yang “hidup segan mati tak mau” sebagai: seseorang
(yang menderita penyakit mematikan) yang menurut ilmu kedokteran tidak memiliki
harapan (hidup) lagi tetapi memiliki kemungkinan sembuh, namun hal ini berada
di luar pengetahuan kita. Begitu pula pendapat mereka terhadap
seseorang yang keadaannya tidak membahayakan atau dalam keadaan sehat, namun
secara tiba-tiba keadaannya bertambah parah.
Semua
itu adalah fakta kehidupan yang telah disaksikan oleh manusia maupun ahli-ahli
kedokteran dengan mata kepalanya sendiri. Hal ini dengan jelas
menunjukkan bahwa sesuatu peristiwa yang dapat mengakibatkan kematian bukan
merupakan sebab kematian. Andaikan hal itu dianggap sebagai sebab,
tentu akan menghasilkan kematian secara pasti. Dan kematian tidak
dapat terjadi dengan kasus yang lain, oleh kerana tidak dapat menghasilkan
kematian secara pasti, meskipun dalam satu kasus saja dan kematian bisa datang
kerana berbagai macam cara, walaupun dalam satu kasus/peristiwa saja, maka hal
ini menunjukkan secara pasti bahwa hal itu bukan sebab melainkan “kondisi”
saja. Sedangkan sebab kematian yang sebenarnya yang menghasilkan
musabab adalah sesuatu hal yang lain bukan seperti yang dijelaskan dalam
“kasus/kondisi” diatas. Adapun sebab kematian yang sebenarnya, hal
itu berada di luar kemampuan akal untuk mengetahuinya kerana berada di luar
jangkauan indera manusia. Maka manusia harus mencari petunjuk dari Allah SWT
tentang masalah ini. Hendaknya hal ini dapat dibuktikan dengan dalil
yang qath’i baik dalalahnya maupun sumbernya. Allah SWT melalui
beberapa ayat dalam Al Qur’an telah memberitakan kepada kita bahwa sebab dari
kematian adalah sampainya ajal, dan bahwasanya (Dzat) yang mematikan adalah
Allah SWT. Kematian hanya datang kerana ajal dan hanya Allahlah yang
mematikan. Sebagaimana firman Allah:
“Sesuatu
yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai
ketetapan yang tertentu waktunya” (QS
Al-Imran: 145).
“Allah
memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang)
jiwa (orang) yang belum mati ketika tidurnya maka Dia tahanlah
jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia
lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
kaum yang berfikir” (QS. Az-Zumar: 42).
“…
Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan” (QS
Al-Baqarah: 258).
“Dimana
saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu
berada di dalam benteng yang kokoh” (QS
An-Nisaa’: 78).
“Katakanlah,
sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya
kematian itu akan menemui kamu” (QS
Al-Jumuah: 8).
“Maka
jika telah datang batas waktunya (ajal), mereka tak
dapat mengundurkannya barang sedetikpun dan tidak dapat
memajukannya” (QS Al-A’raf: 34)
Semua
ayat-ayat tersebut di atas dan banyak lagi ayat lainnya adalah qath’i
tsubut yaitu bersumber pasti dari Allah dan qath’i dilalah yaitu
bahwasanya Allahlah yang mematikan (makhluq). Dan sesungguhnya sebab
datangnya kematian adalah sampainya ajal bukan berupa “keadaan/kondisi” yang
dapat menghantarkan pada kematian.
Oleh
kerana itu, seorang muslim wajib beriman berdasarkan akal dan syara’ bahwa apa
yang disangkanya sebagai sebab kematian hanya merupakan “keadaan” bukan berupa
sebab, dan bahwa sebab itu suatu hal yang berbeda. Juga syara’ telah
menetapkan melalui dalil yang qath’i bahwasanya kematian itu berada di tangan
Allah. Dan Allah SWT adalah Dzat yang berhak mematikan dan sebab
kematian adalah datangnya ajal. Apabila ajal datang, maka kematian
tidak dapat diundurkan ataupun dimajukan walaupun sedetik, dan manusia tidak
akan mampu menghindarinya atau lari dari kematian secara mutlak. Dan
mati pasti akan menjemputnya.
Adapun
yang diperintahkan kepada manusia adalah agar bersikap waspada dan menjauhkan
dirinya dari “keadaan/kondisi” yang biasanya dapat menghantarkan pada kematian,
yaitu dengan cara menjauhkan/ menghindari dari suatu keadaan/kondisi yang
biasanya mengakibatkan kematian. Adapun mati maka manusia tidak
perlu takut atau lari dari kematian. Sebab tidak mungkin ia mampu
menghindarinya secara mutlak.
Manusia
tidak akan mati kecuali jika telah sampai padanya ajal. Tak ada
bedanya apakah ia mati biasa, terbunuh, terbakar, atau yang
lainnya. Yang jelas, kematian dan ajal berada di tangan Allah SWT.
[]
Referensi:
Disarikan
dari Kitab Al-Fikr Al-Islami, Karya M. Muhammad Ismail, pada bab La
Yahshul al-Maut Illa Bi Intiha al-Ajl.
Kitab
yang berharga ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Bunga
Rampai Pemikiran Islam oleh GIP, atau Refresing Pemikiran Islam oleh
Al-Izzah Press.


0 komentar:
Posting Komentar