
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulawesi Tengah menilai proyek Donggi-Senoro lebih menguntungkan asing. Setidaknya itu bisa dilihat dari komposisi kepemilikan saham.
Demikian dikatakan,Manajer Riset dan Kampanye Jatam Sulteng, Andika, dalam siaran persnya yang dikirimkan via surat elektronik, di Jakarta, Jumat (9/11).
Menurut Andika, kepemilikan saham di PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), lebih mencerminkan penguasaan asing ketimbang dalam negeri.
"Komposisi kepemilikan saham di DSLNG yang didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA)," kata Andika.
Lihat saja, kata dia, pengusaan saham mayoritas sektor hilir dimiliki oleh Mitsubhisi sebesar 75 persen. Lalu, penguasaan Korea Gas sebesar 25 persen melalui Sulawesi LNG Development Ltd.
"Sedangkan 59,9 5 persen saham hilir berbagi dengan Medco Energy sebesar 11,1 persen dan Pertamina Hulu Energi sebesar 29 persen,” kata dia.
Andika juga berpandangan Proyek Gas Donggi Senoro LNG telah menghianati pasal 33 UUD 1945. Karena proyek itu bukanlah untuk kepentingan energi nasional.
"Tapi murni dijadikan sebagai barang dagangan (real commodities) lintas negara,” tegasnya.
Karena, kata Andika, gas alam cair yang diproduksi oleh PT DSLNG lebih digunakan untuk memasok kebutuhan energi Jepang melalui perusahaan Chubu. Perusahaan Chibu itulah yang akan membeli 1 juta ton LNG per tahun dari Donggi Senoro mulai 2014 sampai 2027.
"Sedangkan sisanya akan dibeli oleh perusahaan Korean Gas Corp sebanyak 700.000 ton per tahun dan Kyushu Electric Power Co sebanyak 300.000 ton. Lalu Indonesia dapat apa," katanya.() itoday.co.id

0 komentar:
Posting Komentar