
Dunia pendidikan Indonesia sedang dipojokkan oleh masyarakat karena tidak mampu mengubah peserta didik menjadi baik, kata Wakil Menteri Pendidikan bidang Pendidikan, Musliar Kasim.
"Seluruh pendidik dianggap tidak mampu membuat peserta didik menjadi anak baik, cerdas dan berkarakter, kata Wamendikbud terkait adanya korban akibat tawuran siswa di Jakarta beberapa waktu lalu di hadapan para guru saat membuka pelatihan untuk pelatih karakter bangsa kepada 100 guru di Jakarta, Rabu (10/10).
Padahal menurut Musliar Kasim seseorang anak menjadi tidak baik jangan hanya sekolah yang diprotes. "Berapa lamanya anak berada di sekolah. Tidak lebih dari 25 persen waktu anak di sekolah, katanya.
Oleh karena itu merupakan tugas berat para guru dalam mendidik dan membangun karakter siswa. Sementara untuk membangun karakter bangsa seyogyanya hal itu bukan tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saja namun membutuhkan keterlibatan pihak lain juga, katanya.
"Kemdikbud sudah mulai mengenalkan pendidikan karakter sejak 2010. Saat itu sudah dirumuskan tentang nilai atau karakter yang baik yang harus dimiliki anak Indonesia. Ada 18 nilai karakter yang diterapkan dari siswa SD sampai perguruan tinggi. Tetapi yang penting di antaranya disiplin, kerja keras, tanggung jawab, rajin dan cinta negara," kata Musliar Kasim.
Permasalahannya bagaimana para guru menyampaikan hal itu agar pendidikan karakter menjadi bagian dari kehidupan anak Indonesia, sehingga guru harus menjadi model yang baik bagi siswanya. Dan kepala sekolah sebagai orang yang mewujudkan model yang baik itu. "Guru menjadi faktor utama keberhasilan anak memiliki karakter bangsa yang baik".() mediaindonesia.com

0 komentar:
Posting Komentar