Media nasional China mengkritik AS karena dianggap "membuat keributan" di Laut China Selatan, dua hari setelah Beijing memanggil seorang diplomat AS terkait isu tersebut.
Sebah surat kabar Chian bahkan meminta AS untuk tutup mulut menyangkut masalah itu, sedangkan yang lain mengatakan AS layak mendapat kutukan.
Respon itu datang setelah Kementerian Luar Negeri AS mengatakan mereka memantau dari dekat meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.
AS juga menyampaikan kekhawatiran akan langkah China untuk memiliterisasi pulau sengketa tersebut.
"China meningkatkan level administratif akan Kota Sansha dan mengirim garnisun militer baru ke area yang disengketakan berlawanan dengan upaya diplomatik kolaborasi untuk menyelesaikan perbedaan dan meningkatkan ketegangan di wilayah itu," kata juru bicara Kemenlu AS Patrick Ventrell dalam pernyataan, pekan lalu.
Kota Sansha terletak di Pulau Woody di kepulauan Paracel, yang dikendalikan China sejak pertempuran 1974 dengan Vietnam. Taiwan juga mengklaim kepulauan itu, yang populasinya hanya ribuan orang dan sebagian besar adalah nelayan.
Juni lalu, kota itu dinyatakan sebagai basis administratif China untuk seluruh wilayah Laut China Selatan, termasuk teritori Kepulauan Spratly dan Scarborough Shoal.
Beijing memanggil Wakil Dubes AS Robert Wang, Sabtu lalu, untuk menyatakan ketidakpuasan besar terhadap pernyataan AS.
Dan hari ini sebuah komentar di edisi luar negeri People's Daily, media yang menjadi corong Partai Komunis, membawa nada yang sangat tajam pada AS.
"Pernyataan AS membingungkan semua pihak, membuat publik salah paham, mengirim sinyal yang salah dan harus dikritik," kata komentar tersebut. "Kita dapat berteriak bersama-sama kepada AS: Tutup mulut."
China Daily, dalam editorialnya juga menuduh AS sebagai Si Pembuat Keributan.
"Jika Gedung Putih tertarik untuk memperbaiki perdamaian di Laut China Selatan, mereka harus meminta para pembuat keributan agar tidak berulah. Kebenarannya adalah, AS telah menghasut negara-negara lain yang terlibat konflik dan mempersenjatai mereka, pada saat yang sama menyalahkan China karena langkah-langkah defensif."
China mengklaim wilayah Laut China Selatan tersebut, yang juga diklaim oleh Filipina, Vietnam, Taiwan, Brunei, dan Malaysia.
Konflik kepemilikan itu dipicu dugaan adanya cadangan minyak dan gas dalam jumlah besar di wilayah tersebut.
Tahun lalu hubungan antara Beijing dan Manila serta Hanoi rusak akibat konflik Laut China Selatan.
Bulan lalu, ASEAN untuk pertama kalinya gagal melahirkan pernyataan bersama terkait masalah itu. (BBC/OL-3) mediaindonesia.com

0 komentar:
Posting Komentar