![]() |
| Syeikh Yusuf An Nabhaniy |
Oleh: Abdurahman Al Khoddamiy*
Dari sekian upaya untuk menjauhkan
para pengemban dakwah Khilafah dari umat ialah dengan cara mendiskreditkan
posisi keilmuannya. Bentuk pendiskreditan tersebut diantaranya berupa
mengopinikan ketidakjelasan sanad para pengemban dakwah dalam membina
pemikirannnya. Memang benar, kebiasaan para ulama dalam melestarikan sanad
sangatlah penting,
yang dimaksudkan untuk menjaga posisinya sebagai pewaris ilmu para Nabi. Hanya saja, jika pengopinian tersebut ditujukan
untuk menjauhkan umat dari Khilafah Islamiyyah, maka termasuk kejahatan yang
tidak ringan. Apalagi jika sekedar menyebutkan sanad yang bersifat formalitas,
tanpa memperhatikan kualitasnya. Bahkan, dengan mengatasnamakan para ulama, tak
jarang diopinikan adanya ketidakwajiban memperjuangkan tegaknya Khilafah.
Padahal, para ulama yang menjadi sandaran bagi silsilah para syaikh mereka
justru begitu gamblang dalam menjelaskan Khilafah.
![]() |
| Syeikh Taqiyuddin An Anbhaniy |
Sebagai contoh, sanad akidah bagi Syaikh al-Hajj Hasyim
Asy’ari melalui Syaikh Muhammad Mahfuzh ibn Abdullah at-Tirmasi dari Syaikh Ibn
Zaini Dahlan, disebutkan nama Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Imam ‘Adhuddin al-Ijji,
Imam Muhammad ibn Umar Fakhruddin ar-Razi, Imam Abdul Karim asy-Syahrastani,
Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazzali, Imam al-Haramain Abdul Malik al-Juwaini,
Imam Abu Bakar al-Baqillani, dan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Adapun dalam
sanad fiqih beliau disebutkan nama Imam Muhammad ibn Ahmad ar-Ramli, Imam
Muhammad ibn Ahmad al-Khathib asy-Syarbini, Imam Ibn Hajar al-Haitami, Imam
Zakariya al-Anshari, dan Imam Abu Zakariya Yahya an-Nawawi. Sangat
mudah menemukan kejelasan wajibnya mendirikan Khilafah dalam maqalah para ulama
tersebut.
Diantaranya,
sebagaimana qaul Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari
dalam Maqâlât al-Islâmiyyîn:
واختلفوا في وجوب الإمامة: فقال الناس
كلهم إلا الأصم: لا بد من إمام وقال الأصم: لو تكاف الناس عن التظالم لاستغنوا عن الإمام
“Kaum muslimin
berbeda pendapat dalam wajibnya Imamah. Mereka semua berkata selain Imam
al-‘Asham: Tidak boleh tidak (harus), adanya seorang imam (pemimpin). Sedangkan Imam al-‘Asham berpendapat: Seandainya kaum muslimin dapat menghilangkan kezaliman (secara mandiri),
maka mereka tidak memerlukan seorang Imam.”
Dan qaul murajjih mu’tamad bagi Syafi’iyyah, al-Imam Abu
Zakariya an-Nawawi ad-Dimasyqi dalam Syarh Shahîh Muslim:
وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِب عَلَى الْمُسْلِمِينَ
نَصْب خَلِيفَة وَوُجُوبه بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ وَأَمَّا مَا حُكِيَ عَنْ
الْأَصَمّ أَنَّهُ قَالَ : لَا يَجِب وَعَنْ غَيْره أَنَّهُ يَجِب بِالْعَقْلِ لَا
بِالشَّرْعِ فَبَاطِلَانِ
“Dan mereka (para ulama kaum muslimin) telah sepakat bahwasanya
wajib bagi kaum muslimin mengangkat seorang khalifah. Kewajiban ini berdasarkan
syara’ bukan akal. Adapun yang diriwayatkan dari al-’Ashamm bahwasanya dia
mengatakan: tidak wajib, atau dari selainnya, yang mengatakan wajib berdasarkan
akal, bukan syara’, maka dua pandangan itu adalah salah.”
Namun, argumentasi penolakan masih
dilontarkan dengan menyatakan bahwa para pengemban dakwah salah memahami
maqalah para ulama terkait Khilafah, dan hal tersebut dikarenakan keterputusan
sanad dengan para ulama. Demikianlah, upaya-upaya yang dilakukan sebagian pihak
dalam menyebarkan keragu-raguan ditengah-tengah perjuangan umat yang semakin
menguat, baik kuantitas maupun kualitasnya.
Alhamdulillah, dalam situasi
tersebut, apa yang dibawa oleh ‘Allamah asy-Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani tidaklah
terpengaruh walaupun sedikit. Bukan saja, karena didirikan para ulama al-Azhar,
yakni Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Syaikh Abdul Qadim Zallum, dan Syaikh
Ahmad ad-Da’ur (ketiganya mendapatkan asy-Syahâdah al-‘Âlimiyyah, gelar setingkat doktoral), namun juga
pemikiran-pemikirannya diambil faidahnya oleh para ulama di berbagai negeri,
semisal Syaikh Fathi Salim, Syaikh Muhammad Hawari, Syaikh Hafiz Shalih,
asy-Syaikh ‘Alim al-Ushul wa at-Tafsir Abu Rusytah ‘Atha` ibn Khalil, Syaikh
Yusuf as-Sabatin, Syaikh Hisyam al-Badrani, Syaikh Abdul Aziz al-Badri, Syaikh
Ghanim ‘Abduh, Syaikh Dawud Hamdan, Syaikh As’ad Bayudh at-Tamimi, Syaikh
Muhammad as-Suwaiki, Syaikh Ziyad Ghazzal, Syaikh Muhammad Rowwas Qal’ah Ji,
Syaikh Muhammad Khair Haikal, Syaikh Mahmud al-Khalidi, Syaikh Samih ‘Athif
Zain, dan Syaikh Muhammad Baqir Shadir, termasuk di Indonesia, diantaranya
ialah Syaikh Rahmat Labib, Syaikh Hafidz Abdurrahman, Syaikh Muhammad Shiddiq
al-Jawi, Syaikh Mushthafa Ali Murtadha, dan Syaikh Syamsuddin Ramadhan an-Nawi.
Hanya saja, hal penting yang perlu diketahui ialah Syaikh
Taqiyyuddin an-Nabhani bukan sekedar lulusan al-Azhar asy-Syarif, namun juga
merupakan bagian dari keluarga besar yang dibesarkan dalam suasana ketakwaan
dan keilmuan. Beliau mendapat sanad awal dari ayahanda beliau, Syaikh Ibrahim
ibn Mushthafa ibn Isma’il an-Nabhani (seorang pengajar madrasah di Palestina)
dan ibunda beliau yang belajar kepada ayahnya, Syaikh al-Qadhi Yusuf ibn
Isma’il an-Nabhani, serta belajar langsung kepada sang kakek dari pihak ibu
tersebut. Bahkan dalam sisi nasab, kedua orang tua beliau merupakan sepupu dan
bermuara pada seorang penghafal al-Quran yang terbiasa mengkhatamkan al-Quran 3
(tiga) kali dalam seminggu, yakni Syaikh Isma’il ibn Yusuf ibn Hasan
an-Nabhani, yang membimbing Syaikh Yusuf dalam menghafal al-Quran. Selain itu,
atas petunjuk Syaikh Yusuf, beliau mengikuti halqah Syaikhul Azhar Muhammad
Husain al-Khudari Baik, saat menempuh studi di al-Azhar asy-Syarif dan Kulliyah
Darul Ulum. Saat sang kakek, wafat pada tahun 1933 M, beliau telah berumur 23
atau 24 tahun, bahkan gelar setingkat doktoralnya diraih pada tahun 1932 M,
setahun sebelum sang kakek wafat.
Tentu
saja, keraguan keterputusan sanad masih dapat dilontarkan kecuali jika dapat
dibuktikan adanya keterkaitan pemikiran antara sang guru dengan muridnya, yakni
Syaikh Yusuf dan Syaikh Taqiyyuddin. Dengan memahami situasi politik dan
pemikiran pada masa Syaikh Yusuf, setidaknya dapat ditemukan bukti tersebut
melalui 3 (tiga) karya beliau, yakni al-Ahâdîts
al-Arba’în fî Wujûb Thâ’ah Amîr al-Mu'minîn, yang didalamnya dilampirkan Khulâshah al-Bayân fî
Ba’dhi Ma`âtsir Maulanâ ash-Sulthân ‘Abdil Hamîd ats-Tsânî wa Ajdâdihî Âli
‘Utsmân terkait perkara Khilafah dan problematika umat, ar-Ra’iyyah
ash-Shughrâ fî Dzamm al-Bid’ah wa Ahlihâ wa Madhi as-Sunnah al-Gharrâ` terkait kritik
terhadap kelompok Jamaluddin al-Afghani, dan al-Fadhâ`il al-Muhammadiyyah ‘ala Jamî’ al-Bariyyah terkait makna utuh meneladani
Rasulullah Saw.. Dari ketiga karya
tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang muslim yang mengaku meneladani Baginda
Rasulullah Saw. wajib terikat dengan Islam baik dalam aspek pemikiran maupun
politik.
Kitab yang pertama terbit pada tahun 1312 H/1895 M,
menjelaskan fadhilah ketaatan kepada seorang khalifah dalam berbagai kondisi
selama bukan maksiyat dengan menyebutkan 40-an hadits dan sebagian
penjelasannya, yang berkaitan dengan hal tersebut. Adapun yang dimaksud
khalifah oleh Syaikh Yusuf adalah Sultan Abdul Hamid II. Berikut ini qaul beliau:
وقد اجملت فيها البيان عن بعض فضائل آل عثمان سلاطين
الاسلام والمسلمين وحماة الدنيا والدين وخصصت من بينهم وارث ملكهم ودرة سلكهم مجدد
دولتهم العلية ومحدد شوكتها القوية خليفة الله في ارضه ونائب رسول الله في امته
حضرة سيدنا ومولانا السلطان الاعظم امير المؤمنين السلطان الغازي عبد الحميد ابن
السلطان الغازي عبد المجيد ابن السلطان الغازي محمود اطال الله عمره وادام فخره
واضعف اعداءه وضاعف نصره وابقاه للملة الاسلامية حصنها الحصين وللدولة العلية
ركنها المتين امين
“Dan telah saya kumpulkan secara global yang
didalamnya terdapat penjelasan mengenai sebagian keutamaan keluarga Utsman,
para penguasa Islam dan kaum muslimin, para penjaga dunia dan agama, dan saya
khususkan diantara mereka, sang pewaris kekuasaan mereka, yang meniti jalan
mereka, yang memperbarui negara mereka yang agung, yang menjaga kekuatannya,
Khalifah Allah di bumi-Nya, pengganti Rasulullah di tengah-tengah umatnya,
Hadhrah Sayyidana wa Maulana, Sultan yang Agung, Amirul Mukminin, Sultan
al-Ghazi Abdul Hamid ibn Sultan al-Ghazi Abdul Majid ibn Sultan al-Ghazi
Mahmud, semoga Allah memanjangkan umurnya, melanggengkan kemuliaannya,
melemahkan musuh-musuhnya, melipatgandakan pertolongan baginya, dan menetapkan
kedudukannya bagi Millah Islam sebagai benteng penjaga dan bagi negara yang
agung sebagai pilarnya yang kokoh. Amin.”
Beliau mengemukan 4 alasan pembelaan terhadap Sultan
Abdul Hamid II:
1. Sebagai penguasa tunggal bagi ahli pemeluk tauhid (ash-Sulthân
al-Wahîd li Ahl at-Tauhîd), padahal di masa itu banyak para penguasa muslim
yang memerintah negeri Islam selain Utsmaniyyah, termasuk para penguasa Iran
dan Wahhabiyyah di Nejd dan Hijaz.
2. Pelayanan khalifah terhadap masyarakat, terutama
terhadap keturunan Rasulullah saw., para ulama, kaum sufi, dan kalangan fuqara.
3. Upaya khalifah dalam berjihad di jalan Allah dengan
mengutip Q.S. al-Anfal: 60 (dalam kitabnya yang lain, beliau secara khusus
menulis al-Ahâdîts al-Arba’în fî Fadhl al-Jihâd wa al-Mujâhidîn, dalam rangka mendorong kaum muslimin dalam
menentang penjajahan Rusia, Inggris, dan Perancis).
4. Nasab
khalifah yang merupakan keturunan keluarga Utsmaniyyah yang telah berkhidmat
kepada Islam dan kaum muslimin sejak tahun 700-an H, terutama dengan
prestasinya dalam pembebasan Konstantinopel.
Tidak ada bukti yang begitu jelas terkait pembelaan
beliau terhadap eksistensi Khilafah Islamiyyah selain kedudukan beliau sebagai
Qadhi Syar’i di wilayah Utsmaniyyah. Bahkan secara jelas beliau menuliskan
frase “Daulah al-Khilâfah al-Islâmiyyah” dalam karyanya, al-Ahâdîts al-Arba’în fi Fadhl al-Jihâd wa al-Mujâhidîn, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Muhammad Khair Haikal
dalam al-Jihâd wa al-Qitâl fî as-Siyâsah asy-Syar’iyyah. Sungguh,
termasuk gharib jika ada pihak yang mengatakan bahwa Syaikh Yusuf memustahilkan
kembalinya Khilafah dengan mengutip Imam al-Baihaqi, dalam karyanya, Hujjah
Allâh ‘ala al-‘Âlamîn fî Mu’jizât Sayyid al-Mursalîn (terbit tahun 1316
H/1899 M). Bagaimanakah hal tersebut disimpulkan? Bahkan dalam bagian depan
kitab pertama ini, tertulis “Telah dicetak 10.000 eksemplar atas pendanaan sang
penulis supaya disebarkan secara gratis sebagai nasehat bagi umat Muhammad dan
rasa cinta terhadap Negara Agung Utsmaniyyah yang menurut sebagian orang-orang
yang telah mencapai ma’rifat, sesungguhnya tidak ada sebuah negara yang datang
setelah masa Sahabat, lebih baik darinya.” Syaikh Yusuf dalam kitab tersebut, mengemukakan
kegelisahan beliau terhadap kondisi umat Muhammad Saw. dengan mengutip hadits al-Wahn
dalam Sunan Abî Daud:
يُوشِكُ
الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا
“Berbagai umat akan memperebutkan kalian sebagaimana diperebutkanya
makanan dalam wadahnya”
Setidaknya, ada
15 hadits utama dalam kitab ini yang juga tercantum dalam karya-karya Syaikh
Taqiyyuddin an-Nabhani dan para penerusnya, dalam membahas pemerintahan, baik
dalam Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah
Jilid II, ad-Daulah al-Islâmiyyah, Kaifa Hudimat al-Khilâfah, ad-Dimuqrâthiyyah
Nizhâm Kufr, Afkâr Siyâsiyyah, Mitsâq al-Ummah, maupun Muqadimah
ad-Dustûr. Perhatikan penjelasan kedua ulama mulia tersebut terkait hadits:
إنّما الإمام
جُنّة،
قال الشيخ يوسف:
والجُنَّةٌ
الوقاية والْإِمَامُ في جميع الاحاديث الخليفة
وقال الشيخ تقي الدين: وصف للخليفة بأنه جُنة، أي وقاية فوصف الرسول بأن الإمام جنة
هو إخبار فيه مدح لوجود الإمام
“Imam adalah perisai
Syaikh Yusuf berkata: Perisai, yakni penjaga. Imam (pemimpin) yang dimaksud
dalam semua hadits adalah khalifah.
Syaikh Taqiyyuddin berkata: Beliau mensifati khalifah sebagai perisai,
yakni penjaga. Penentuan sifat dari Rasul bahwa Imam (pemimpin) adalah perisai
merupakan berita yang didalamnya terdapat pujian terhadap keberadaan seorang
Imam.”
Selain itu, pembelaan Syaikh Yusuf diperkuat oleh guru
beliau yang lain, yakni Syaikh Muhammad al-Khudhari Baik, semisal Naqdh Kitâb al-Islâm wa Ushûl
al-Hukm sebagai
kirtik terhadap Ali Abdur Raziq dan karya-karya beliau dalam meringkas sirah
dan tarikh sejak masa Rasulullah Saw., Khulafa ar-Rasyidin, Umayyah hingga
Abbasiyyah. Beliau menekankan keunggulan masyarakat dan pemerintahan Islam,
serta berusaha menyajikan sikap yang tepat dalam menemukan kekeliruan penerapan
Islam pada periode-periode tersebut.
Kitab yang kedua merupakan kumpulan syair yang secara khusus mengkritisi
pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha,
serta Muhammad ibn Abdil Wahhab. Pembahasan terpenting dalam karya beliau ini
adalah “Ijtihad Mutlak”. Sebagian penjelasan terkait perkara ini tercantum
dalam Hujjah Allâh ‘ala al-‘Âlamîn dan Syawâhid al-Haq. Syaikh Yusuf
benar-benar menekankan orisinalitas pemikiran Islam dengan mengkritisi secara
keras kelompok pembaharu tersebut, dikarenakan dianggap membawa pemikiran
asing, semisal pragmatisme, liberalisme, dan pluralisme. Berikut ini petikan
syair beliau:
وَأَبدعَ هَذا الشيخُ
لِلناسِ مَذهباً يُوافقُ في تَيسيرِ أَحكامهِ العَصرا
“Syaikh ini berbuat bid’ah
membuat aliran bagi manusia, mengkompromikan penetapan hukum-hukum sesuai
perkembangan zaman.”
جَريءٌ عَلى
الفَتوى بحقٍّ وباطلٍ بِحُكمِ الهَوى والجهلِ ما شاءُه أجرى
“Berlaku ceroboh dalam berfatwa
dengan mencampurkan yang benar dan salah, dengan berhukum sesuai hawa nafsu dan
kebodohan sesuai keinginannya.”
وَمَذهبُهم حكمُ
الدياناتِ واحدٌ تَساوى بهِ الإسلامُ والمللُ الأخرى
“Aliran
mereka adalah menetapkan berbagai agama menjadi satu, menganggap sama antara
Islam dengan agama-agama yang lain.”
Hal tersebut jelas mempengaruhi sang cucu, sehingga belum
ditemukan penjelasan yang lebih baik terkait Ideologi Islam yang memperlihatkan
orisinalitasnya, kecuali bahasan Qiyâdah Fikriyyah fî al-Islâm dalam Nizhâm
al-Islâm, karya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani. Dengan adanya perang
pemikiran tersebut, Syaikh Yusuf terdorong untuk menyusun Hujjah Allâh ‘ala
al-‘Âlamîn yang diakhiri dengan Khulâshah
al-Kalâm fî Tarjîh Dîn al-Islâm. Pemilihan
lafad "bid’ah” dalam judul karyanya ar-Ra’iyyah
ash-Shughrâ fî Dzamm al-Bid’ah wa Ahlihâ, diikuti Syaikh Taqiyyuddin dalam asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid I ketika beliau menjelaskan bid’ah:
أما الذي يعتبر رأياً
فهو الرأي الذي من عند الشخص، ولذلك سماه الرسول - صلى الله عليه وسلم – بدعة
“Adapun yang dimaksud dengan
ra’yu ialah pendapat yang muncul dari seseorang (tanpa dalil). Oleh karena itu,
Rasulullah Saw. menamainya sebagai bid’ah.”
Inilah yang dikritisi secara keras oleh Syaikh Yusuf saat
meniadakan adanya “Ijtihad Mutlak” di masa beliau:
وَأَمّا طريقُ
الدرسِ بالنفسِ والهوى فَكَم أوصَلَت
للسالكينَ بها شَرّا
قَدِ اجتَهدوا
فيها بحُكم نُفوسهم فَنالوا بِها مِنها
الكبائرَ والكِبرا
نَعَم كلُّ قَرنٍ يبعثُ اللَّه فيه من يُجدّدُ أمرَ الدينِ ينصرهُ نَصرا
وَذلكَ إمّا
واحدٌ أو جَماعةٌ بِكثرةِ عِلمٍ أو
بِمَنقبةٍ أخرى
“Dan adapun jalan belajar
dengan bersandar pada diri dan hawa nafsu, maka berapa banyak yang telah sampai
bagi para peniti jalan yang dengannya menjadi buruk.
Mereka berijtihad di dalamnya
dengan hukum menurut dirinya, maka mereka mendapatkan darinya dosa besar dan
kesombongan.
Memang benar di setiap masa
Allah memunculkan di dalamnya seseorang, yang memperbarui urusan agama dengan benar-benar menolongnya.
Hal tersebut dapat dilakukan
oleh satu orang atau kelompok, dengan memperbanyak ilmu atau jalan yang lain.”
Terkait Syaikh
Muhammad Rasyid Ridha yang mewarisi kedua gurunya, Jamaluddin al-Afghani dan
Muhammad Abduh, beliau menegaskan:
فَتاويهِ في
الأحكامِ طوعُ اِختيارهِ تَصرّفَ
كالملاكِ في دينهِ حرّا
فَيحظرُ شَيئاً كان بالأمسِ واجباً وَيوجبُ شَيئاً كانَ في أمسهِ حظرا
“Fatwa-fatwanya dalam hukum
mengikuti pilihannya, berlaku seperti raja dalam agamanya secara bebas.
Maka dia menganggap bahaya
sesuatu yang pada masa lalu merupakan hal yang wajib, dan mewajibkan sesuatu
yang pada masa lalu merupakan bahaya.”
Sikap tersebut diikuti Syaikh Taqiyyuddin dalam asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid I:
أما ما أُلف في هذا العصر وأواخر العصر
الهابط من تفاسير مثل تفسير محمد رشيد رضا، وتفسير طنطاوي جوهري، وتفسير أحمد
مصطفى المراغي وغيرهم، فلا تعد من التفاسير ولا يوثق بها، وذلك لأن فيها جرأة على
دين الله في تفسير كثير من الآيات كتفسير محمد رشيد
رضا لآية { وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ } فإنه أجاز لأهل الهند من المسلمين أخذ القوانين
الإنجليزية والخضوع لأحكام القضاة الإنجليز
“Adapun apa yang disusun di masa ini dan pada akhir masa kemunduran, yakni
berbagai tafsir semisal tafsir Muhammad Rasyid Ridha, tafsir Thanthawi Jauhari,
tafsir al-Maraghi, dan semisal mereka, maka tidak terhitung sebagai bagian dari
kitab-kitab tafsir dan tidak perlu mempercayainya. Hal tersebut dikarenakan di
dalamnya terdapat penyelewengan terhadap agama Allah saat menafsirkan banyak
dari ayat-ayat, semisal penafsiran Muhammad Rasyid Ridha terhadap ayat وَمَنْ
لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ , maka dia
membolehkan penduduk India dari kaum muslimin untuk mengambil undang-undang
Inggris dan tunduk pada hukum peradilan Inggris.”
Demikian pula secara gamblang rekan Syaikh Yusuf sekaligus
guru bagi cucunya, Syaikh Muhammad al-Khudhari Baik melanjutkan upaya pembelaan
terhadap Islam dengan karyanya, al-‘Ilmâniyyah wa Dhalâlah Fashl ad-Dîn ‘an as-Siyâsah. Adapun terkait Syaikh Muhammad
ibn Abdil Wahhab, maka pendapat Syaikh Taqiyyuddin dan para penerusnya
tercantum secara jelas dalam Kaifa Hudimat al-Khilâfah:
وكان
معروفاً أن هذه الحملة الوهابية عمل إنجليزي، لأن آل سعود عملاء للإنجليز، وقد استغلوا
المذهب الوهابي - وهو من المذاهب الإسلامية، وصاحبه الإمام محمد بن عبد الوهاب مجتهد
من المجتهدين - استغلوا هذا المذهب في أعمال سياسية لضرب الدولة الإسلامية، والاصطدام
مع المذاهب الأخرى، لإثارة حروب مذهبية داخل الدولة العثمانية، دون أن يدرك ذلك أتباع
هذا المذهب، ولكن عن إدراك ووعي من الأمير السعودي ومن السعوديين.
“Dan
merupakan hal yang dikenal bahwa serangan Wahhabiyyah merupakan akitvitas
Inggris, karena keluarga Su’ud merupakan antek-antek Inggris. Sungguh, mereka
menyibukkan madzhab Wahhabi, yang merupakan bagian dari madzhab Islam,
pemimpinnya Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab merupakan seorang mujtahid diantara
para mujtahidin, mereka menyibukkan madzhab ini dalam aktvitas politik untuk
menyerang Negara Islam dan berselisih dengan madzhab-madzhab yang lain, agar
menimbulkan perang kemadzhaban di dalam Negara Utsmaniyyah, tanpa disadari para
pengikut madzhab ini, namun dengan pemahaman dan kesadaran Amir Su’udi dan
keluarga Su’ud.”
Kitab yang ketiga menjelaskan makna utuh meneladani Baginda Rasulullah
Saw.. Kitab tersebut membahas tanda-tanda kenabian (Dalâ`il an-Nubuwwah),
kelahiran Rasulullah Saw. (Maulid ar-Rasûl), asy-Syamâ`il
(karakteristik fisik dan akhlak), Sirah Nabawiyyah, keutamaan-keutamaan (al-Fadhâ`il),
dan hal-hal lain yang terkait dengan beliau Saw. serta amaliah yang dituntut
dari umatnya, yakni mengimani Rasulullah Saw., menaatinya, mencintainya,
mengagungkannya, meminta pertolongan melaluinya, dan mengunjunginya (Ziyârah).
Secara ringkas, beliau menyusun argumentasi bahwa Muhammad Saw. benar-benar
utusan Allah Swt. yang memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan semua
makhluk, sehingga selayaknya hamba Allah, terkhusus umatnya, agar mengikuti dan
meneladani beliau Saw.. Kemudian beliau berkata:
ومن طاعته صلى الله عليه وسلم اتباع سننه وامتثال أوامره والإقتداء
بهديه ... وقد ورد عن السلف الصالح من الصحابة رضي الله عنهم والتابعين ومن بعدهم
من اتباعهم سننه صلى الله عليه وسلم واقتدائهم بهديه وسيرته وحثهم على ذلك شيئ
كثير ... وزاد في رواية: ولو كان موسى حيا لما وسعه الا اتباعي
“Dan termasuk
ketaatan kepada Rasulullah Saw. ialah mengikuti sunnah-sunnahnya, melaksanakan
berbagai perintahnya dan berjalan dengan
petunjuknya ... Telah ada dari Salaf ash-Shalih dari kalangan Sahabat ra., para
Tabi’in dan yang setelah mereka, aktivitas mereka dalam mengikuti sunnah-sunnahnya
Saw. dan berjalannya mereka dengan petunjuk dan sirahnya, serta keseungguhan
mereka terhadap hal tersebut, suatu contoh yang banyak ... dan dalam sebuah
riwayat: Seandainya Musa masih hidup tidaklah ada yang perlu dilakukannya
kecuali mengikutiku.”
Namun, berbeda dengan kebiasaan sebagian pihak yang
membatasi pembahasan ini sekedar hal-hal yang terkait dengan beliau Saw. secara
personal, beliau telah menyatakan bahwa memperhatikan urusan kaum muslimin
termasuk bagian dari kecintaan kepada Rasulullah Saw., begitupula menasehati
mereka dan para penguasa yang mengurusi mereka. Pada bagian akhir, barulah
Syaikh Yusuf menjelaskan tentang tawasul dan ziarah, serta menutup kitabnya
dengan doa yang diawali:
اللهم اني اسالك واتوسل اليك باسمك الأعظم وحبيبك الأكرم صلى
الله عليه وسلم ...
Beliau mendoakan kebaikan bagi umat Muhammad, agamanya,
dan penggantinya, yakni sang
khalifah agar diberikan pertolongan, dijaga dari kejahatan para musuh, dan para
pembantu dan rakyat sang khalifah diberikan taufik, kemudian barulah beliau
berdoa untuk diri dan keluarga beliau.
Apa yang
ditempuh Syaikh Yusuf, benar-benar mempengaruhi sang cucu, sebagaimana terlihat
dalam karyanya, Nizhâm al-Islâm:
وتُحْمَلُ الدَعْوَةُ الإِسْلامِيَّةُ اليَوْمَ كَمَا
حُمِلَتْ مِن قَبْلُ، ويُسَارُ بِهَا إقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وسَلَّمَ دُونَ حَيْدِ قَيْدِ شَعْرَةٍ عَنْ تِلْكَ الطَرِيقَةِ في
كُلِّيَاتِهَا وجُزْئِيَّاتِهَا، ودُونَ أَن يُحْسَبَ لإخْتِلافِ العُصُورِ أَيُّ
حِسَابٍ،
“Dan mengemban Dakwah Islam
pada saat ini sebagaimana diemban di masa sebelumnya, dan berjalan dengan
meneladani Rasulullah Saw. tanpa bergesar walau seujung rambut dari metode
tersebut, dalam perkara menyeluruh maupun terperinci, serta tanpa memperhatikan
sama sekali perbedaan zaman.”
Dan dalam ad-Daulah
al-Islâmiyyah:
لأنها الطريقة التي سار عليها رسول الله -صلى الله عليه
وسلم-، وسلوكها سلوكاً صحيحاً يجعل النتائج قطعية لا ريب فيها، والنصر محققاً لا
شك فيه. وهذه الطريقة هي التي يجب أن يسلكها المسلمون اليوم سلوكاً دقيقا، على أن
يكون الاقتداء بالرسول -صلى الله عليه وسلم-دقيقاً، والسير صحيحاً حسب خطواته
“Karena sesungguhnya hal tersebut merupakan metode yang diatasnya
Rasulullah Saw. berjalan dan perjalanannya merupakan kebenaran, menjadikan
hasilnya pasti, dan pertolongan akan diraih, tanpa keraguan didalamnya. Metode
ini merupakan perkara yang wajib bagi kaum muslimin untuk melaluinya saat ini
dengan teliti dalam rangka meneladani Rasul Saw. dengan teliti dan berjalan
dengan benar sesuai yang digariskannya.”
Dengan penelitian yang
seksama, amanah sang kakek jelas terekam dalam karya dan amal Syaikh
Taqiyyuddin an-Nabhani, sebagaimana yang tercantum dalam kedua karyanya
tersebut, melalui aktivitas nyata beliau dalam membina dan berjuang bersama
Hizbut Tahrir dalam menegakkan Khilafah Islamiyyah.
Selain tema-tema dalam ketiga
kitab tersebut, ada hal menarik terkait “aktor utama” yang menghapuskan
Khilafah Utsmaniyyah. Sebagian pihak telah berteori bahwa kaum Yahudi-Zionis
merupakan dalangnya, dengan bukti nasab Mushthafa Kamal at-Taturk yang
merupakan Yahudi Dunama dari Tesalonika. Namun, Syaikh Taqiyyuddin dan para
penerusnya justru menekankan adanya konspirasi kaum Nasrani-Misionaris,
terutama melalui jalur pendidikan. Mereka melakukannya terutama dengan
mendirikan sekolah-sekolah dan pengiriman para pelajar muslim ke negeri-negeri
Barat. Hal tersebut dapat dipelajari dalam ad-Daulah al-Islâmiyyah dan Kaifa Hudimat al-Khilâfah.
Berkaitan dengan perbedaan kedua teori itu, besar kemungkinan Syaikh
Taqiyyuddin melanjutkan amanah sang kakek, sebagaimana tercantum dalam
karyanya, Irsyâd al-Hayârâ fî Tahdzîr al-Muslimîn min Madâris an-Nashârâ.
Perbedaan Syaikh Yusuf dan
Syaikh Taqiyyuddin
Sebagian pihak merasa senang adanya celah perbedaan
diantara an-Nabhanain, kemudian melontarkan berbagai kedustaan dan fitnah
terhadap para pengemban dakwah. Mereka seakan tidak mengetahui, bahwa perbedaan
guru dengan murid bukan berarti meniscayakan kesesatan atau kekufuran. Sebagai
contoh, Imam asy-Syafi’i jelas mengkritisi kedua gurunya, Imam Malik dalam
perkara Ijma Ulama Madinah dan Imam Muhammad terkait Istihsan. Begitupula Imam
Ahmad berbeda pendapat dengan beliau dalam kehujahan pendapat atau ijtihad
sahabat. Jauh sebelumnya, terdapat suasana keilmuan multi-madzhab semisal
terlihat dalam hubungan antara Imam Hasan al-Bashri, Imam Washil ibn ‘Atha` dan
Imam Zaid ibn Ali, serta perselisihan antara Imam Ibn Syihab az-Zuhri dengan
Imam Rabi’ah ar-Ra`y di Madinah dan Imam Ibrahim an-Nakha’i dengan Imam
asy-Sya’bi di Kufah.
Tidaklah aneh jika Imam
al-Haramain menerima 2 (dua) pemikiran yang saling meniadakan, yakni qaul Imam
Ibn Suraij sebagai sanad fiqih beliau dan qaul Imam al-Asy’ari yang kepadanya
ilmu kalam disandarkan, sebagaimana Imam Ibn Shalah menerima kedua sanad, baik
Khurasaniyyun yang berasal dari Imam al-Haramain al-Asy’ari, maupun ‘Iraqiyyun
yang berasal dari Imam Abu Ishaq asy-Syairazi. Demikian pula, apa yang ditempuh
Imam al-Qadhi al-Baqillani, saat menggabungkan Malikiyyah dan Asy’ariyyah.
Bahkan, ketiga Imam Asy’ariyyah awal, yakni Imam al-Asy’ari, Imam al-Haramain, dan
Imam al-Baqillani, berbeda pendapat dalam membahas perbuatan manusia. Demikian
pula dapat ditemukan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menjadi guru Imam
Malik dan Imam Abu Hanifah, sebagaimana silsilah para murid Imam asy-Syafi’i
menjadi para pelopor berbagai aliran, baik Syafi’iyah, Hanabilah, Zhahiriyyah,
Shufiyyah, Ahli Hadits, Mutakallimin, maupun Mufassirin, yang satu sama lain,
memiliki perbedaan-perbedaan dalam masalah tafsir dan hukum.
Setidaknya ada 2 (dua) perbedaan yang penting diantara
an-Nabhanain, pertama, kemungkinan adanya ijtihad pasca mapannya madzhab
yang empat dan kedua, sikap terhadap kaum sufi yang tidak berfilsafat.
Syaikhuna Yusuf, sebagaimana terekam dalam karya-karyanya, semisal Syawâhid al-Haq, mengikuti kalangan
Syafi’iyyah pada umumnya, dalam perkara madzhab beliau mengikuti Imam Ibn
Shalah, yakni membatasi pada madzhab yang empat; sedangkan dalam perkara kaum
sufi beliau mengikuti Imam al-Ghazzali. Adapun Syaikhuna Taqiyyuddin, yang
hidup di masa yang berbeda dengan sang kakek yang masih sempat hidup dalam
naungan Khilafah, justru merasakan pengalaman pahit dengan menyaksikan
hilangnya Khilafah dan Islam dari kehidupan kaum muslimin, sehingga memunculkan
kondisi objektif dalam memahami kedua permasalahan tersebut. Beliau bukan hanya
memungkinkan adanya ijtihad, namun menyatakan hukumnya adalah fardhu kifayah
dan diposisikan sebagai jalan untuk memahami Syariah Islam, sebagaimana beliau
mengkritisi kaum sufi dalam memaknai ruh dan zuhud, serta kurangnya peran
mereka dalam membangun negara dan masyarakat.
Urgensitas kedua sikap beliau
jelas terlihat saat Islam dan Khilafah dilenyapkan dari kehidupan, sebagai
pertahanan dan penyerangan terhadap ide-ide asing, terutama Liberalisme dan
Sekulerisme. Lemahnya ijtihad mendorong terjadinya liberalisasi pemikiran dan
kaum sufi yang minim ilmunya memperkuat sekularisasi, terutama di bidang
politik dan pemerintahan. Terkait ijtihad beliau menjelaskan dalam Mafâhîm
Hizb at-Tahrîr:
لأنّ طريق معرفة الأحكام الشرعية إنّما هو الاجتهاد، فلو
خلا العصر من مجتهد يمكن الاستناد إليه في معرفة الأحكام أفضى ذلك إلى تعطيل الشريعة
واندراس الأحكام وذلك لا يجوز
“Karena metode untuk mengetahui hukum-hukum syariah hanyalah ijtihad. Jika
sebuah masa kosong dari seorang mujtahid yang memungkinkan bersandar kepadannya
dalam mengetahui hukum-hukum, maka hal itu mengantarkan pada lenyapnya syariah
dan hilangnya hukum, sedangkan hal itu tidak diperbolehkan.”
Sedangkan terkait kaum sufi,
dalam ad-Daulah
al-Islâmiyyah disebutkan:
فالتبس ذلك على بعض المسلمين وظنوا هذا التقشف هو الزهد
الذي ورد في بعض الأحاديث، فنشأ عن هذا الفهم فئة الصوفية، وأثر ذلك على فهم معنى
الأخذ من الدنيا أو الإعراض عنها
“Maka hal itu menjadi kabur bagi sebagian
kaum muslimin dan mereka mengira melemahkan diri tersebut merupakan zuhud yang
terdapat pada sebagian hadits. Maka muncullah dari pemahaman ini kelompok sufi,
yang mempengaruhi terhadap plihan sikap mengambil dunia atau menjauh darinya.”
Namun, ungkapan Syaikh Yusuf mengenai ketiadaan para
mujtahid dalam karya-karya beliau, senada dengan apa yang dinyatakan Syaikh
Taqiyyuddin dalam Nizhâm
al-Islâm:
... وكَانَ الناسُ مُجْتَهِدينَ كَمَا هُوَ الحَالُ
في عَصْرِ الصَحَابَةِ والتَابِعِينَ وتَابِعِي التَابِعِينَ، أَمَّا إِذَا كَانَ الناسُ
جَمِيعاً مُقَلِّدِينَ، ولا يُوجَدُ بَيْنَهُمْ مُجْتَهِدُونَ إِلاَّ نَادِرَاً،
... ولذَلِكَ كَانَ لِزَامَاً عَلَى الدَوْلَةِ الإِسْلامِيَّةِ، والحَالُ مِنَ الجَهْلِ
في الإِسْلامِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ الآنَ، ...
“... Keadaan tersebut saat masyarakat pada umumnya termasuk mujtahid
sebagaimana kondisi pada masa Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in. Adapun saat
keadaan masyarakat semuanya merupakan muqallid dan tidak ditemukan diantara
mereka para mujtahid kecuali sedikit ... Oleh karena itu, wajib bagi Negara
Islam saat kondisi kebodohan terhadap Islam seperti kondisi sekarang ....”
Dalam banyak karyanya, Syaikh Taqiyyuddin mengikuti
nasehat sang kakek dalam perkara ijtihad dan taklid, semisal membolehkan taklid
dan madzhab, mengakui pembagian mujtahid (mutlaq, madzhab, fatwa/mas`alah
wahidah), menyatakan hasil ijtihad sebagai hukum syara’ bukan sekedar pendapat
manusia, mempersyaratkan kemampuan bahasa Arab dan pemahaman ilmu-ilmu syariah
dalam berijtihad, serta menjadikan fakta dan sejarah sebagai objek hukum bukan
dianggap sebagai dalil syara’. Perkara-perkara tersebut dapat ditemukan dalam Nizhâm
al-Islâm, Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, dan asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid I dan III. Syaikh Yusuf sendiri tidaklah mencela para
ulama yang menyerukan ijtihad, semisal Imam Ibn Taimiyyah al-Harrani al-Hanbali
dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i.
Lebih daripada itu, terkait maksud
memilih salah satu dari madzhab yang empat, Imam az-Zarkasyi asy-Syafi’i
menjelaskannya dalam al-Bahr al-Muhîth fî Ushûl al-Fiqh:
ونقل الاتفاق فيه عجيب, والمسألة خلافية بيننا وبين الحنابلة,
وساعدهم بعض أئمتنا، والحق أن الفقيه الفطن القياس كالمجتهد في حق العامي، لا الناقل
فقط وقالت الحنابلة: لا يجوز خلو العصر عن مجتهد، وبه جزم الأستاذ أبو إسحاق والزبيري
في المسكت ... وكيف يمكن القضاء على الأعصار بخلوها عن مجتهد والقفال نفسه
كان يقول للسائل في مسألة الصبرة: تسأل عن مذهب الشافعي أم ما عندي؟ وقال، هو والشيخ
أبو علي والقاضي الحسين: لسنا مقلدين للشافعي، بل وافق رأينا رأيه فماذا كلام من يدعي
رتبة الاجتهاد ولم يختلف اثنان أن ابن عبد السلام بلغ رتبة الاجتهاد وكذلك ابن دقيق
العيد، كما قاله ابن الرفعة والحق أن العصر خلا عن المجتهد المطلق، لا عن مجتهد في
مذهب أحد الأئمة الأربعة وقد وقع الاتفاق بين المسلمين على أن الحق منحصر في هذه
المذاهب، وحينئذ فلا يجوز العمل بغيرها، فلا يجوز أن يقع الاجتهاد إلا فيها
“Dinukilnya kesepakatan dalam
masalah ini merupakan perkara yang mengherankan. hal ini merupakan perkara
khilafiyyah di antara kita dan Hanabilah, dan sebagian Imam kita membantu
mereka. Yang benar, seorang faqih yang cerdas nan ahli qiyas bagaikan mujtahid
di kalangan umum, bukan sang penukil saja. Hanabilah berkata: Tidak boleh suatu
masa kosong dari seorang mujtahid, yang dengannya Ustadz Imam Abu Ishaq dan
Imam az-Zubairi memastikannya di dalam al-Miskat ... Bagaimana mungkin peradilan
di berbagai masa dapat kosong dari seorang mujtahid sedangkan Imam al-Qaffal
sendiri berkata bagi yang bertanya dalam sebuah masalah makanan: Apakah Anda
bertanya dengan apa yang dalam madzhab Syafi’i ataukah yang ada pada saya?.
Beliau dan Imam asy-Syaikh Abu Ali dan Imam al-Qadhi Husain berkata: Kami bukan
muqallid bagi Imam asy-Syafi’i, namun sesuai dengan pendapat kami. Maka mengapa
(dianggap salah) perkataan seseorang yang mengaku mencapai derajat ijtihad,
sedangkan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa Imam Ibn Abdis Salam telah
mencapai derajat ijtihad, demikian pula Imam Ibn Daqiq al-‘Id, sebagaimana pendapat
Imam Ibn Rif’ah. Yang benar bahwa sebuah masa kosong dari mujtahid mutlak,
bukan dari mujtahid dalam madzhab salah seorang Imam yang empat. Telah terjadi
kesepakatan diantara kaum muslimin bahwa yang benar terbatas dalam
madzhab-madzhab ini. Saat itu, maka tidak diperbolehkan beramal dengan
selainnya, maka tidak diperbiolehkan adanya ijtihad kecuali di dalamnya.”
Besar kemungkinan, dalam perkara ijtihad, Syaikh
Taqiyyuddin mengambil banyak faidah dari Syaikh Muhammad al-Khudhari Baik, yang
menyusun karya di bidang ushul fiqih dan tarikh tasyri’.
Demikian pula terkait kaum sufi, kecintaan dan pembelaan
Syaikh Yusuf terhadap mereka diteliti kembali oleh Syaikh Taqiyyuddin, yang
kemudian menghasilkan sikap mengutamakan
kajian Nafsiyyah Salaf al-Ummah, namun tetap mengakomodir pendapat para sufi
yang shahih, dengan konsisten mengkritisi manhaj para Sufi dalam pemahaman
makna zuhud dan ruh. Teori dalam hal ini ialah pendefinisian
keduanya:
من حيث معنى الروح بأنها إدراك الصلة بالله لا من حيث الروح
سر الحياة
“Dari sisi makna ruh sebagai kesadaran terhadap hubungan dengan Allah bukan
dari sisi ruh sebagai rahasia hidup (nyawa).”
أن الزهد في
الدنيا يعني عدم اتخاذها غاية ومثلاً أعلى يكسب المال من أجلها ولا يعني عدم التمتع بالطيبات
“Bahwa zuhud terhadap dunia berarti ketiadaan mengambilnya sebagai tujuan
dan cita-cita tertinggi dalam mencari harta karenanya, bukan berarti ketiadaan
menikmati yang baik-baik.”
Namun, secara amaliah Syaikh Taqiyyuddin tidaklah keluar
dari apa yang diwasiatkan sang kakek, sebagaimana apa yang diungkapkan dalam Nizhâm al-Islâm bagian al-Hadhârah al-Islâmiyyah:
فالعَمَلُ الإِنْسَانيُّ
مَادَّةٌ، وإِدْرَاكُ الإِنْسَانِ صِلَتَهُ باللهِ حِينَ القِيَامِ بالعَمَلِ مِنْ
كَوْنِ هَذَا العَمَلِ حَلالاً أَوْ حَرَامَاً هُوَ الرُوحُ. فَحَصَلَ بِذَلِكَ مَزْجُ
المَادَّةِ بالرُوحِ. وبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ كَانَ المُسَيِّرُ لأَعْمَالِ المُسْلِمِ
هُوَ أَوَامِرُ اللهِ ونَوَاهِيهِ ... فَقَدْ تَكُونُ قِيَمَةً مَادِّيَّةً كَمَنْ
يُتَاجِرُ بِقَصْدِ الرِبْحِ، فَإِنَّ تِجَارَتَهُ عَمَلٌ مَادِّيٌّ، ويُسَيِّرُهُ
فِيهِا إِدْرَاكُهُ لِصِلَتِهِ باللهِ حَسَبَ أَوَامِرِهِ ونَوَاهِيهِ اِبْتِغَاءَ
رِضْوَانِ اللهِ
“Perbuatan manusia merupakan materi sedangkan kesadaran manusia terhadap
hubungannya dengan Allah saat melakukan perbuatannya terkait status amal
tersebut halal atau haram merupakan ruh. Maka dengan hal itu terwujudlah
penyatuan materi dengan ruh. Berdasarkan hal tersebut, yang mengendalikan
perbuatan seorang muslim adalah perintah dan larangan Allah ... Terkadang nilai
yang diraih bersifat materi, semisal orang yang berdagang untuk mendapatkan
keuntungan. Aktivitas berdagangnya merupakan materi dan dia mengendalikannya
berdasarkan kesadaran terhadap hubungannya dengan Allah sesuai perintah dan
larangan-Nya dalam rangka mencari keridhaan Allah.”
Dan dalam bagian al-Akhlâq fî al-Islâm:
والإِسْلامُ يُعالجَ مشاكلَ الإِنْسَانِ كُلَّهَا، وينَظَرُ
للإِنْسَانِ كلاًّ لايَتَجَزَّأُ، ولذَلِكَ يعالجُ مشاكِلَهُ بطَرِيقَةٍ واحدةٍ، وقَدْ
بَنى نِظَامَهُ عَلَى أَسَاسٍ رُوحيٍّ، هُوَ العَقِيدَةُ، فكَانَتِ النَاحِيَةُ
الرُوحيَّةُ هِيَ أَسَاسَ حَضَارَتِهِ، وهي أَسَاسَ دولَتِهِ، وهي أَسَاسَ شَريعتِهِ
“Islam memberikan solusi bagi berbagai problematika manusia seluruhnya dan
memandang manusia secara integral tidak parsial. Oleh karena itu, solusi bagi
problematikanya dihasilkan melalui metode yang satu. Islam membangun
peraturannya berdasarkan asas ruh/spiritual, yakni akidah. Maka aspek
kerohanian merupakan asas bagi peradabannya, asas bagi negaranya dan asas bagi
syariahnya. ”
Apa yang diharapkan kaum sufi dengan tercapainya
ma’rifatullah sebenarnya merupakan pemahaman mereka dalam rangka meraih al-Ihsân
sebagaimana diungkapkan dalam hadits. Menjadi seorang sufi bukan berarti
meninggalkan hukum dan politik, sehingga tidaklah aneh apa yang diungkapkan oleh
Syaikh Yusuf dalam al-Ahâdîts al-Arba’în fî
Wujûb Thâ’ah Amîr al-Mu'minîn:
قال القطب الرباني سيدي عبد الوهاب الشعراني رضي الله عنه
في كتابه البحر المورود اخد علينا العهود ان نكرم ولاة امورنا من امير ووزير وقاضي
عسكر ووال ويجوز لنا ان نقبل ايديهم ونقوم لهم اذا وردوا علينا اعطاء للمراتب حقها
ثم قال ومن تأمل احوال القوم يعني الصوفية في مثل ذلك وجد انها ادب مع من ولاهم
ممن هو اتم نظرا منا كالسلطان الأعظم ومن ادعى انه اكمل نظرا من السلطان فهو مجنون
انتهى كلامه رضي الله عنه بإختصار
“Al-Quthb ar-Rabbani Sayyidi Abdul Wahhab asy-Sya’rani ra. berkata dalam
kitabnya, al-Bahr al-Maurud, Kami mengambil perjanjian agar memuliakan pengurus
urusan kami dari kalangan pemimpin, pembantu, qadhi tentara dan penguasa
daerah. Boleh bagi kami mencium tangan mereka dan berdiri bagi mereka. Jika
mereka menetapkan bagi kami bagian dari pengeluaran negara sesuai bagiannya
kemudian beliau berkata, barangsiapa memperhatikan kondisi al-Qaum, yakni para
Sufi dalam perkara tersebut, maka dia
pasti menemukan sesungguhnya itu merupakan adab bersama para pengurus urusan
mereka yang lebih sempurna pandangannya dibanding kami seperti Sultan yang
Agung. Barangsiapa yang mengaku dia lebih sempurna pandangannya dari Sultan
maka dia adalah orang gila. Selesai perkataan beliau ra. dengan diringkas.”
Bahkan beliau
merupakan seorang Qadhi Syar’i yang aktif secara politik, baik dalam menasehati
rakyat dan para penguasa, melawan propoganda politis musuh negara dan
antek-anteknya, maupun mendorong mobilisasi jihad fi sabilillah. Hal tersebut
jelas diikuti sang cucu, baik dalam pemahaman maupun amaliah. Betapa banyak
ungkapan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang menekankan adanya pendalaman makna
ruh saat melaksanakan berbagai aktivitas. Setidaknya 3 (tiga) kitab pembinaan awal,
yakni Nizhâm al-Islâm, at-Takattul al-Hizbi, dan Mafâhîm Hizb
at-Tahrîr, bagi jamaah politik sang cucu, yakni Hizbut Tahrir,
penuh dengan ungkapan-ungkapan tersebut. Pemahaman sang cucu yang komprehensif
sebagaimana terlihat dalam teori tentang Kepribadian Islam (asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah). Bahkan,
kemudian secara khusus disusunlah secara khusus kitab pembinaan terkait hal
tersebut, yang mengikuti uslub Imam an-Nawawi dalam menyusun Riyâdh ash-Shâlihîn,
dan diberi nama “Min Muqawwimât an-Nafsiyyah al-Islâmiyyah”.
Oleh karena itu, pihak yang
membesar-besarkan perbedaan diantara an-Nabhanain, bukan hanya tidak memahami
pemikiran keduanya, namun saat mereka mencela Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani,
sang cucu, sebenarnya mereka sedang mencela pula Syaikh Yusuf an-Nabhani, sang
kakek, yang mereka hormati dan muliakan. Apapun yang mereka ragukan, tidak akan
mengubah fakta bahwa an-Nahbanain memiliki kesatuan silsilah, baik dalam hal
nasab maupun ilmu. Wallâhu A’lâm.
*Aktivis HTI Purwakarta





0 komentar:
Posting Komentar