728x90 AdSpace

  • Hot News

    Selasa, 20 Januari 2015

    Studi Perbandingan Pemikiran an-Nabhanain (Syaikh Yusuf an-Nabhani dan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani)




    Syeikh Yusuf An Nabhaniy



    Oleh: Abdurahman Al Khoddamiy*


                Dari sekian upaya untuk menjauhkan para pengemban dakwah Khilafah dari umat ialah dengan cara mendiskreditkan posisi keilmuannya. Bentuk pendiskreditan tersebut diantaranya berupa mengopinikan ketidakjelasan sanad para pengemban dakwah dalam membina pemikirannnya. Memang benar, kebiasaan para ulama dalam melestarikan sanad sangatlah penting, yang dimaksudkan untuk menjaga posisinya sebagai pewaris ilmu para Nabi. Hanya saja, jika pengopinian tersebut ditujukan untuk menjauhkan umat dari Khilafah Islamiyyah, maka termasuk kejahatan yang tidak ringan. Apalagi jika sekedar menyebutkan sanad yang bersifat formalitas, tanpa memperhatikan kualitasnya. Bahkan, dengan mengatasnamakan para ulama, tak jarang diopinikan adanya ketidakwajiban memperjuangkan tegaknya Khilafah. Padahal, para ulama yang menjadi sandaran bagi silsilah para syaikh mereka justru begitu gamblang dalam menjelaskan Khilafah. 

    Syeikh Taqiyuddin An Anbhaniy
    Sebagai contoh, sanad akidah bagi Syaikh al-Hajj Hasyim Asy’ari melalui Syaikh Muhammad Mahfuzh ibn Abdullah at-Tirmasi dari Syaikh Ibn Zaini Dahlan, disebutkan nama Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Imam ‘Adhuddin al-Ijji, Imam Muhammad ibn Umar Fakhruddin ar-Razi, Imam Abdul Karim asy-Syahrastani, Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazzali, Imam al-Haramain Abdul Malik al-Juwaini, Imam Abu Bakar al-Baqillani, dan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Adapun dalam sanad fiqih beliau disebutkan nama Imam Muhammad ibn Ahmad ar-Ramli, Imam Muhammad ibn Ahmad al-Khathib asy-Syarbini, Imam Ibn Hajar al-Haitami, Imam Zakariya al-Anshari, dan Imam Abu Zakariya Yahya an-Nawawi. Sangat mudah menemukan kejelasan wajibnya mendirikan Khilafah dalam maqalah para ulama tersebut. 

    Diantaranya, sebagaimana qaul Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam Maqâlât al-Islâmiyyîn:
    واختلفوا في وجوب الإمامة: فقال الناس كلهم إلا الأصم: لا بد من إمام وقال الأصم: لو تكاف الناس عن التظالم لاستغنوا عن الإمام
    “Kaum muslimin berbeda pendapat dalam wajibnya Imamah. Mereka semua berkata selain Imam al-‘Asham: Tidak boleh tidak (harus), adanya seorang imam (pemimpin). Sedangkan Imam al-‘Asham berpendapat: Seandainya kaum muslimin dapat menghilangkan kezaliman (secara mandiri), maka mereka tidak memerlukan seorang Imam.

    Dan qaul murajjih mu’tamad bagi Syafi’iyyah, al-Imam Abu Zakariya an-Nawawi ad-Dimasyqi dalam Syarh Shahîh Muslim:
    وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِب عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْب خَلِيفَة وَوُجُوبه بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ وَأَمَّا مَا حُكِيَ عَنْ الْأَصَمّ أَنَّهُ قَالَ : لَا يَجِب وَعَنْ غَيْره أَنَّهُ يَجِب بِالْعَقْلِ لَا بِالشَّرْعِ فَبَاطِلَانِ
    “Dan mereka (para ulama kaum muslimin) telah sepakat bahwasanya wajib bagi kaum muslimin mengangkat seorang khalifah. Kewajiban ini berdasarkan syara’ bukan akal. Adapun yang diriwayatkan dari al-’Ashamm bahwasanya dia mengatakan: tidak wajib, atau dari selainnya, yang mengatakan wajib berdasarkan akal, bukan syara’, maka dua pandangan itu adalah salah.”
                Namun, argumentasi penolakan masih dilontarkan dengan menyatakan bahwa para pengemban dakwah salah memahami maqalah para ulama terkait Khilafah, dan hal tersebut dikarenakan keterputusan sanad dengan para ulama. Demikianlah, upaya-upaya yang dilakukan sebagian pihak dalam menyebarkan keragu-raguan ditengah-tengah perjuangan umat yang semakin menguat, baik kuantitas maupun kualitasnya.

                Alhamdulillah, dalam situasi tersebut, apa yang dibawa oleh ‘Allamah asy-Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani tidaklah terpengaruh walaupun sedikit. Bukan saja, karena didirikan para ulama al-Azhar, yakni Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Syaikh Abdul Qadim Zallum, dan Syaikh Ahmad ad-Da’ur (ketiganya mendapatkan asy-Syahâdah al-‘Âlimiyyah, gelar setingkat doktoral), namun juga pemikiran-pemikirannya diambil faidahnya oleh para ulama di berbagai negeri, semisal Syaikh Fathi Salim, Syaikh Muhammad Hawari, Syaikh Hafiz Shalih, asy-Syaikh ‘Alim al-Ushul wa at-Tafsir Abu Rusytah ‘Atha` ibn Khalil, Syaikh Yusuf as-Sabatin, Syaikh Hisyam al-Badrani, Syaikh Abdul Aziz al-Badri, Syaikh Ghanim ‘Abduh, Syaikh Dawud Hamdan, Syaikh As’ad Bayudh at-Tamimi, Syaikh Muhammad as-Suwaiki, Syaikh Ziyad Ghazzal, Syaikh Muhammad Rowwas Qal’ah Ji, Syaikh Muhammad Khair Haikal, Syaikh Mahmud al-Khalidi, Syaikh Samih ‘Athif Zain, dan Syaikh Muhammad Baqir Shadir, termasuk di Indonesia, diantaranya ialah Syaikh Rahmat Labib, Syaikh Hafidz Abdurrahman, Syaikh Muhammad Shiddiq al-Jawi, Syaikh Mushthafa Ali Murtadha, dan Syaikh Syamsuddin Ramadhan an-Nawi. 

    Hanya saja, hal penting yang perlu diketahui ialah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani bukan sekedar lulusan al-Azhar asy-Syarif, namun juga merupakan bagian dari keluarga besar yang dibesarkan dalam suasana ketakwaan dan keilmuan. Beliau mendapat sanad awal dari ayahanda beliau, Syaikh Ibrahim ibn Mushthafa ibn Isma’il an-Nabhani (seorang pengajar madrasah di Palestina) dan ibunda beliau yang belajar kepada ayahnya, Syaikh al-Qadhi Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani, serta belajar langsung kepada sang kakek dari pihak ibu tersebut. Bahkan dalam sisi nasab, kedua orang tua beliau merupakan sepupu dan bermuara pada seorang penghafal al-Quran yang terbiasa mengkhatamkan al-Quran 3 (tiga) kali dalam seminggu, yakni Syaikh Isma’il ibn Yusuf ibn Hasan an-Nabhani, yang membimbing Syaikh Yusuf dalam menghafal al-Quran. Selain itu, atas petunjuk Syaikh Yusuf, beliau mengikuti halqah Syaikhul Azhar Muhammad Husain al-Khudari Baik, saat menempuh studi di al-Azhar asy-Syarif dan Kulliyah Darul Ulum. Saat sang kakek, wafat pada tahun 1933 M, beliau telah berumur 23 atau 24 tahun, bahkan gelar setingkat doktoralnya diraih pada tahun 1932 M, setahun sebelum sang kakek wafat.

                Tentu saja, keraguan keterputusan sanad masih dapat dilontarkan kecuali jika dapat dibuktikan adanya keterkaitan pemikiran antara sang guru dengan muridnya, yakni Syaikh Yusuf dan Syaikh Taqiyyuddin. Dengan memahami situasi politik dan pemikiran pada masa Syaikh Yusuf, setidaknya dapat ditemukan bukti tersebut melalui 3 (tiga) karya beliau, yakni al-Ahâdîts al-Arba’în fî Wujûb Thâ’ah Amîr al-Mu'minîn, yang didalamnya dilampirkan Khulâshah al-Bayân fî Ba’dhi Ma`âtsir Maulanâ ash-Sulthân ‘Abdil Hamîd ats-Tsânî wa Ajdâdihî Âli ‘Utsmân terkait perkara Khilafah dan problematika umat, ar-Ra’iyyah ash-Shughrâ fî Dzamm al-Bid’ah wa Ahlihâ wa Madhi as-Sunnah al-Gharrâ` terkait kritik terhadap kelompok Jamaluddin al-Afghani, dan al-Fadhâ`il al-Muhammadiyyah ‘ala Jamî’ al-Bariyyah terkait makna utuh meneladani Rasulullah Saw.. Dari ketiga karya tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang muslim yang mengaku meneladani Baginda Rasulullah Saw. wajib terikat dengan Islam baik dalam aspek pemikiran maupun politik. 

    Kitab yang pertama terbit pada tahun 1312 H/1895 M, menjelaskan fadhilah ketaatan kepada seorang khalifah dalam berbagai kondisi selama bukan maksiyat dengan menyebutkan 40-an hadits dan sebagian penjelasannya, yang berkaitan dengan hal tersebut. Adapun yang dimaksud khalifah oleh Syaikh Yusuf adalah Sultan Abdul Hamid II. Berikut ini qaul beliau:
    وقد اجملت فيها البيان عن بعض فضائل آل عثمان سلاطين الاسلام والمسلمين وحماة الدنيا والدين وخصصت من بينهم وارث ملكهم ودرة سلكهم مجدد دولتهم العلية ومحدد شوكتها القوية خليفة الله في ارضه ونائب رسول الله في امته حضرة سيدنا ومولانا السلطان الاعظم امير المؤمنين السلطان الغازي عبد الحميد ابن السلطان الغازي عبد المجيد ابن السلطان الغازي محمود اطال الله عمره وادام فخره واضعف اعداءه وضاعف نصره وابقاه للملة الاسلامية حصنها الحصين وللدولة العلية ركنها المتين امين
    Dan telah saya kumpulkan secara global yang didalamnya terdapat penjelasan mengenai sebagian keutamaan keluarga Utsman, para penguasa Islam dan kaum muslimin, para penjaga dunia dan agama, dan saya khususkan diantara mereka, sang pewaris kekuasaan mereka, yang meniti jalan mereka, yang memperbarui negara mereka yang agung, yang menjaga kekuatannya, Khalifah Allah di bumi-Nya, pengganti Rasulullah di tengah-tengah umatnya, Hadhrah Sayyidana wa Maulana, Sultan yang Agung, Amirul Mukminin, Sultan al-Ghazi Abdul Hamid ibn Sultan al-Ghazi Abdul Majid ibn Sultan al-Ghazi Mahmud, semoga Allah memanjangkan umurnya, melanggengkan kemuliaannya, melemahkan musuh-musuhnya, melipatgandakan pertolongan baginya, dan menetapkan kedudukannya bagi Millah Islam sebagai benteng penjaga dan bagi negara yang agung sebagai pilarnya yang kokoh. Amin.
    Beliau mengemukan 4 alasan pembelaan terhadap Sultan Abdul Hamid II:
    1.    Sebagai penguasa tunggal bagi ahli pemeluk tauhid (ash-Sulthân al-Wahîd li Ahl at-Tauhîd), padahal di masa itu banyak para penguasa muslim yang memerintah negeri Islam selain Utsmaniyyah, termasuk para penguasa Iran dan Wahhabiyyah di Nejd dan Hijaz.
    2.    Pelayanan khalifah terhadap masyarakat, terutama terhadap keturunan Rasulullah saw., para ulama, kaum sufi, dan kalangan fuqara.
    3.    Upaya khalifah dalam berjihad di jalan Allah dengan mengutip Q.S. al-Anfal: 60 (dalam kitabnya yang lain, beliau secara khusus menulis al-Ahâdîts al-Arba’în fî Fadhl al-Jihâd wa al-Mujâhidîn, dalam rangka mendorong kaum muslimin dalam menentang penjajahan Rusia, Inggris, dan Perancis).
    4.    Nasab khalifah yang merupakan keturunan keluarga Utsmaniyyah yang telah berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin sejak tahun 700-an H, terutama dengan prestasinya dalam pembebasan Konstantinopel.
    Tidak ada bukti yang begitu jelas terkait pembelaan beliau terhadap eksistensi Khilafah Islamiyyah selain kedudukan beliau sebagai Qadhi Syar’i di wilayah Utsmaniyyah. Bahkan secara jelas beliau menuliskan frase “Daulah al-Khilâfah al-Islâmiyyah” dalam karyanya, al-Ahâdîts al-Arba’în fi Fadhl al-Jihâd wa al-Mujâhidîn, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Muhammad Khair Haikal dalam al-Jihâd wa al-Qitâl fî as-Siyâsah asy-Syar’iyyah. Sungguh, termasuk gharib jika ada pihak yang mengatakan bahwa Syaikh Yusuf memustahilkan kembalinya Khilafah dengan mengutip Imam al-Baihaqi, dalam karyanya, Hujjah Allâh ‘ala al-‘Âlamîn fî Mu’jizât Sayyid al-Mursalîn (terbit tahun 1316 H/1899 M). Bagaimanakah hal tersebut disimpulkan? Bahkan dalam bagian depan kitab pertama ini, tertulis “Telah dicetak 10.000 eksemplar atas pendanaan sang penulis supaya disebarkan secara gratis sebagai nasehat bagi umat Muhammad dan rasa cinta terhadap Negara Agung Utsmaniyyah yang menurut sebagian orang-orang yang telah mencapai ma’rifat, sesungguhnya tidak ada sebuah negara yang datang setelah masa Sahabat, lebih baik darinya.” Syaikh Yusuf dalam kitab tersebut, mengemukakan kegelisahan beliau terhadap kondisi umat Muhammad Saw. dengan mengutip hadits al-Wahn dalam Sunan Abî Daud:
    يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا
    Berbagai umat akan memperebutkan kalian sebagaimana diperebutkanya makanan dalam wadahnya
    Setidaknya, ada 15 hadits utama dalam kitab ini yang juga tercantum dalam karya-karya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan para penerusnya, dalam membahas pemerintahan, baik dalam Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid II, ad-Daulah al-Islâmiyyah, Kaifa Hudimat al-Khilâfah, ad-Dimuqrâthiyyah Nizhâm Kufr, Afkâr Siyâsiyyah, Mitsâq al-Ummah, maupun Muqadimah ad-Dustûr. Perhatikan penjelasan kedua ulama mulia tersebut terkait hadits:
    إنّما الإمام جُنّة،
    قال الشيخ يوسف: والجُنَّةٌ الوقاية والْإِمَامُ في جميع الاحاديث الخليفة
    وقال الشيخ تقي الدين: وصف للخليفة بأنه جُنة، أي وقاية فوصف الرسول بأن الإمام جنة هو إخبار فيه مدح لوجود الإمام
    Imam adalah perisai
    Syaikh Yusuf berkata: Perisai, yakni penjaga. Imam (pemimpin) yang dimaksud dalam semua hadits adalah khalifah.
    Syaikh Taqiyyuddin berkata: Beliau mensifati khalifah sebagai perisai, yakni penjaga. Penentuan sifat dari Rasul bahwa Imam (pemimpin) adalah perisai merupakan berita yang didalamnya terdapat pujian terhadap keberadaan seorang Imam.

    Selain itu, pembelaan Syaikh Yusuf diperkuat oleh guru beliau yang lain, yakni Syaikh Muhammad al-Khudhari Baik, semisal Naqdh Kitâb al-Islâm wa Ushûl al-Hukm sebagai kirtik terhadap Ali Abdur Raziq dan karya-karya beliau dalam meringkas sirah dan tarikh sejak masa Rasulullah Saw., Khulafa ar-Rasyidin, Umayyah hingga Abbasiyyah. Beliau menekankan keunggulan masyarakat dan pemerintahan Islam, serta berusaha menyajikan sikap yang tepat dalam menemukan kekeliruan penerapan Islam pada periode-periode tersebut.

    Kitab yang kedua merupakan kumpulan syair yang secara khusus mengkritisi pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha, serta Muhammad ibn Abdil Wahhab. Pembahasan terpenting dalam karya beliau ini adalah “Ijtihad Mutlak”. Sebagian penjelasan terkait perkara ini tercantum dalam Hujjah Allâh ‘ala al-‘Âlamîn dan Syawâhid al-Haq. Syaikh Yusuf benar-benar menekankan orisinalitas pemikiran Islam dengan mengkritisi secara keras kelompok pembaharu tersebut, dikarenakan dianggap membawa pemikiran asing, semisal pragmatisme, liberalisme, dan pluralisme. Berikut ini petikan syair beliau:
    وَأَبدعَ هَذا الشيخُ لِلناسِ مَذهباً   يُوافقُ في تَيسيرِ أَحكامهِ العَصرا
    “Syaikh ini berbuat bid’ah membuat aliran bagi manusia, mengkompromikan penetapan hukum-hukum sesuai perkembangan zaman.”
    جَريءٌ عَلى الفَتوى بحقٍّ وباطلٍ   بِحُكمِ الهَوى والجهلِ ما شاءُه أجرى
    “Berlaku ceroboh dalam berfatwa dengan mencampurkan yang benar dan salah, dengan berhukum sesuai hawa nafsu dan kebodohan sesuai keinginannya.”
    وَمَذهبُهم حكمُ الدياناتِ واحدٌ   تَساوى بهِ الإسلامُ والمللُ الأخرى
    “Aliran mereka adalah menetapkan berbagai agama menjadi satu, menganggap sama antara Islam dengan agama-agama yang lain.”
    Hal tersebut jelas mempengaruhi sang cucu, sehingga belum ditemukan penjelasan yang lebih baik terkait Ideologi Islam yang memperlihatkan orisinalitasnya, kecuali bahasan Qiyâdah Fikriyyah fî al-Islâm dalam Nizhâm al-Islâm, karya Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani. Dengan adanya perang pemikiran tersebut, Syaikh Yusuf terdorong untuk menyusun Hujjah Allâh ‘ala al-‘Âlamîn yang diakhiri dengan Khulâshah al-Kalâm fî Tarjîh Dîn al-Islâm. Pemilihan lafad "bid’ah” dalam judul karyanya ar-Ra’iyyah ash-Shughrâ fî Dzamm al-Bid’ah wa Ahlihâ, diikuti Syaikh Taqiyyuddin dalam asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid I ketika beliau menjelaskan bid’ah:
    أما الذي يعتبر رأياً فهو الرأي الذي من عند الشخص، ولذلك سماه الرسول - صلى الله عليه وسلم – بدعة
    “Adapun yang dimaksud dengan ra’yu ialah pendapat yang muncul dari seseorang (tanpa dalil). Oleh karena itu, Rasulullah Saw. menamainya sebagai bid’ah.”
    Inilah yang dikritisi secara keras oleh Syaikh Yusuf saat meniadakan adanya “Ijtihad Mutlak” di masa beliau:
    وَأَمّا طريقُ الدرسِ بالنفسِ والهوى    فَكَم أوصَلَت للسالكينَ بها شَرّا
    قَدِ اجتَهدوا فيها بحُكم نُفوسهم   فَنالوا بِها مِنها الكبائرَ والكِبرا
    نَعَم كلُّ  قَرنٍ يبعثُ اللَّه فيه من   يُجدّدُ أمرَ الدينِ ينصرهُ نَصرا
    وَذلكَ إمّا واحدٌ أو جَماعةٌ    بِكثرةِ عِلمٍ أو بِمَنقبةٍ أخرى
    “Dan adapun jalan belajar dengan bersandar pada diri dan hawa nafsu, maka berapa banyak yang telah sampai bagi para peniti jalan yang dengannya menjadi buruk.
    Mereka berijtihad di dalamnya dengan hukum menurut dirinya, maka mereka mendapatkan darinya dosa besar dan kesombongan.
    Memang benar di setiap masa Allah memunculkan di dalamnya seseorang, yang memperbarui urusan agama dengan benar-benar menolongnya.
    Hal tersebut dapat dilakukan oleh satu orang atau kelompok, dengan memperbanyak ilmu atau jalan yang lain.”
    Terkait Syaikh Muhammad Rasyid Ridha yang mewarisi kedua gurunya, Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, beliau menegaskan:
    فَتاويهِ في الأحكامِ طوعُ اِختيارهِ    تَصرّفَ كالملاكِ في دينهِ حرّا
    فَيحظرُ  شَيئاً كان بالأمسِ واجباً    وَيوجبُ شَيئاً كانَ في أمسهِ حظرا
    “Fatwa-fatwanya dalam hukum mengikuti pilihannya, berlaku seperti raja dalam agamanya secara bebas.
    Maka dia menganggap bahaya sesuatu yang pada masa lalu merupakan hal yang wajib, dan mewajibkan sesuatu yang pada masa lalu merupakan bahaya.”
    Sikap tersebut diikuti Syaikh Taqiyyuddin dalam asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid I:
    أما ما أُلف في هذا العصر وأواخر العصر الهابط من تفاسير مثل تفسير محمد رشيد رضا، وتفسير طنطاوي جوهري، وتفسير أحمد مصطفى المراغي وغيرهم، فلا تعد من التفاسير ولا يوثق بها، وذلك لأن فيها جرأة على دين الله في تفسير كثير من الآيات كتفسير محمد رشيد رضا لآية { وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ } فإنه أجاز لأهل الهند من المسلمين أخذ القوانين الإنجليزية والخضوع لأحكام القضاة الإنجليز
    “Adapun apa yang disusun di masa ini dan pada akhir masa kemunduran, yakni berbagai tafsir semisal tafsir Muhammad Rasyid Ridha, tafsir Thanthawi Jauhari, tafsir al-Maraghi, dan semisal mereka, maka tidak terhitung sebagai bagian dari kitab-kitab tafsir dan tidak perlu mempercayainya. Hal tersebut dikarenakan di dalamnya terdapat penyelewengan terhadap agama Allah saat menafsirkan banyak dari ayat-ayat, semisal penafsiran Muhammad Rasyid Ridha terhadap ayat وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ , maka dia membolehkan penduduk India dari kaum muslimin untuk mengambil undang-undang Inggris dan tunduk pada hukum peradilan Inggris.”
    Demikian pula secara gamblang rekan Syaikh Yusuf sekaligus guru bagi cucunya, Syaikh Muhammad al-Khudhari Baik melanjutkan upaya pembelaan terhadap Islam dengan karyanya, al-‘Ilmâniyyah wa Dhalâlah Fashl ad-Dîn ‘an as-Siyâsah. Adapun terkait Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab, maka pendapat Syaikh Taqiyyuddin dan para penerusnya tercantum secara jelas dalam Kaifa Hudimat al-Khilâfah:
    وكان معروفاً أن هذه الحملة الوهابية عمل إنجليزي، لأن آل سعود عملاء للإنجليز، وقد استغلوا المذهب الوهابي - وهو من المذاهب الإسلامية، وصاحبه الإمام محمد بن عبد الوهاب مجتهد من المجتهدين - استغلوا هذا المذهب في أعمال سياسية لضرب الدولة الإسلامية، والاصطدام مع المذاهب الأخرى، لإثارة حروب مذهبية داخل الدولة العثمانية، دون أن يدرك ذلك أتباع هذا المذهب، ولكن عن إدراك ووعي من الأمير السعودي ومن السعوديين.
    Dan merupakan hal yang dikenal bahwa serangan Wahhabiyyah merupakan akitvitas Inggris, karena keluarga Su’ud merupakan antek-antek Inggris. Sungguh, mereka menyibukkan madzhab Wahhabi, yang merupakan bagian dari madzhab Islam, pemimpinnya Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab merupakan seorang mujtahid diantara para mujtahidin, mereka menyibukkan madzhab ini dalam aktvitas politik untuk menyerang Negara Islam dan berselisih dengan madzhab-madzhab yang lain, agar menimbulkan perang kemadzhaban di dalam Negara Utsmaniyyah, tanpa disadari para pengikut madzhab ini, namun dengan pemahaman dan kesadaran Amir Su’udi dan keluarga Su’ud.”
    Kitab yang ketiga menjelaskan makna utuh meneladani Baginda Rasulullah Saw.. Kitab tersebut membahas tanda-tanda kenabian (Dalâ`il an-Nubuwwah), kelahiran Rasulullah Saw. (Maulid ar-Rasûl), asy-Syamâ`il (karakteristik fisik dan akhlak), Sirah Nabawiyyah, keutamaan-keutamaan (al-Fadhâ`il), dan hal-hal lain yang terkait dengan beliau Saw. serta amaliah yang dituntut dari umatnya, yakni mengimani Rasulullah Saw., menaatinya, mencintainya, mengagungkannya, meminta pertolongan melaluinya, dan mengunjunginya (Ziyârah). Secara ringkas, beliau menyusun argumentasi bahwa Muhammad Saw. benar-benar utusan Allah Swt. yang memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan semua makhluk, sehingga selayaknya hamba Allah, terkhusus umatnya, agar mengikuti dan meneladani beliau Saw.. Kemudian beliau berkata:
    ومن طاعته صلى الله عليه وسلم اتباع سننه وامتثال أوامره والإقتداء بهديه ... وقد ورد عن السلف الصالح من الصحابة رضي الله عنهم والتابعين ومن بعدهم من اتباعهم سننه صلى الله عليه وسلم واقتدائهم بهديه وسيرته وحثهم على ذلك شيئ كثير ... وزاد في رواية: ولو كان موسى حيا لما وسعه الا اتباعي
    Dan termasuk ketaatan kepada Rasulullah Saw. ialah mengikuti sunnah-sunnahnya, melaksanakan berbagai perintahnya dan berjalan dengan petunjuknya ... Telah ada dari Salaf ash-Shalih dari kalangan Sahabat ra., para Tabi’in dan yang setelah mereka, aktivitas mereka dalam mengikuti sunnah-sunnahnya Saw. dan berjalannya mereka dengan petunjuk dan sirahnya, serta keseungguhan mereka terhadap hal tersebut, suatu contoh yang banyak ... dan dalam sebuah riwayat: Seandainya Musa masih hidup tidaklah ada yang perlu dilakukannya kecuali mengikutiku.”
    Namun, berbeda dengan kebiasaan sebagian pihak yang membatasi pembahasan ini sekedar hal-hal yang terkait dengan beliau Saw. secara personal, beliau telah menyatakan bahwa memperhatikan urusan kaum muslimin termasuk bagian dari kecintaan kepada Rasulullah Saw., begitupula menasehati mereka dan para penguasa yang mengurusi mereka. Pada bagian akhir, barulah Syaikh Yusuf menjelaskan tentang tawasul dan ziarah, serta menutup kitabnya dengan doa yang diawali:
    اللهم اني اسالك واتوسل اليك باسمك الأعظم وحبيبك الأكرم صلى الله عليه وسلم  ...
    Beliau mendoakan kebaikan bagi umat Muhammad, agamanya, dan penggantinya, yakni sang khalifah agar diberikan pertolongan, dijaga dari kejahatan para musuh, dan para pembantu dan rakyat sang khalifah diberikan taufik, kemudian barulah beliau berdoa untuk diri dan keluarga beliau.
                Apa yang ditempuh Syaikh Yusuf, benar-benar mempengaruhi sang cucu, sebagaimana terlihat dalam karyanya, Nizhâm al-Islâm:
    وتُحْمَلُ الدَعْوَةُ الإِسْلامِيَّةُ اليَوْمَ كَمَا حُمِلَتْ مِن قَبْلُ، ويُسَارُ بِهَا إقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ دُونَ حَيْدِ قَيْدِ شَعْرَةٍ عَنْ تِلْكَ الطَرِيقَةِ في كُلِّيَاتِهَا وجُزْئِيَّاتِهَا، ودُونَ أَن يُحْسَبَ لإخْتِلافِ العُصُورِ أَيُّ حِسَابٍ،
    “Dan mengemban Dakwah Islam pada saat ini sebagaimana diemban di masa sebelumnya, dan berjalan dengan meneladani Rasulullah Saw. tanpa bergesar walau seujung rambut dari metode tersebut, dalam perkara menyeluruh maupun terperinci, serta tanpa memperhatikan sama sekali perbedaan zaman.”
    Dan dalam ad-Daulah al-Islâmiyyah:
    لأنها الطريقة التي سار عليها رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وسلوكها سلوكاً صحيحاً يجعل النتائج قطعية لا ريب فيها، والنصر محققاً لا شك فيه. وهذه الطريقة هي التي يجب أن يسلكها المسلمون اليوم سلوكاً دقيقا، على أن يكون الاقتداء بالرسول -صلى الله عليه وسلم-دقيقاً، والسير صحيحاً حسب خطواته
    “Karena sesungguhnya hal tersebut merupakan metode yang diatasnya Rasulullah Saw. berjalan dan perjalanannya merupakan kebenaran, menjadikan hasilnya pasti, dan pertolongan akan diraih, tanpa keraguan didalamnya. Metode ini merupakan perkara yang wajib bagi kaum muslimin untuk melaluinya saat ini dengan teliti dalam rangka meneladani Rasul Saw. dengan teliti dan berjalan dengan benar sesuai yang digariskannya.”
    Dengan penelitian yang seksama, amanah sang kakek jelas terekam dalam karya dan amal Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, sebagaimana yang tercantum dalam kedua karyanya tersebut, melalui aktivitas nyata beliau dalam membina dan berjuang bersama Hizbut Tahrir dalam menegakkan Khilafah Islamiyyah.

                Selain tema-tema dalam ketiga kitab tersebut, ada hal menarik terkait “aktor utama” yang menghapuskan Khilafah Utsmaniyyah. Sebagian pihak telah berteori bahwa kaum Yahudi-Zionis merupakan dalangnya, dengan bukti nasab Mushthafa Kamal at-Taturk yang merupakan Yahudi Dunama dari Tesalonika. Namun, Syaikh Taqiyyuddin dan para penerusnya justru menekankan adanya konspirasi kaum Nasrani-Misionaris, terutama melalui jalur pendidikan. Mereka melakukannya terutama dengan mendirikan sekolah-sekolah dan pengiriman para pelajar muslim ke negeri-negeri Barat. Hal tersebut dapat dipelajari dalam ad-Daulah al-Islâmiyyah dan Kaifa Hudimat al-Khilâfah. Berkaitan dengan perbedaan kedua teori itu, besar kemungkinan Syaikh Taqiyyuddin melanjutkan amanah sang kakek, sebagaimana tercantum dalam karyanya, Irsyâd al-Hayârâ fî Tahdzîr al-Muslimîn min Madâris an-Nashârâ.


    Perbedaan Syaikh Yusuf dan Syaikh Taqiyyuddin
                Sebagian pihak merasa senang adanya celah perbedaan diantara an-Nabhanain, kemudian melontarkan berbagai kedustaan dan fitnah terhadap para pengemban dakwah. Mereka seakan tidak mengetahui, bahwa perbedaan guru dengan murid bukan berarti meniscayakan kesesatan atau kekufuran. Sebagai contoh, Imam asy-Syafi’i jelas mengkritisi kedua gurunya, Imam Malik dalam perkara Ijma Ulama Madinah dan Imam Muhammad terkait Istihsan. Begitupula Imam Ahmad berbeda pendapat dengan beliau dalam kehujahan pendapat atau ijtihad sahabat. Jauh sebelumnya, terdapat suasana keilmuan multi-madzhab semisal terlihat dalam hubungan antara Imam Hasan al-Bashri, Imam Washil ibn ‘Atha` dan Imam Zaid ibn Ali, serta perselisihan antara Imam Ibn Syihab az-Zuhri dengan Imam Rabi’ah ar-Ra`y di Madinah dan Imam Ibrahim an-Nakha’i dengan Imam asy-Sya’bi di Kufah. 

    Tidaklah aneh jika Imam al-Haramain menerima 2 (dua) pemikiran yang saling meniadakan, yakni qaul Imam Ibn Suraij sebagai sanad fiqih beliau dan qaul Imam al-Asy’ari yang kepadanya ilmu kalam disandarkan, sebagaimana Imam Ibn Shalah menerima kedua sanad, baik Khurasaniyyun yang berasal dari Imam al-Haramain al-Asy’ari, maupun ‘Iraqiyyun yang berasal dari Imam Abu Ishaq asy-Syairazi. Demikian pula, apa yang ditempuh Imam al-Qadhi al-Baqillani, saat menggabungkan Malikiyyah dan Asy’ariyyah. Bahkan, ketiga Imam Asy’ariyyah awal, yakni Imam al-Asy’ari, Imam al-Haramain, dan Imam al-Baqillani, berbeda pendapat dalam membahas perbuatan manusia. Demikian pula dapat ditemukan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menjadi guru Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, sebagaimana silsilah para murid Imam asy-Syafi’i menjadi para pelopor berbagai aliran, baik Syafi’iyah, Hanabilah, Zhahiriyyah, Shufiyyah, Ahli Hadits, Mutakallimin, maupun Mufassirin, yang satu sama lain, memiliki perbedaan-perbedaan dalam masalah tafsir dan hukum.

                Setidaknya ada 2 (dua) perbedaan yang penting diantara an-Nabhanain, pertama, kemungkinan adanya ijtihad pasca mapannya madzhab yang empat dan kedua, sikap terhadap kaum sufi yang tidak berfilsafat. Syaikhuna Yusuf, sebagaimana terekam dalam karya-karyanya, semisal Syawâhid al-Haq, mengikuti kalangan Syafi’iyyah pada umumnya, dalam perkara madzhab beliau mengikuti Imam Ibn Shalah, yakni membatasi pada madzhab yang empat; sedangkan dalam perkara kaum sufi beliau mengikuti Imam al-Ghazzali. Adapun Syaikhuna Taqiyyuddin, yang hidup di masa yang berbeda dengan sang kakek yang masih sempat hidup dalam naungan Khilafah, justru merasakan pengalaman pahit dengan menyaksikan hilangnya Khilafah dan Islam dari kehidupan kaum muslimin, sehingga memunculkan kondisi objektif dalam memahami kedua permasalahan tersebut. Beliau bukan hanya memungkinkan adanya ijtihad, namun menyatakan hukumnya adalah fardhu kifayah dan diposisikan sebagai jalan untuk memahami Syariah Islam, sebagaimana beliau mengkritisi kaum sufi dalam memaknai ruh dan zuhud, serta kurangnya peran mereka dalam membangun negara dan masyarakat. 

    Urgensitas kedua sikap beliau jelas terlihat saat Islam dan Khilafah dilenyapkan dari kehidupan, sebagai pertahanan dan penyerangan terhadap ide-ide asing, terutama Liberalisme dan Sekulerisme. Lemahnya ijtihad mendorong terjadinya liberalisasi pemikiran dan kaum sufi yang minim ilmunya memperkuat sekularisasi, terutama di bidang politik dan pemerintahan. Terkait ijtihad beliau menjelaskan dalam Mafâhîm Hizb at-Tahrîr:
    لأنّ طريق معرفة الأحكام الشرعية إنّما هو الاجتهاد، فلو خلا العصر من مجتهد يمكن الاستناد إليه في معرفة الأحكام أفضى ذلك إلى تعطيل الشريعة واندراس الأحكام وذلك لا يجوز
    “Karena metode untuk mengetahui hukum-hukum syariah hanyalah ijtihad. Jika sebuah masa kosong dari seorang mujtahid yang memungkinkan bersandar kepadannya dalam mengetahui hukum-hukum, maka hal itu mengantarkan pada lenyapnya syariah dan hilangnya hukum, sedangkan hal itu tidak diperbolehkan.”
    Sedangkan terkait kaum sufi, dalam ad-Daulah al-Islâmiyyah disebutkan:
    فالتبس ذلك على بعض المسلمين وظنوا هذا التقشف هو الزهد الذي ورد في بعض الأحاديث، فنشأ عن هذا الفهم فئة الصوفية، وأثر ذلك على فهم معنى الأخذ من الدنيا أو الإعراض عنها
     “Maka hal itu menjadi kabur bagi sebagian kaum muslimin dan mereka mengira melemahkan diri tersebut merupakan zuhud yang terdapat pada sebagian hadits. Maka muncullah dari pemahaman ini kelompok sufi, yang mempengaruhi terhadap plihan sikap mengambil dunia atau menjauh darinya.”

    Namun, ungkapan Syaikh Yusuf mengenai ketiadaan para mujtahid dalam karya-karya beliau, senada dengan apa yang dinyatakan Syaikh Taqiyyuddin dalam Nizhâm al-Islâm: 
     ... وكَانَ الناسُ مُجْتَهِدينَ كَمَا هُوَ الحَالُ في عَصْرِ الصَحَابَةِ والتَابِعِينَ وتَابِعِي التَابِعِينَ، أَمَّا إِذَا كَانَ الناسُ جَمِيعاً مُقَلِّدِينَ، ولا يُوجَدُ بَيْنَهُمْ مُجْتَهِدُونَ إِلاَّ نَادِرَاً، ... ولذَلِكَ كَانَ لِزَامَاً عَلَى الدَوْلَةِ الإِسْلامِيَّةِ، والحَالُ مِنَ الجَهْلِ في الإِسْلامِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ الآنَ، ...
    “... Keadaan tersebut saat masyarakat pada umumnya termasuk mujtahid sebagaimana kondisi pada masa Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in. Adapun saat keadaan masyarakat semuanya merupakan muqallid dan tidak ditemukan diantara mereka para mujtahid kecuali sedikit ... Oleh karena itu, wajib bagi Negara Islam saat kondisi kebodohan terhadap Islam seperti kondisi sekarang ....”

    Dalam banyak karyanya, Syaikh Taqiyyuddin mengikuti nasehat sang kakek dalam perkara ijtihad dan taklid, semisal membolehkan taklid dan madzhab, mengakui pembagian mujtahid (mutlaq, madzhab, fatwa/mas`alah wahidah), menyatakan hasil ijtihad sebagai hukum syara’ bukan sekedar pendapat manusia, mempersyaratkan kemampuan bahasa Arab dan pemahaman ilmu-ilmu syariah dalam berijtihad, serta menjadikan fakta dan sejarah sebagai objek hukum bukan dianggap sebagai dalil syara’. Perkara-perkara tersebut dapat ditemukan dalam Nizhâm al-Islâm, Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, dan asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid I dan III. Syaikh Yusuf sendiri tidaklah mencela para ulama yang menyerukan ijtihad, semisal Imam Ibn Taimiyyah al-Harrani al-Hanbali dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i.
    Lebih daripada itu, terkait maksud memilih salah satu dari madzhab yang empat, Imam az-Zarkasyi asy-Syafi’i menjelaskannya dalam al-Bahr al-Muhîth fî Ushûl al-Fiqh:
    ونقل الاتفاق فيه عجيب, والمسألة خلافية بيننا وبين الحنابلة, وساعدهم بعض أئمتنا، والحق أن الفقيه الفطن القياس كالمجتهد في حق العامي، لا الناقل فقط وقالت الحنابلة: لا يجوز خلو العصر عن مجتهد، وبه جزم الأستاذ أبو إسحاق والزبيري في المسكت  ... وكيف يمكن القضاء على الأعصار بخلوها عن مجتهد والقفال نفسه كان يقول للسائل في مسألة الصبرة: تسأل عن مذهب الشافعي أم ما عندي؟ وقال، هو والشيخ أبو علي والقاضي الحسين: لسنا مقلدين للشافعي، بل وافق رأينا رأيه فماذا كلام من يدعي رتبة الاجتهاد ولم يختلف اثنان أن ابن عبد السلام بلغ رتبة الاجتهاد وكذلك ابن دقيق العيد، كما قاله ابن الرفعة والحق أن العصر خلا عن المجتهد المطلق، لا عن مجتهد في مذهب أحد الأئمة الأربعة وقد وقع الاتفاق بين المسلمين على أن الحق منحصر في هذه المذاهب، وحينئذ فلا يجوز العمل بغيرها، فلا يجوز أن يقع الاجتهاد إلا فيها
    “Dinukilnya kesepakatan dalam masalah ini merupakan perkara yang mengherankan. hal ini merupakan perkara khilafiyyah di antara kita dan Hanabilah, dan sebagian Imam kita membantu mereka. Yang benar, seorang faqih yang cerdas nan ahli qiyas bagaikan mujtahid di kalangan umum, bukan sang penukil saja. Hanabilah berkata: Tidak boleh suatu masa kosong dari seorang mujtahid, yang dengannya Ustadz Imam Abu Ishaq dan Imam az-Zubairi memastikannya di dalam al-Miskat ... Bagaimana mungkin peradilan di berbagai masa dapat kosong dari seorang mujtahid sedangkan Imam al-Qaffal sendiri berkata bagi yang bertanya dalam sebuah masalah makanan: Apakah Anda bertanya dengan apa yang dalam madzhab Syafi’i ataukah yang ada pada saya?. Beliau dan Imam asy-Syaikh Abu Ali dan Imam al-Qadhi Husain berkata: Kami bukan muqallid bagi Imam asy-Syafi’i, namun sesuai dengan pendapat kami. Maka mengapa (dianggap salah) perkataan seseorang yang mengaku mencapai derajat ijtihad, sedangkan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa Imam Ibn Abdis Salam telah mencapai derajat ijtihad, demikian pula Imam Ibn Daqiq al-‘Id, sebagaimana pendapat Imam Ibn Rif’ah. Yang benar bahwa sebuah masa kosong dari mujtahid mutlak, bukan dari mujtahid dalam madzhab salah seorang Imam yang empat. Telah terjadi kesepakatan diantara kaum muslimin bahwa yang benar terbatas dalam madzhab-madzhab ini. Saat itu, maka tidak diperbolehkan beramal dengan selainnya, maka tidak diperbiolehkan adanya ijtihad kecuali di dalamnya.”
    Besar kemungkinan, dalam perkara ijtihad, Syaikh Taqiyyuddin mengambil banyak faidah dari Syaikh Muhammad al-Khudhari Baik, yang menyusun karya di bidang ushul fiqih dan tarikh tasyri’.            
    Demikian pula terkait kaum sufi, kecintaan dan pembelaan Syaikh Yusuf terhadap mereka diteliti kembali oleh Syaikh Taqiyyuddin, yang kemudian menghasilkan sikap mengutamakan kajian Nafsiyyah Salaf al-Ummah, namun tetap mengakomodir pendapat para sufi yang shahih, dengan konsisten mengkritisi manhaj para Sufi dalam pemahaman makna zuhud dan ruh. Teori dalam hal ini ialah pendefinisian keduanya:
    من حيث معنى الروح بأنها إدراك الصلة بالله لا من حيث الروح سر الحياة
    “Dari sisi makna ruh sebagai kesadaran terhadap hubungan dengan Allah bukan dari sisi ruh sebagai rahasia hidup (nyawa).”
    أن الزهد في الدنيا يعني عدم اتخاذها غاية ومثلاً أعلى يكسب المال من أجلها ولا يعني عدم التمتع بالطيبات
    “Bahwa zuhud terhadap dunia berarti ketiadaan mengambilnya sebagai tujuan dan cita-cita tertinggi dalam mencari harta karenanya, bukan berarti ketiadaan menikmati yang baik-baik.”
    Namun, secara amaliah Syaikh Taqiyyuddin tidaklah keluar dari apa yang diwasiatkan sang kakek, sebagaimana apa yang diungkapkan dalam Nizhâm al-Islâm bagian al-Hadhârah al-Islâmiyyah:
    فالعَمَلُ الإِنْسَانيُّ مَادَّةٌ، وإِدْرَاكُ الإِنْسَانِ صِلَتَهُ باللهِ حِينَ القِيَامِ بالعَمَلِ مِنْ كَوْنِ هَذَا العَمَلِ حَلالاً أَوْ حَرَامَاً هُوَ الرُوحُ. فَحَصَلَ بِذَلِكَ مَزْجُ المَادَّةِ بالرُوحِ. وبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ كَانَ المُسَيِّرُ لأَعْمَالِ المُسْلِمِ هُوَ أَوَامِرُ اللهِ ونَوَاهِيهِ ... فَقَدْ تَكُونُ قِيَمَةً مَادِّيَّةً كَمَنْ يُتَاجِرُ بِقَصْدِ الرِبْحِ، فَإِنَّ تِجَارَتَهُ عَمَلٌ مَادِّيٌّ، ويُسَيِّرُهُ فِيهِا إِدْرَاكُهُ لِصِلَتِهِ باللهِ حَسَبَ أَوَامِرِهِ ونَوَاهِيهِ اِبْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللهِ
    “Perbuatan manusia merupakan materi sedangkan kesadaran manusia terhadap hubungannya dengan Allah saat melakukan perbuatannya terkait status amal tersebut halal atau haram merupakan ruh. Maka dengan hal itu terwujudlah penyatuan materi dengan ruh. Berdasarkan hal tersebut, yang mengendalikan perbuatan seorang muslim adalah perintah dan larangan Allah ... Terkadang nilai yang diraih bersifat materi, semisal orang yang berdagang untuk mendapatkan keuntungan. Aktivitas berdagangnya merupakan materi dan dia mengendalikannya berdasarkan kesadaran terhadap hubungannya dengan Allah sesuai perintah dan larangan-Nya dalam rangka mencari keridhaan Allah.”
    Dan dalam bagian al-Akhlâq fî al-Islâm:
    والإِسْلامُ يُعالجَ مشاكلَ الإِنْسَانِ كُلَّهَا، وينَظَرُ للإِنْسَانِ كلاًّ لايَتَجَزَّأُ، ولذَلِكَ يعالجُ مشاكِلَهُ بطَرِيقَةٍ واحدةٍ، وقَدْ بَنى نِظَامَهُ عَلَى أَسَاسٍ رُوحيٍّ، هُوَ العَقِيدَةُ، فكَانَتِ النَاحِيَةُ الرُوحيَّةُ هِيَ أَسَاسَ حَضَارَتِهِ، وهي أَسَاسَ دولَتِهِ، وهي أَسَاسَ شَريعتِهِ
    “Islam memberikan solusi bagi berbagai problematika manusia seluruhnya dan memandang manusia secara integral tidak parsial. Oleh karena itu, solusi bagi problematikanya dihasilkan melalui metode yang satu. Islam membangun peraturannya berdasarkan asas ruh/spiritual, yakni akidah. Maka aspek kerohanian merupakan asas bagi peradabannya, asas bagi negaranya dan asas bagi syariahnya. ”
    Apa yang diharapkan kaum sufi dengan tercapainya ma’rifatullah sebenarnya merupakan pemahaman mereka dalam rangka meraih al-Ihsân sebagaimana diungkapkan dalam hadits. Menjadi seorang sufi bukan berarti meninggalkan hukum dan politik, sehingga tidaklah aneh apa yang diungkapkan oleh Syaikh Yusuf dalam al-Ahâdîts al-Arba’în fî Wujûb Thâ’ah Amîr al-Mu'minîn:
    قال القطب الرباني سيدي عبد الوهاب الشعراني رضي الله عنه في كتابه البحر المورود اخد علينا العهود ان نكرم ولاة امورنا من امير ووزير وقاضي عسكر ووال ويجوز لنا ان نقبل ايديهم ونقوم لهم اذا وردوا علينا اعطاء للمراتب حقها ثم قال ومن تأمل احوال القوم يعني الصوفية في مثل ذلك وجد انها ادب مع من ولاهم ممن هو اتم نظرا منا كالسلطان الأعظم ومن ادعى انه اكمل نظرا من السلطان فهو مجنون انتهى كلامه رضي الله عنه بإختصار
    “Al-Quthb ar-Rabbani Sayyidi Abdul Wahhab asy-Sya’rani ra. berkata dalam kitabnya, al-Bahr al-Maurud, Kami mengambil perjanjian agar memuliakan pengurus urusan kami dari kalangan pemimpin, pembantu, qadhi tentara dan penguasa daerah. Boleh bagi kami mencium tangan mereka dan berdiri bagi mereka. Jika mereka menetapkan bagi kami bagian dari pengeluaran negara sesuai bagiannya kemudian beliau berkata, barangsiapa memperhatikan kondisi al-Qaum, yakni para Sufi dalam perkara tersebut, maka  dia pasti menemukan sesungguhnya itu merupakan adab bersama para pengurus urusan mereka yang lebih sempurna pandangannya dibanding kami seperti Sultan yang Agung. Barangsiapa yang mengaku dia lebih sempurna pandangannya dari Sultan maka dia adalah orang gila. Selesai perkataan beliau ra. dengan diringkas.”
    Bahkan beliau merupakan seorang Qadhi Syar’i yang aktif secara politik, baik dalam menasehati rakyat dan para penguasa, melawan propoganda politis musuh negara dan antek-anteknya, maupun mendorong mobilisasi jihad fi sabilillah. Hal tersebut jelas diikuti sang cucu, baik dalam pemahaman maupun amaliah. Betapa banyak ungkapan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang menekankan adanya pendalaman makna ruh saat melaksanakan berbagai aktivitas. Setidaknya 3 (tiga) kitab pembinaan awal, yakni Nizhâm al-Islâm, at-Takattul al-Hizbi, dan Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, bagi jamaah politik sang cucu, yakni Hizbut Tahrir, penuh dengan ungkapan-ungkapan tersebut. Pemahaman sang cucu yang komprehensif sebagaimana terlihat dalam teori tentang Kepribadian Islam (asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah). Bahkan, kemudian secara khusus disusunlah secara khusus kitab pembinaan terkait hal tersebut, yang mengikuti uslub Imam an-Nawawi dalam menyusun Riyâdh ash-Shâlihîn, dan diberi nama “Min Muqawwimât an-Nafsiyyah al-Islâmiyyah”.

                Oleh karena itu, pihak yang membesar-besarkan perbedaan diantara an-Nabhanain, bukan hanya tidak memahami pemikiran keduanya, namun saat mereka mencela Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, sang cucu, sebenarnya mereka sedang mencela pula Syaikh Yusuf an-Nabhani, sang kakek, yang mereka hormati dan muliakan. Apapun yang mereka ragukan, tidak akan mengubah fakta bahwa an-Nahbanain memiliki kesatuan silsilah, baik dalam hal nasab maupun ilmu. Wallâhu A’lâm.

    *Aktivis HTI Purwakarta
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Studi Perbandingan Pemikiran an-Nabhanain (Syaikh Yusuf an-Nabhani dan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani) Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top