728x90 AdSpace

  • Hot News

    Rabu, 21 Januari 2015

    Karena Demokrasi, Negara Indonesia Serba Darurat



    Oleh: Nia Amalia, S.P. (Muslimah HTI DPD II Tulungagung)

    Semestinya umat Islam sudah merasa cukup diperdaya oleh sistem demokrasi. Pasalnya, selama ini umat hanya memilih orang Islam, tetapi bukan memilih sistem Islam. Bagaimana tidak, di berbagai bidang sudah jelas keterpurukan umat yang diakibatkan oleh sistem, di bidang politik tidak pernah sepi oleh berbagai fakta terkuaknya para politisi hitam yang merampok uang rakyat hingga miliaran rupiah. Di bidang sosial, sepanjang 2014 kriminalitas terus meningkat tidak hanya jumlahnya, namun juga jenis operandinya. Konflik horisontal akibat pergesekan kepentingan terus mewarnai dalam beberapa pemilihan di berbagai daerah. Para pelajar, mahasiswa yang semestinya menjadi generasi harapan masa depan justru banyak yang terlibat dalam pergaulan bebas dan narkoba. Di bidang ekonomi, angka kemiskinan dan pengangguran semakin mengkhawatirkan. Biaya kesehatan dan pendidikan semakin melambung tinggi tidak terjangkau. Hal ini diperparah dengan kenaikan BBM, LPG dan Listrik. Kesenjangan ekonomi semakin lebar dan optimisme diperkirakan akan terus meredup pada tahun-tahun mendatang

    Seharusnyanya umat sadar bahwa sampai kapan pun bahwa demokrasi mustahil memperjuangkan aspirasi publik, apatah lagi kepentingan umat Islam. Pasalnya, demokrasi yang ditegakkan di manapun akan selalu mensyaratkan sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan, dan pemisahan agama dari pemerintahan. Fakta umat Islam saat ini yaitu gagal mengelaborasi persoalan yang mereka hadapi dengan solusi tercerahkan yang semestinya diambil. Solusi yang dipilih tidak berkorelasi dengan persoalan yang sesungguhnya. Akibatnya, umat berada di labirin yang membingungkan, tak tahu arah mana yang seharusnya ditempuh. Sehingga dari berbagai fakta keterpurukan tadi, disadari ada 6 kedaruratan yang tercipta akibat sistem demokrasi, yaitu :  

    1.      Indonesia Darurat Narkoba
    Peredaran narkotika dan obat berbahaya (narkoba) sudah sangat mengkhawatirkan. Indonesia sudah berada dalam kondisi darurat narkoba. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bekerja sama dengan Puslitkes UI pada 2011, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba 2,2% atau setara dengan 4,2 juta orang dari total populasi penduduk Indonesia berusia 10 tahun hingga 59 tahun. Angka prevalensi diprediksikan meningkat menjadi 2,8% (5,1 juta orang) pada 2015. Tren penyalahgunaan narkoba saat ini didominasi ganja, sabu-sabu, ekstasi, heroin, kokain, dan obat-obatan Daftar G. Itulah sebabnya, Koordinator Gerakan Masyarakat Antimadat (Geram) Heru Purwoko di Jakarta,  mendesak pemerintah segera menetapkan kondisi darurat narkoba. “Ini kondisinya sudah sangat gawat. Indonesia sudah dalam kondisi darurat narkoba,” tegasnya. Menurut Heru, pemerintah perlu mengampanyekan perang terhadap narkoba. Mereka pun harus menghukum berat pengedar, terutama dari jaringan internasional, daripada para remaja yang rusak.  

    Sebagian besar penyalah guna narkoba ialah remaja berpendidikan tinggi. Berdasarkan data BNN, sedikitnya 15 ribu orang setiap tahun mati akibat penyalahgunaan narkoba dan kerugian negara mencapai Rp50 triliun per tahun. Peminat narkoba tidak kesulitan mencari pasokan. Meski aparat berhasil menyita narkoba, perkiraan yang lolos masih lebih besar. Sepanjang 2012, BNN sudah 12 kali memusnahkan narkoba. Total yang telah dimusnahkan sebanyak 28.062 gram sabu-sabu, 44.389 gram ganja, 10.116 gram heroin, dan 3.103 butir ekstasi.

    Narkoba terus membanjiri negeri ini lewat darat, laut, dan udara. BNN menangkap seorang pria dari komplotan pengedar narkoba jenis sabu-sabu di Stasiun Gambir, Jakarta, kemarin. Narkoba seberat 713,2 gram itu dikemas dalam bungkusan kopi instan. Sebelumnya, pada Senin (28/5), BNN mengungkap kasus penyelundupan narkotika jenis ekstasi sekitar 1,5 juta butir dari China yang melibatkan anggota TNI. Anggota TNI itu langsung dinonaktifkan. Ekstasi tersebut lolos dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Itu merupakan penyelundupan ekstasi terbesar ke Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Benny Mamoto membenarkan 90% narkoba masuk melalui jalur laut. (mediaindonesia.com, 30/5/2012).

    2.      Indonesia Darurat Kedaulatan
    Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan Sayuti Asyathri di Jakarta, Senin (20/2/2012) di hadapan sejumlah kader PDK mengungkapkan "Bersamaan dengan tingkat apresiasi terhadap partai dan kepemimpinan nasional yang berada pada tingkat yang amat mengkhawatirkan, kedaulatan dan martabat negara bangsa menjadi objek empuk negara negara asing yang memiliki tradisi dominasi dan hegemoni."

    Menurut Sayuti, ketidakmampuan pemerintah untuk berdiri tegak menghadapi kasus impor sampah beracun dari Belanda dan Inggris, merupakan indikasi yang sangat kuat bahwa pemerintah tidak bisa lagi menjadi pilar pengawal dan penjaga kedaulatan dan martabat bangsa.
    Menurutnya, logika publik yang sangat sederhana memahami bahwa, impor sampah beracun tersebut merupakan penghinaan terhadap Indonesia dan sangat memperburuk citra bangsa Indonesia yang harus dijaga kedaulatan dan martabatnya.
    "Harus diakui bahwa, kasus sampah beracun tersebut hanyalah salah satu di antara banyak tragedi rusaknya kedaulatan dan martabat -Indonesia," ujarnya (mediaindonesia.com). 



    3.    Indonesia Darurat Pangan

    Koordinator Aliansi untuk Desa Sejahtera Tejo Wahyu Jatmiko di Jakarta, Rabu (15/10) mengungkapkan “pangan Indonesia selama 10 tahun terakhir atau sepanjang pemerintahan SBY mengalami kondisi "darurat". Indikatornya, menurunnya jumlah petani, lahan pertanian serta tingginya impor pangan.”

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2003-2013, jumlah petani dan nelayan terus menurun dari 31 juta jiwa menjadi 26 juta jiwa."Sementara lahan pertanian terus menyusut sekitar 100 ribu-110 ribu hektare per tahun. Padahal kapasitas pencetakan sawah hanya 20 ribu hektare per tahun. Defisitnya masih sangat besar," ujarnya. Buruknya realisasi hasil pertanian yang masuk dalam sasaran pencapaian produktivitas pangan utama seperti padi, jagung, kedelai, gula dan daging juga membuat kondisi pangan dalam negeri terus terpuruk. Ditambah lagi impor pangan terus meningkat sejak 10 tahun terakhir dari sekitar tiga miliar dolar AS per tahun menjadi 14 miliar dolar AS per tahun."Impor pangan ini membuat petani dan nelayan jadi malas karena harga jual mereka tertekan," ujarnya. Karenanya, Tejo berharap pemerintah baru yang dipimpin Jokowi-JK nantinya bisa memperbaiki kondisi pangan saat ini sesuai janji kampanyenya (republika.co.id).

    4.      Indonesia Darurat Kekerasan Anak

    Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara Komisi VIII DPR RI dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Unit PPA) Polda Metro Jaya, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Barat, Komisi Nasional Perlindungan Anak, serta Aliansi Menolak Perdagangan Orang NTT (Ampera NTT)  terungkap bagaimana kondisi darurat kekerasan seksual pada anak dan perempuan belum juga mereda. Selain kehebohan kejahatan kekerasan seksual pada anak TK yang terungkap awal tahun, kasus human trafficking atau perdagangan orang yang berdalih pemberian lapangan pekerjaan tetapi berujung pada belitan prostitusi terus saja bermunculan memakan korban sebagian besar perempuan dan anak.

    Dalam beberapa bulan terakhir, saat fokus masyarakat terarah pada keriuhan situasi politik pasca pemilu legislatif dan pilpres, perdagangan anak berujung prostitusi ditemukan terjadi di berbagai wilayah diantaranya Aceh, Bali, JawaBarat, Jawa Tengah, NTT dan Jakarta. Kabar perdagangan orang terkini dari Jakarta terkuak saat KPAI bersama penegak hukum menggerebek wilayah remang-remang di Kalijodo, Jakbar dan menemukan korban 24 perempuan, sebagian masih berusia di bawah 18 tahun, asal Jawa Barat untuk dijadikan pekerja seks.
    5.      Indonesia Darurat Korupsi.

    Anggota BPK yang juga peserta konvensi capres PD Ali Masykur Musa menilai Indonesia darurat korupsi. Langkah yang dinilai efektif untuk memberantas korupsi adalah memiskinkan koruptor. "Saya setuju atas darurat korupsi, strategi pemiskiann itu lebih pas untuk sistem hukum di Indonesia," kata Ali Masykur saat berkunjung ke kantor detikcom di Jl Warung Buncit, Jakarta Selatan, Rabu (22/1/2014).

    Menurut Ali Masykur ada dua opsi membuat jera koruptor. Selain pemiskinan koruptor, masih ada pilihan hukuman mati. Namun solusi yang pas di Indonesia adalah pemiskinan koruptor. "Dengan pemiskinan koruptor menurut saya lebih manusiawi dan lebih efektif untuk mengembalikan uang negara. Kalau pemiskinan yang kena bukan hanya dirinya tapi juga keluarganya, jadi lebih efektif," katanya. BPK menemukan fakta bahwa otonomi daerah justru meningkatkan korupsi. Ada 311 kepala daerah terjerat korupsi, bahkan sepanjang tahun 2012 ada penyalahgunaan dana hibah dan dana bansos sebesar Rp 9,7 triliun. "Pada tahun 2012 penyalahgunaan bansos dan hibah Rp 9,7 triliun, 12% dari total Rp 75,7 triliun anggaran bansos secara nasional," kata Ali Masykur (detik.com).
     
    6.      Indonesia Darurat Pornoaksi dan Pornografi
    Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Maneger Nasution meminta kepada Pemerintah untuk menetapkan Indonesia darurat pornografi atau pornoaksi. Hal ini menyusul terungkapnya bisnis situs video porno yang pemerannya melibatkan anak-anak Indonesia usia 10-12 tahun.“Bangsa ini harus jujur, Indonesia darurat pornografi dan pornoaksi. Negara harus hadir dan berani menegakkan hukum utamanya kepada penguasa dan pengusaha pornografi. Bukankah video porno dijual bebas di depan kantor-kantor negara?” tegas Maneger kepada hidayatullah.com, Rabu (26/02/2014) sore.  Seperti diberitakan banyak media, Bareskrim Mabes Polri beberapa hari lalu membongkar kasus bisnis situs video porno anak. Mabes Polri menemukan total 120.000 video porno yang di dalamnya melibatkan anak-anak (hidayatullah.com).

    Harus Ada Perubahan Masif untuk Umat 

    Keadaan darurat menghendaki perubahan yang bersifat masif, dan tidak bisa dengan perubahan parsial. Usaha pemerintah melakukan perbaikan secara parsial akan segera tergerus dengan kebijakan politik luar negeri.
    Perubahan yang harus dilakukan umat seharusnya terjadi secara mendasar dan menyeluruh. Mendasar artinya membongkar asas kehidupan masyarakat yang batil semisal sekularisme yang saat ini dipakai pemerintah dan mengembalikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dan berpikir umat. Dengan asas yang sahih ini umat akan senantiasa mentautkan keimanan; pahala dan dosa, sebagai pertimbangan dalam pemikiran dan perbuatan; bukan lagi asas manfaat yang menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan pribadi ataupun negara. Menyeluruh artinya harus terjadi penerapan hukum Islam yang utuh, tidak mengambil yang manisnya saja kemudian meninggalkan yang pahit.

     Harus disadari sejak awal bahwa arus perubahan yang tengah dilakukan umat Islam sedikitpun tidak pernah di”ridhoi” oleh Barat. Mereka akan mencoba untuk menentang arah perubahan agar sesuai dengan kepentingan ideologi mereka. Untuk itu pihak Barat pastinya akan melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan arus perubahan yang tengah dijalani umat.

    Khilafah: Satu-satunya Harapan

    Berharap kehidupan yang sejahtera secara sosial dan ekonomi di bawah naungan Kapitalisme beserta ide-ide turunannya (demokrasi, liberalisme, pluralisme, nasionalisme, HAM, dll.) bagaikan pungguk merindukan bulan. Tidak ada pilihan lain bagi umat Islam untuk mengakhiri krisis multidimensi ini selain harus menumbangkan sistem Kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri mereka. Metodenya hanya satu, yakni dengan menegakkan kembali negara global Khilafah Islamiyah. Tegaknya Khilafah akan menghentikan laju imperialisme sekaligus Kapitalisme.

    Jadi, hal terpenting mengatasi keadaan DARURAT ini adalah tumbuhnya kesadaran umat Islam di seluruh dunia untuk menumbangkan ideologi Kapitalisme tersebut. Penting untuk terus menumbuhkan kesadaran umat untuk menuju kejayaan melalui penyatuan multi-potensi kekuatan mereka di seluruh dunia ke dalam institusi politik negara Khilafah Islamiyah. Melalui institusi tersebut, umat Islam akan mampu kembali memimpin dunia dan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bisa menjadi kenyataan. Wallohua’lam bishowwab.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Karena Demokrasi, Negara Indonesia Serba Darurat Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top