728x90 AdSpace

  • Hot News

    Jumat, 21 Maret 2014

    Panggung Politik Mahasiswi Makasar 2014


    Makasar--Tepat di bawah Fly Over Makassar, Jum'at pagi ini (21/3) dihangatkan oleh pekikan takbir dari para Intelektual Muslimah dalam aksi Panggung Politik Mahasiswi. Aksi ini digelar oleh Muslimah HTI Chapter Kampus Sulawesi Selatan dengan mengangkat tema "Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah untuk Indonesia lebih baik". Aksi ini merupakan arus balik dari eforia demokrasi yang melemahkan bangsa ini.

    Berbagai atribut yang dipegang oleh para Intelektual Muslimah memenuhi bibir jalan untuk mengungkap demokrasi sistem yang rusak dan merusak dan harus ditinggalkan.

    Acara telah dibuka beberapa saat yang lalu oleh MC. Dilanjutkan pembacaan ayat suci Al Quran, menjadi api semangat bagi peserta panggung politik 2014.

    "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung." (Al-Imran: 104)

    "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik". (An-Nuur: 55)


    Aksi Panggung Politik Mahasiswi Sulawesi Selatan masih terus berlanjut. Keynote Speaker oleh DR. Andi Detti Yunianti, S.Hut, M.Hut memberikan paparan.

    Negeri Indonesia yang kaya raya dan masih saja terpuruk dengan Multikrisis. Jumlah penduduk miskin dan pengangguran meningkat, pendidikan komersil karena telah menjadi sektor bisnis. Lahirnya program kesehatan yang membodohi rakyat. Pengelolaan SDA yang dikuasai oleh asing, korupsi pada semua level masyarakat, pengguna narkoba dan pelaku pornografi. Beliau menyerukan kepada muslimah dan generasi muda, "Mari kita tinggalkan demokrasi dan menggantinya dengan Syariah dan Khilafah!" tutupnya penuh semangat.

    Orasi pertama dibawakan oleh Siti Arafah, S.S dengan mengangkat tema "Carut Marutnya Demokrasi". Dengan semangat yang berapi-api, orator mengajak para intelektual Muslimah bersama-sama menolak sistem Demokrasi yang telah mengorbankan rakyat negeri ini dalam derita yang tak berkesudahan.

    Kemiskinan mencapai 31 juta jiwa, 40 juta rakyat indonesia adalah pengangguran, 3 juta diantaranya adalah sarjana dan 4.5 juta anak putus sekolah. Pada tahun 2012, indeks kesengsaraan rakyat Indonesia adalah 10.72 dan pada akhir 2013, angkanya melonjak menjadi 15.04.

    Sungguh sangat berbahaya jika dikembangkan opini bahwa negeri ini adalah negeri yang gagal dalam berdemokrasi. Sehingga yang harus diperbaiki adalah praktik demokrasinya. Alias, tidak ada yang salah dalam konsep demokrasinya.

    "Ini adalah opini yang menyesatkan!" tegasnya.

    Sungguh negeri ini telah berhasil menerapkan demokrasi dalam wajah aslinya. Dan hasilnya adalah kerusakan, keburukan, kekacauan, kemiskinan yang semakin parah dari hari ke hari.

    Orasi di tutup masih dengan semangat yang sama, sembari mengajak para Intelektual Muslimah meneriakkan bersama-sama ,"Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah!"


    Orasi kedua dibawakan oleh Indah Yuliarti, S.Pd dengan judul "Demokrasi Perampok Politik Pemuda".

    Orator kedua menjelaskan dengan lantang orasinya, bahwa Indonesia memiliki jumlah pemuda yang cukup besar yaitu 40.8 juta atau 40% dari total jumlah pemilih, itu artinya sangat besar pula peran politik pemuda dalam mempengaruhi arus pergerakan perubahan negeri ini. Tetap terperosok dengan sistem demokrasi atau melakukan perubahan revolusioner dengan sistem Khilafah untuk mewujudkan Indonesia lebih baik.

    Suara komunitas pemuda yang besar menjadi sasaran berharga dalam demokrasi. Dengan mekanisme seperti itu, sejatinya demokrasi telah merampok peran politik pemuda. Pemuda hanya dijadikan sasaran empuk dalam menjaring suara.

    Sebagian besar pemuda telah terbius oleh ide demokrasi. Pemuda terus diarahkan untuk memikirkan kepentingannya sendiri, tidak peduli pada urusan orang lain sehingga menjadikan pemuda semakin pragmatis, apolitis dan individualis.

    Indah menyatakan demokrasi telah merampok hak politik para pemuda dan telah membajak potensi pemuda Indonesia. "Jangan pertaruhkan masa depan kita dengan sistem rusak dan merusak ini!" tegasnya.

    Saatnya, "Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah!' seru Indah mengakhiri orasinya.


     Orasi ketiga dibawakan oleh Atiyah dengan mengangkat judul "Syariah dan Khilafah Menuju Perubahan Indonesia Lebih Baik" dan ditutup Orasi keempat oleh Kurnia Salama, A.Md dengan tema "Seruan Mahasiswa Bergabung dalam Perjuangan MHTI"

    Para orator menjelaskan dalam orasinya mengenai kemuliaan Islam. Islam adalah sebuah agama sekaligus ideologi. Artinya, Islam tidak hanya mengatur urusan spiritual saja, namun juga mengatur urusan kehidupan manusia di dunia ini. Betapa mulia politik Islam jika diimplementasikan dalam negara Khilafah. Betapa tidak, politik Islam yang bermakna pengaturan urusan rakyat, berarti mewajibkan penguasa negeri ini untuk menjamin kehidupan rakyat, baik kebutuhan pokok masyarakat seperti kesehatan, keamanan, dan pendidikan semua dipenuhi dengan dan berkualitas.

    Negara Indonesia ini kaya raya dan bahkan pernah dikenal sebagai zamrud khatulistiwa, sampai sekarangpun dunia dibuat kagum karena kekayaannya di darat dan di laut bahkan di dalam perut buminya. Negara ini negara yang besar, 33 propinsinya, ratusan jumlah kotanya, dan jutaan jiwa penduduknya, dan 80% mayoritasnya adalah Muslim. Allahu Akbar!!

    Di akhir orasi, para orator menyeru Intelektual Muslimah untuk bersama-sama memperjuangkan Syariah dan Khilafah sesuai metode kenabian sebagaimana telah dicontohkan Rasul dalam mendirikan Negara Islam di Madinah.

    Acara diakhiri dengan penandatangan spanduk "Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah untuk Indonesia lebih baik" diwakili oleh mahasiswa dari berbagai kampus, di antaranya dari Universitas Hasanuddin oleh ukhti Nita, dari Jadwa BKLDK oleh ukhti Nur Fitriani, serta dari UNM oleh ukhti Nina. Acara ditutup sekitar pukul 11.00 WITA dengan sangat tertib. Alhamdulillahi rabbilalamin. []


    Sumber: Fanpage  Muslimah4Khilafah (https://www.facebook.com/muslimah4khilafah)











      
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Panggung Politik Mahasiswi Makasar 2014 Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top