
PEKANBARU--Kualitas udara
di wilayah Kota Pekanbaru semakin memburuk. Laboratoriun udara Badan
Lingkungan Hidup (BLH) meman tau Indek Standar Pencemar Udara (ISPU)
berada di ring 500 dengan kategori berbahaya.
Status ring PM10: 500 tersebut, baru
terjadi untuk pertama kalin ya di Kota Pekanbaru yang dirilis Labor
udara. Udara terpapar partikel debu yang semakin pekat dan berpotensi
terus memburuk.
Kepala Labor udara BLH Pekanbaru, Syarial
mengatakan, data ISPU pada Jumat (14/3) pukul 19.30 WIB yakni PM10:
500, SO2: 57, CO: 75, 03: 27, NO2: 12, dengan kategori "berbahaya".
Asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru berdasarkan data tersebut semakin
parah dibanding dengan sebelumnya.
"Kualitas udara terus menurun setiap harinya (berdasarkan penga matan tiga stasiun)," ungkap Syarial.
Mem buruknya udara di Pekanbaru
berdasarkan pengamatan labor udara tersebut, akibat terpapar partikel
debu asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Tidak diketahui dari arah mana partikel
debu tersebut terbawa angin. Labor udara BLH Pekanbaru menjadikan tiga
titik untuk mewakili kualitas udara di Kota Bertuah ini.
"Tiga stasiun milik Labir udara berada di Sukajadi, Tampan dan yang paling jauh berada di Kulim," tambahnya.
Berdasarkan hasil pemantau tiga stasiun
tersebut, diketahui partikel debu Karhutla memenuhi udara. Partikel
debu berbahaya tersebut terpantau Labor udara sejak sebulan terakhir.
Di tempat terpisah, kementerian Lingkungan
Hidup menyatakan bahwa kondisi udara di Riau sudah terpapar racun dari
sisa pembakaran hutan dan lahan. Karena itu direkomendasikan agar
meningkatkan status bencana asap ini menjadi darurat nasional.
"Kabut asap yang terjadi ini sudah semakin
pekat. Riau sudah tidak layak huni bagi masyarakat," ungkap Kepala
Bidang Inventarisasi dan Pengembangan Sistem Informasi, Kementerian
Lingkungan Hidup, Ahmad Isroil.
Saat ini berdasarkan data Kemen-LH,
tercatat sekitar 7.000 hektare lahan terbakar. Dilaporkan lebih dari 53
ribu jiwa terkena penyakit paparan dari kabut asap.
Kualitas udara secara merata di Provinsi
Riau, tercatat sudah masuk level sangat berbahaya. Untuk itu, kata
Isroil, pihaknya berharap Pemprov Riau segera mengeluarkan peraturan
Gubernur terkait pelarangan aktivitas warga di luar rumah.
Selain itu Kemen-LH juga menyarankan libur
bersama bagi karyawan swasta dan pegawai negeri yang rentan terpapar
dampak asap, seperti ibu hamil. Balita dan lansia, juga termasuk
kalangan masyarakat yang rentan terkena dampak buruk asap.
Sementara itu Dokter Azizman Saad, ahli
paru dari RSUD Arifin Achmad Pekanbaru mengatakan, asap sangat berbahaya
dihirup oleh balita dan bayi. Bahkan dampak terparahnya, asap
menyebabkan pertumbuhan sel-sel otak akan berkurang. Ia juga mengatakan,
janin yang ada dalam kandungan akan terpengaruh pertumbuhannya bila
sang ibu terus menerus racun dari asap.
"Idealnya penduduk memang harus
diungsikan. Karena kalau melihat level udara yang berbahaya, Riau memang
tidak lagi layak huni. Saya sarankan lebih baik mengungsi daripada
membawa dampak buruk bagi kesehatan," kata Azizman.
Ia mengatakan, bahayanya asap kebakaran hutan setara dengan asap rokok yang dipadatkan karena
mengandung 4.000 partikel zat berbahaya. Bagi orang dewasa, dalam jangka
panjang asap dapat meningkatkan resiko terkena kanker paru-paru.
Menangani dampak bencana asap yang kian
berlarut-larut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengubah jadwal
kunjungan kerjanya. Dia mengatakan segera bertolak ke Riau untuk melihat
langsung upaya penanganan di lokasi.
"Saya melihat langsung, memimpin kegiatan
di sana, lalu saya percayakan pada BNPB. Saya meminta benar tanggung
jawab dan kerja keras dari pejabat negara dan pemerintah di Riau
sendiri," imbuhnya.(ilo/rpg/ jpnn/ syabab indonesia)

0 komentar:
Posting Komentar