![]() |
| Bill Gates, salah satu milyarder dunia (sumber: REUTERS/ Cristian Hartmann) |
Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin memang benar terjadi. Oxfam International, sebuah organisasi yang memperjuangkan kemiskinan, baru-baru ini menghebohkan World Economic Forum yang diselenggarakan di Davos, awal tahun lalu.
Dikutip dari Forbes, Rabu 26 Maret 2014, Oxfam International melansir sebuah laporan yang menyimpulkan bahwa 85 orang terkaya di dunia memiliki aset dengan nilai yang sama seperti yang dimiliki oleh setengah jumlah penduduk bumi atau 3,5 miliar orang miskin di dunia, termasuk di dalamnya anak-anak.
Kedua kelompok tersebut memiliki jumlah aset US$1,7 triliun. Perhitungan Oxfam didasarkan pada daftar orang terkaya di dunia 2013, yang dilansir oleh Forbes.
"Saya menelusuri untuk melihat lebih detail 85 miliarder dunia itu. Ketika itu, saya menyadari bahwa kekayaan mereka saat ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Orang kaya semakin kaya. Itu begitu cepat dan dramatis. Sebagai contoh, jika tahun lalu membutuhkan minimal US$23 miliar untuk dapat masuk ke 20 besar orang terkaya di dunia, tahun ini setidaknya miliarder membutuhkan US$31 miliar," ujar Luisa Kroll, editor desk kekayaan Forbes.
Akibatnya, angka yang disebutkan oleh Oxfam pun berubah. Berdasarkan daftar orang terkaya di dunia 2014, yang dilansir Forbes pada awal Maret itu ternyata hanya membutuhkan 67 miliarder untuk menyamakan dengan kekayaan setengah jumlah penduduk bumi.
Rata-rata jumlah kekayaan yang dimiliki oleh 67 miliarder tersebut sama dengan total kekayaan yang dimiliki oleh 52 juta orang di bagian piramida kekayaan paling bawah.
Bill Gates, orang terkaya di dunia saat ini memiliki jumlah kekayaan US$76 miliar, bernilai sama dengan kekayaan 156 juta jiwa orang miskin di dunia.
Lalu, siapakah 67 miliarder tersebut? Kelompok terbesar yakni 28 miliarder, memiliki kontribusi 42 persen adalah mereka yang berasal dari Amerika Serikat. Jerman dan Rusia memiliki jumlah tertinggi kedua, dengan masing-masing sebanyak enam miliarder. Sisanya, yakni 13 miliarder berasal dari negara-negara di Eropa Barat dan Asia Pasifik.
Kelompok terbesar miliarder tersebut berasal dari Amerika Serikat, tentu tidak terlalu mengejutkan, mengingat menurut Global Wealth Databook yang dikeluarkan Credit Suisse Tesearch Institute, negara itu memang memegang 30 persen dari total kekayaan di dunia.
Namun, Eropa yang memiliki sedikit lebih besar dari Amerika Serikat yakni 32 persen dari total kekayaan di dunia, mempunyai sedikit miliarder. Hal tersebut, karena ekonomi Eropa kurang dinamis, tidak sama seperti Amerika Serikat yang lebih banyak mendorong inovasi.
Perbandingan rasio orang terkaya dengan persentase kekayaan masing-masing negara dari kekayaan dunia juga terlihat sangat miring di Rusia. Sebagai negara, Rusia hanya memiliki 0,5 persen jumlah kekayaan dunia, tetapi menyumbangkan sembilan persen dari 67 miliarder dunia itu.
Adapun, 67 miliarder tersebut berasal dari tiga industri utama yakni sektor teknologi sebanyak 12 miliarder, sektor ritel sebanyak 12 miliarder, dan sisanya dari industri yang berbasis sumber daya alam seperti minyak dan gas, dan pertambangan.
Hampir semua miliarder teknologi itu berasal dari Amerika Serikat, seperti pemilik Microsoft, Oracle, dan Facebook. Sedangkan untuk sektor ritel didominasi oleh negara di Eropa Barat.
Sementara itu, sebagian besar uang yang didapatkan miliarder dari sumber daya alam berasal dari miliarder negara-negara berkembang, dengan mayoritas didominasi dari Rusia.
Sebagian besar miliarder yakni 60 persen dari 67 orang terkaya di dunia itu membuat kekayaannya sendiri. Kelompok ini menunjukkan adanya mobilitas kekayaan dari waktu ke waktu. Hal ini, juga menyiratkan adanya mobilitas kepemilikan kekayaan global.
Seperti diketahui, seharusnya sebagian besar orang terkaya di dunia berasal dari Eropa Barat yakni dari negara-negara yang sejak dulu memiliki jumlah kekayaan terbesar. Faktanya, pertama kali Forbes menyusun daftar orang terkaya di dunia sejak 1980-an, sebagian besar miliarder berasal dari Eropa Barat. Namun, saat ini hanya 13 miliarder dari 67 miliarder itu berasal dari Eropa Barat.
Mobilitas kekayaan dari miliarder tersebut juga diperkirakan akan semakin besar. Dari 67 miliarder itu, delapan di antaranya memberikan janji menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk kegiatan amal.
Salah satu miliarder yang lahir di India, tetapi saat ini tinggal di Amerika Serikat yakni Azim Premji, berniat akan memberikan US$150 miliar untuk kegiatan amal. Jumlah dermawan juga semakin bertambah. Bahkan, sebagian besar amal yang mereka lakukan bertujuan untuk melakukan perubahan jangka panjang untuk lebih dari 300 juta orang.
Terakhir, menurut data terbaru dari Forbes, jumlah kekayaan 66 miliarder di dunia setara dengan harta dari 3,5 miliar jiwa orang miskin di dunia. (asp). () viva.co.id/ syabab indonesia


0 komentar:
Posting Komentar