Tanya Jawab Seputar Fakta Vaksin dan Hukum Syara’ Atasnya
السؤال
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
أختكم في العقيدة – مدينة يوزييفا – أتوجه إلى العالم الجليل عطاء بن خليل أبو الرشتة أمير حزب التحرير حفظه الله ورعاه بمايلي
أنا شيشانية أعيش في بلجيكا منذ ١٤ عام حيث
تكثر الجالية الشيشانية. في الآونة الأخيرة كثر الحديث والتسائلات عن تطعيم
الأطفال في الإسلام أي التطعيم ضد الحصبة، وشلل الأطفال، إلتهاب الكبد
الوائي، النكاف، السل وغير ذلك من أنواع التطعيم، و يُرى توجه عارم ضد
التطعيم واللقاحات، ويعلل أصحاب هذا التوجه ذلك – بالمضاعفات التي تحدث
جراء التطعيم والتي هي في اضطراد متزايد وأن هذا ضرر لا يجوز تعريض أطفالنا
الاصحاء له، وكذلك إن العلاج ليس فرضاً فما بالكم بالوقاية فهي دون ذلك
بلا شك، ويواصلون القول: التطعيم يعني نقل الميكروب إلى جسم الطفل وهو
محرم، وكما أن الطعومات تؤخذ من الحيوانات كالقرد مثلاً. انتهى كلامهم
والسؤال: ما واقع التطعيم، وما هو الحكم
الشرعي فيه؟ وهل سيوجد في دولة الخلافة التطعيم بأنواعه؟ مع العلم أن نصف
الجالية المسلمة عندنا لا يطعمون أبنائهم، واعدادهم في تزايد، واصبح الحكم
الشرعي الواضح والقوي لا مفر منه، طالبين منكم الاسهاب والتوضيح ما استطعتم
لذلك سبيلا، وجزاكم الله عنا وعن المسلمين خير الجزاء
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Pertanyaan:
Assalaamu’alaykum,wr,wb
Dari saudara kalian seakidah –dari Kota
Bosnia- saya tujukan hal-hal berikut ini kepada al-‘Alim al-Jalil ‘Atha
bin Khalil Abu Ar-Rasythah Amir Hizbut Tahrir –semoga Allah senantiasa
menjaga dan menaunginya-:
Saya adalah muslimah Chechnya, saya
tinggal di Bolsevik sejak 14 tahun lalu semenjak banyaknya komunitas
kaum wanita Chechnya. Pada periode akhir-akhir ini terjadi banyak
fenomena dan muncul beragam pertanyaan seputar vaksinasi anak dalam
Islam yakni vaksinasi untuk menangkal penyakit campak, polio, hepatitis,
radang/ gondok, penyakit TBC, dan beragam jenis vaksin lainnya, dan
muncul penentangan keras terhadap vaksinasi dan jenis pengobatan
suntikan-suntikan lainnya, dan kelompok ini menjustifikasi pandangannya
dengan adanya beragam komplikasi yang terjadi yang disebabkan oleh
vaksin dan hal itu kian meningkat.
Maka vaksin (dianggap) berbahaya
sehingga tidak boleh menjerumuskan anak-anak kita yang sehat ke dalam
bahaya, dan karena sesungguhnya berobat itu hukumnya bukan fardhu dan
(dinyatakan) apa yang menghalangi kalian untuk melakukan tindakan
pencegahan (preventif) dan tak ada keraguan bahwa pencegahan bukanlah
pengobatan.
Dan telah sampai pernyataan: vaksinasi
yakni memindahkan miroba ke dalam tubuh anak dan hal ini diharamkan,
misalnya vaksin-vaksin yang diambil dari bagian tubuh binatang-binatang
semisal kera, selesai pendapat mereka.
Dan pertanyaannya: bagaimana fakta
vaksin sebenarnya, dan bagaimana hukum syara’ atas vaksinasi? Dan apakah
ada vaksinasi dengan beragam jenisnya dalam Daulah Khilafah kelak?
Seiring dengan adanya informasi bahwa setengah dari komunitas muslimah
di negeri kami tidak memvaksinasi anak-anaknya, dan jumlah mereka kian
meningkat, sedangkan hukum syara’ yang sudah jelas dan dilandasi
argumentasi kuat tidak memberikan peluang untuk menghindarinya, maka
kami meminta perincian dan penjelasan dengan segenap kemampuan anda
untuk menjelaskan jawabannya, dan semoga Allah membalas kebaikan anda
pada kami dan kaum muslimin dengan sebaik-baiknya balasan.
Wa’alaykumussalaam,wr,wb.
:الجواب
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
:التطعيم هو دواء، والتداوي هو مندوب وليس فرضاً، ودليل ذلك
١-روى البخاري من طريق أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم «مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
وروى مسلم عن جابر بن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لِكُلِّ
دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
عَزَّ وَجَلَّ»، وروى أحمد في مسنده عن عبد الله بن مسعود «مَا أَنْزَلَ
اللَّهُ دَاءً، إِلَّا قَدْ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ
عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ».وهذه الأحاديث فيها إرشاد بأن لكل داء
دواءً يشفيه، ليكون ذلك حاثاً على السعي لحصول التداوي الذي يؤدي إلى شفاء
الداء بإذن الله سبحانه، وهذا إرشاد وليس إيجاباً
JAWABAN:
Wa’alaykumussalaam,wr,wb.
Vaksin merupakan obat, dan berobat hukumnya sunnah bukan fardhu, dan dalilnya adalah:
Pertama, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari jalur Abu Hurayrah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah Allah turunkan suatu penyakit, melainkan Allah turunkan pula penawarnya.” (HR. Al-Bukhari)
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah dari Nabi SAW bersabda:
“Setiap penyakit itu ada obatnya,
jika ditemukan suatu obat yang tepat atas suatu penyakit maka akan
sembuh dengan idzin Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)
Dan diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Abdullah bin Mas’ud:
“Tidaklah Allah turunkan penyakit,
melainkan Allah turunkan pula penawarnya, baik yang diketahui orang yang
telah mengetahuinya, maupun yang tidak diketahui orang yang tidak
mengetahuinya.” (HR. Ahmad)
Hadits-hadits ini mengandung petunjuk
bahwa setiap penyakit itu ada obat penawarnya, hal itu merupakan
dorongan untuk mengupayakan pengobatan yang mengantarkan pada kesembuhan
dari penyakit dengan idzin Allah SWT, dan petunjuk tersebut merupakan
suatu anjuran bukan perintah wajib.
٢- روى أحمد عن أنس قال: إن رسول الله صلى
الله عليه وسلم قال: «إِنَّ اللَّهَ حَيْثُ خَلَقَ الدَّاءَ، خَلَقَ
الدَّوَاءَ، فَتَدَاوَوْا»، وروى أبو داود عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ،
قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ
كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِهِمُ الطَّيْرُ، فَسَلَّمْتُ ثُمَّ قَعَدْتُ،
فَجَاءَ الْأَعْرَابُ مِنْ هَا هُنَا وَهَا هُنَا، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: «تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ
وَاحِدٍ الْهَرَمُ» أي “إلا الموت
Kedua, Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah ketika menciptakan penyakit, Allah pun menciptakan obatnya, maka berobatlah.” (HR. Ahmad)
Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Usamah
bin Syarik, ia berkata: “Saya mengunjungi Nabi SAW dan para sahabatnya,
dan di atas kepala mereka seakan-akan ada burung, maka aku memberi salam
lalu duduk, lalu datanglah seorang Arab Badui dari arah ini dan arah
itu, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah, apakah kami mesti berobat?”
Rasulullah SAW menjawab: “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya
Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah menurunkan suatu penyakit melainkan Allah
turunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit ketuaan, yakni kematian.”
ففي الحديث الأول أمر بالتداوي، وفي هذا
الحديث إجابةٌ للأعراب بالتداوي، ومخاطبة للعباد بأن يتداووا، فإن الله ما
وضع داءً إلاّ وضع له شفاءً. وقد جاءَت المخاطبة في الحديثين بصيغة الأمر،
والأمر يفيد مطلق الطلب، ولا يفيد الوجوب إلاّ إذا كان أمراً جازماً،
والجزم يحتاج إلى قرينة تدل عليه، ولا تُوجد في الحديثين أية قرينة تدل على
الوجوب، إضافة إلى أنه وردت أحاديث تدل على جواز ترك التداوي، ما ينفي عن
هذين الحديثين إفادة الوجوب
Maka dalam hadits pertama di atas,
terdapat perintah untuk berobat, karena dalam hadits tersebut terdapat
perintah terhadap Arab Badui untuk berobat dan perintah bagi hamba-hamba
Allah agar mereka berobat, karena tidaklah Allah turunkan suatu
penyakit melainkan Allah turunkan pula penawarnya. Dan sungguh jelas
pernyataan dalam dua hadits di atas berupa lafazh perintah, dan suatu
perintah mengandung faidah adanya tuntutan, namun perintah dalam hadits
ini tidak berfaidah wajib kecuali jika tuntutan tersebut merupakan
perintah yang tegas, dan ketegasan (jazm) ini membutuhkan
indikasi yang menunjukkan pada ketegasannya, dan tidak ditemukan dalam
dua hadits ini suatu indikasi yang menunjukkan pada perintah wajib,
disebabkan adanya keterangan dalam hadits-hadits lainnya yang
menunjukkan bolehnya tidak berobat, yakni yang menafikan keterangan
wajib dari dua hadits ini.
فقد روى مسلم عن عمران بن حصين أن النبي صلى
الله عليه وسلم قال: «يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ
أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ» ، قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟
قَالَ: «هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ، وَعَلَى
رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ»، والرقية والكي من التداوي. وروى البخاري عن
ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ: … هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ،
وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ
وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ»
فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي
أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، «فَدَعَا لَهَا…». فهذان الحديثان يدلان على جواز
ترك التداوي
Dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushayn bahwa Nabi SAW bersabda:
“Akan masuk surga dari umatku sebanyak 70 ribu orang tanpa hisab.”
Lalu para sahabat berkata: “Siapa mereka wahai Rasulullah SAW?” Rasulullah SAW bersabda:
“Mereka adalah orang-orang yang tidak
melakukan pengobatan kay, tidak melakukan ruqyah, dan mereka
bertawakkal kepada Rabb mereka.” (HR. Muslim)
Ruqyah dan kay (pengobatan dengan besi
panas) termasuk pengobatan, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas
r.a.: ia berkata:
“Wanita berkulit hitam ini, ia pernah
menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata: “Sesungguhnya
aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang
kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku.” Beliau SAW bersabda: “Jika
kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan,
maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Ia
berkata: “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi; “Namun
berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka beliau
mendoakan untuknya.”
Maka dua hadits ini menunjukkan bolehnya tidak berobat.
وكل ذلك يدل على أن الأمر الوارد “فتداووا”،
“تداووا” ليس للوجوب، وإذن فالأمر هنا إما للإباحة وإما للندب، ولشدة حث
الرسول صلى الله عليه وسلم على التداوي، يكون الأمر بالتداوي الوارد في
الأحاديث للندب. وعليه فإن التطعيم حكمه الندب، لأن التطعيم دواء، والتداوي
مندوب، إلا أنه إذا ثبت أن نوعاً معيناً من التطعيم ضار كأن تكون مواده
فاسدة أو ضارة لسبب ما… فإن التطعيم في هذه الحالة بهذه المواد يكون حراماً
وفق قاعدة الضرر من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي أخرجه أحمد في
مسنده عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ». غير أن هذه حالات نادرة
Dan semua ini menunjukkan bahwa perintah
yang disebutkan dalam ungkapan “maka berobatlah”, “berobatlah” bukan
perintah wajib, dengan demikian perintah di sini bisa jadi mubah atau
sunnah, dan dengan adanya dorongan kuat Rasulullah SAW untuk berobat,
maka perintah berobat yang disebutkan dalam hadits-hadits tersebut
merupakan perintah sunnah. Maka dengan demikian vaksinasi hukumnya
sunnah, karena vaksinasi termasuk pengobatan, dan berobat hukumnya
sunnah, kecuali jika telah dipastikan bahwa jenis tertentu dari vaksin
tersebut memang berbahaya misalnya terdapat bahan-bahan kandungan yang
merusak atau berbahaya karena suatu sebab… Maka vaksin dalam kasus ini dengan bahan-bahan kandungan seperti ini hukumnya menjadi haram berdasarkan kaidah tentang perkara dharar dari hadits Rasulullah SAW yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Ibn ‘Abbas r.a., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ahmad)
Terlepas dari fakta bahwa kondisi-kondisi (vaksin) ini langka.
Vaksin dalam Daulah Khilafah
وأما في دولة الخلافة فسيكون هناك تطعيم ضد
الأمراض التي تقتضي ذلك كالأمراض المعدية ونحوها، ويكون الدواء نقياً من كل
شائبة وصافيا، والله سبحانه هو الشافي (وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ
يَشْفِينِ). والمعروف شرعاً أن الرعاية الصحية هي من الواجبات على الخليفة
من باب رعاية الشئون عملاً بقول الرسول صلى الله عليه وسلم: «الإِمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ» أخرجه البخاري عن عبد الله بن
عمر
Dan adapun kebijakan dalam Daulah
Khilafah, maka akan ada program vaksinasi untuk mengatasi
penyakit-penyakit yang memang membutuhkannya, misalnya penyakit-penyakit
endemik (wabah) dan yang semisalnya, begitu pula dengan ketersediaan
obat yang bersih dari segala bahan-bahan yang najis dan sifatnya suci,
dan hakikatnya Allah SWT yang Maha Menyembuhkan:
“Dan jika aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkanku” (TQS. Asy-Syu’araa [26]: 80)
Dan telah diketahui secara syar’i bahwa
pemeliharaan urusan kesehatan termasuk kewajiban Khalifah diantara
fungsi pemeliharaan urusan-urusan rakyat mengamalkan pesan Rasulullah
SAW:
“Imam itu adalah penggembala dan ia bertanggungjawab atas gembalaannya (rakyatnya)” (HR. al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar)
وهذا نص عام على مسؤولية الدولة عن الصحة والتطبيب لدخولهما في الرعاية الواجبة على الدولة. وهناك أدلة خاصة على الصحة والتطب
أخرج مسلم من طريق جابر قال: «بَعَثَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ طَبِيبًا
فَقَطَعَ مِنْهُ عِرْقًا ثُمَّ كَوَاهُ عَلَيْهِ». وأخرج الحاكم في
المستدرك عن زيد بن أسلم عن أبيه قال: «مَرِضْتُ فِي زَمَانِ عُمَرَ بِنَ
الْخَطَّابِ مَرَضاً شَدِيداً فَدَعَا لِي عُمَرُ طَبِيباً فَحَمَانِي
حَتَّى كُنْتُ أَمُصُّ النَّوَاةَ مِنْ شِدَّةِ الْحِمْيَةِ
فالرسول صلى الله عليه وسلم بوصفه حاكماً
بعث طبيباً إلى أبيّ، وعمر رضي الله عنه الخليفة الراشد الثاني دعا بطبيب
إلى أسلم ليداويه، وهما دليلان على أن الصحة والتطبيب من الحاجات الأساسية
للرعية التي يجب على الدولة توفيرها مجاناً لمن يحتاجها من الرعية
Dan ini adalah nash umum atas
tanggungjawab negara terhadap kesehatan dan pengobatan, untuk memasukkan
keduanya bagian dari urusan pemeliharaan yang wajib dipenuhi oleh
negara. Dan ada pula dalil-dalil khusus atas kewajiban pengurusan
kesehatan dan pengobatan:
Dikeluarkan oleh Imam Muslim dari jalur
Thariq bin Jabir, ia berkata: “Rasulullah SAW telah mengutus seorang
dokter kepada ‘Ubay bin Ka’ab, kemudian dokter ini memotong pembuluh
darahnya kemudian membakarnya dengan besi panas (pengobatan dengan kay).”
Dan dikeluarkan oleh Imam al-Hakim dalam Al-Mustadrak
dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya, ia berkata: “Saya menderita sakit
dengan rasa sakit yang sangat pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab,
lalu ‘Umar mengutus seorang dokter kepadaku, dan ia merawatku sehingga
aku menghisap biji-bijian sebagai bagian dari ketatnya aturan makan
(diet).”
Maka Rasulullah SAW dengan sifatnya
sebagai penguasa mengutus dokter kepada ‘Ubay bin Ka’ab, begitu pula
‘Umar bin al-Khaththab r.a. yang merupakan al-khalifah ar-Raasyid
yang kedua mengutus dokter kepada Aslam untuk mengobatinya, dan
keduanya adalah dalil bahwa kesehatan dan pengobatan termasuk kebutuhan
primer bagi rakyat, dimana wajib bagi negara untuk menjaminnya secara
cuma-cuma bagi rakyat yang membutuhkannya.
0 komentar:
Posting Komentar