Kebanyakan pelanggaran tersebut berkaitan dengan isu seks, mulai dari selingkuh, mengunjungi rumah bordil hingga menggunakan jasa prostitusi atau pekerja seks komersial (PSK) di sela-sela tugasnya mengawal presiden saat berkunjung ke luar negeri. Demikian seperti dilaporkan The Washington Post dan dilansir AFP, Sabtu (16/11/2013).
The Washington Post menyebut informasi tersebut dikutip dari seorang anggota komite Senat AS bernama Senator Ronald Johnson yang bertugas mengawasi Secret Service. Johnson yang politisi Republik ini mengaku mendapat laporan dari seorang sumber atau bisa disebut sebagai whistleblower yang memahami isu tersebut.
Menurut Johson, informasi ini sangat bertentangan dengan pernyataan yang selama ini disampaikan pimpinan Secret Service bahwa lembaganya tidak mentolerir adanya perilaku seksual yang tidak pantas. Namun sayangnya, Johnson menolak untuk memberitahukan tindakan pelanggaran yang disebutnya itu.
Tapi artikel yang dirilis The Washington Post menyebutkan keterangan dua sumber lain yang memahami isu ini, yang mengatakan bahwa para agen Secret Service, termasuk atasannya, kerap menggunakan jasa prostitusi dan mengunjungi rumah bordil selama kunjungan kerja di beberapa negara.
Pelanggaran lainnya, menurut sumber tersebut, yakni ada beberapa agen yang berselingkuh dari istri saat bertugas di luar negeri. Tidak sedikit juga agen yang menjalani one-night stands maupun hubungan jangka panjang dengan wanita asing yang sama sekali tidak dilaporkan.
The Washington Post menyebutkan, seorang whistleblower menyatakan bahwa seorang pejabat senior pada lembaga Secret Service menyadari dan mengetahui anak buahnya kerap menggunakan jasa prostitusi saat bertugas di dalam maupun luar negeri.
Laporan The Washington Post ini muncul setelah laporan dipecatnya dua agen senior Secret Service karena melakukan pelanggaran berbau isu seks. Kedua agen tersebut masuk dalam kelompok elite yang bertugas langsung dalam pengamanan Presiden AS Barack Obama.() detik.com

0 komentar:
Posting Komentar