
syindo press--Edward Snowden berhasil membuka mata dunia akan kejahatan Amerika dalam menyadap negara lain. Tak hanya negara jajahan saja yang disadap bahkan negara sekutu terdekat Amerika pun tak luput dari sadapan Amerika. Direktur NSA, Jendral Keith Alexander telah mengakui bahwa penyadapan itu atas perintah negaranya( Baca:Direktur NSA Akui Penyadapan Atas Perintah Negaranya).
Sehingga Amerika sulit mengelak atas kesaksian Snowden atas aksi penyadapan oleh NSA. Bahkan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mengeluarkan pernyataan pengakuan sebagai berikut, "Saya pastikan Anda, orang-orang tak bersalah tidak diperlakukan sewenang-wenang dalam proses ini, namun memang ada upaya untuk mencoba mengumpulkan informasi," ujar Kerry pada konferensi di London, Inggris via video link.
"Dan ya, pada beberapa kasus, itu telah sangat kelewatan," tutur Kerry seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (1/11/2013).( Baca: Menlu AS Akui Amerika Lakukan Penyadapan Komunikasi)
Ramainya informasi tentang penyadapan yang dilakukan oleh Dinas Intelejen Amerika menimbulkan reaksi dari beberapa pimpinan negara yang menjadi korban penyadapan. Berikut rinciannya yang berhasil dihimpun oleh syababindonesia.com.
1. Perancis
Menyikapi penyadapan yang dilakukan terhadapnya, Kanselir Jerman Angela Merkel dikabarkan mengontak Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Merkel memprotes aksi intelijen AS yang menyadap teleponnya.
“Penyadapan terhadap pemimpin negara sangat dilarang. Ini merupakan pelanggaran kepercayaan,” ujar Juru Bicara Merkel, Steffen Seibert, seperti dikutip Associated Press, Kamis (24/10/2013).( Baca: Teleponnya Disadap, Kanselir Jerman Protes ke Obama)
2. Brasil
Buntut penyadapan Amerika terhadap Presiden Brasil, Dilma Roussef membuat gusar kepala negara sekaligus rakyat Brasil. Dilma Roussef meminta Amerika Serikat untuk meminta maaf.
Roussef ketika diwawancara grup media asal Brasil, RBS, mengatakan ia seharusnya melakukan kunjungan kenegaraan ke Washington, Oktober lalu. Namun ia membatalkan kedatangan dia setelah dokumen Badan Keamanan Nasional AS bocor ke ranah publik.
Berdasarkan dokumen yang dibocorkan Edward Snowden, NSA disebut menyadap pembicaraan Roussef dan kabinet. NSA juga meretas jaringan komputer perusahaan minyak negara, Petrobras.
Tak hanya sampai situ, NSA juga mencegat email dan panggilan telepon warga Brasil dalam kurun waktu tertentu. Kalau saja Amerika Serikat meminta maaf, ujar dia, mungkin ia akan mengunjungi Washington ketika itu.
Atas dasar itu, ungkap dia hanya ada satu cara untuk memecahkan masalah ini. "Amerika Serikat harus meminta maaf dan meyakinkan kami untuk tak melakukan lagi," tutur dia, Kamis (7/11).
Tak ada cara lain, ungkap dia, untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab, papar dia, penjelasan Pemerintah AS bahwa kegiatan NSA bertujuan untuk memerangi terorisme benar-benar tak masuk akal.
Apalagi bila mengingat baik Brasil, Jerman dan Perancis adalah negara-negara yang tak memiliki kaitan dengan terorisme. Untungnya, hubungan lama antara Brasil dan Amerika Serikat tak terganggu ulah intelijen NSA. "Tapi kita tetap tak bisa menerima seorang presiden dimata-matai," katanya.( Baca: Jantan, Brasil Protes Keras dan Tuntut AS Meminta Maaf atas Penyadapan )
3. Meksiko
Pemerintah Meksiko marah setelah laporan NSA memata-matai presiden mereka pada tahun 2010 terbongkar. E-mail Felipe Calderon yang pada 2010 menjabat sebagai Presiden Meksiko, disadap oleh Badan Nasional Keamanan (NSA) Amerika Serikat.
Kementerian Luar Negeri Meksiko mengutuk keras tindakan mata-mata NSA terhadap Calderon, yang saat ini telah menjadi mantan Presiden Meksiko. Laporan tindakan mata-mata NSA itu menjadi laporan media Jerman, Der Spiegel, yang bersumber dari bocoran bekas kontraktor NSA, Edward Snowden.
“Tindakan mata-mata tidak bisa diterima, ilegal, dan dan bertentangan dengan norma hubungan negara,” bunyi kecaman Kementerian Luar Negeri Meksiko, seperti dikutip BBC, Senin (21/10/2013).
Kementerian itu mendesak Presiden AS, Barack Obama, untuk menyelesaikan masalah itu dengan melakukan penyelidikan hingga tuntas. ”Dalam hubungan bertetangga dan bermitra, tidak ada tempat untuk praktik dugaan (mata-mata),” lanjut pernyataan Kementerian itu.
4. Indonesia
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memanggil Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa terkait pemberitaan dari media Australia Sydney Morning Herald yang menyebut Kedutaan Australia melakukan penyadapan di Indonesia.
"Presiden minta Menlu berkomunikasi dan minta klarifikasi ke pihak-pihak terkait. Menlu juga telah bekerja dan telah lapor,"kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, di Komplek Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (1/11/2013).
SBY menyesalkan jika hal yang diberitakan tersebut benar adanya. Pemerintah saat ini juga sedang menunggu keterangan resmi dari pihak Australia.
"Tapi pada prinsipnya, kalau benar seperti diberitakan sungguh ini sangat disesalkan. Karena suatu hubungan diplomasi tidak boleh terkontaminasi dengan aksi penyadapan," paparnya.
Menurut Julian, pemerintah juga belum memberikan nota protes kepada Australia. Karena masih menunggu penjelasan dari Negeri Kanguru tersebut.
"Kami harus pastikan dulu dan menunggu penjelasan. Kalau sudah ada klarifikasi nanti Menlu yang akan sampaikan," jelasnya.( Baca: Lambat..!!!! Disadap Australia, SBY Belum Beri Nota Protes )

0 komentar:
Posting Komentar