
Krisis Suriah
sudah berlangsung 2 tahun lebih. Jumlah korban pun mencapai lebih dari
100 ribu jiwa. Perlawanan rakyat Suriah ini, berbeda dengan yang
lainnya. Seruan penegakan syariah Islam, Khilafah atau Pemerintahan
Islam sangat kuat. Penolakan terhadap kelompok oposisi dan seruan
demokrasi pun banyak ditolak. Tidak mengherankan berbagai cara dilakukan
Negara Barat dan rezim Suriah untuk mempertahankan diri, termasuk
menciptkan mitos-mitos sebagai bagian dari penyesatan politik.
Beberapa di antara mitos itu antara lain:
1. Krisis di Suriah adalah perang saudara yang masalah utamanya adalah perbedaan sektarian.
Revolusi di Suriah terjadi dalam konteks
Revolusi Arab (Arab Spring), yang berakibat pada tumbangnya beberapa
rezim diktator di kawasan ini. Gelombang perubahan ini—saat
itu—tinggal menunggu waktu untuk mencapai Suriah.
Pada Maret 2011, sejumlah pelajar muda
membuat coretan, ‘Suriah memerlukan perubahan sistem,” dalam bentuk
grafiti di Dera’a , di bagian selatan negara itu. Rezim Suriah, yang
dilanda kekhawatiran melihat tergulingnya pemimpin-pemimpin Arab saat
itu- bereaksi dengan marah. Rezim menangkap para remaja itu dan lebih
dari selusin anak laki-laki, kemudian menyiksa mereka selama
berminggu-minggu.
Beberapa orang kemudian mengecam
peristiwa ini yang kemudian menjadi gelombang protes secara nasional.
Tipikal rezim yang memang brutal kemudian menanggapi lebih keras lagi.
Pasukan keamanan dengan cepat menanggapi protes massa yang menyebar
dengan cepat dengan cara menembakkan peluru tajam kepada kerumunan massa
dan titik-titik protes massal terjadi.
Akhirnya, pada Maret 2011 umat Islam
Suriah memperjelas sikap mereka terhadap rezim Suriah. Mereka tidak mau
lagi hidup di bawah penindasan. Di seluruh negeri, rakyat Suriah
mengangkat senjata. Di sisi lain rezim Bashar semakin brutal dengan
membantai demonstran tanpa pandang bulu.
Khawatir nasibnya akan berakhir seperti
Ben Ali, Mubarak dan Gaddafi, Bashar Assad memerintahkan operasi militer
besar-besaran untuk menindas gerakan perlawanan.
Narasi perang sektarian di Suriah adalah ide palsu. Dari sejak awal Revolusi Suriah, ini adalah gerakan untuk melawan ‘security state’ sekular yang menindas; rezim Arab Ba’athist yang nasionalis; rezim yang dipimpin dan didominasi oleh komunitas Alawi.
Usaha untuk menggambarkan Revolusi
Suriah sebagai perjuangan kaum sektarian, bukan gerakan perlawanan
terhadap diktator sekular, pertama kali dimainkan rezim Assad. Rezim
inilah yang menyatakan perlawanan rakyat Suriah bersifat sektarian.
Rezim Bashar juga mengklaim mereka bukan
menghadapi perlawanan rakyat yang menuntut pembubaran rezim diktator.
Dengan begitu banyaknya ketidakstabilan dalam negara, sebagian telah
terlibat dalam tindakan sektarianisme yang sifatnya individual. Sebagian
di antaranya adalah reaksi yang tak terelakkan atas sektarianisme
terbuka yang diperkenalkan oleh rezim dalam perjuangan melawan
lawan-lawannya. Ditambah dengan retorika anti Syiah yang sebagian besar
dimunculkan Arab Saudi.
Namun, harus jelas bahwa pemberontakan
ini pada asalnya tidak karena sifat Alawi atau Syiah dari rezim, tetapi
sebagai akibat dari kemarahan dan ketidakpuasan terhadap kediktatoran
sekular yang mengakibatkan rakyat Suriah menderita di bawah tekanannya
selama beberapa dekade.
2. Barat mendukung rakyat Suriah dalam perjuangan melawan Bashar Assad.
Narasi tentang dukungan Amerika Serikat
dan Perancis atau terhadap rakyat Suriah hanyalah retorika belaka. Apa
yang dikatakan Barat dan apa yang sebenarnya mereka lakukan sangat
berbeda. Inggris dan AS memperjelas posisi mereka ketika pemberontakan
dimulai. William Hague (Inggris) dan Hilary Clinton (Amerika)
menggambarkan Assad sebagai seorang reformis yang harus diberikan
kesempatan.
Pada saat perlawanan menyebar dan
menjadi tindakan kekerasan, AS mulai berbicara dengan kelompok-kelompok
oposisi tertentu dan para pembelot, yang akhirnya membentuk Dewan
Nasional Suriah (SNC). Dalam waktu singkat, kelompok ini berubah menjadi
oposisi resmi, meskipun mereka tidak pernah hadir di Suriah.
Barat hanya mendukung kubu ini karena
mereka tidak ingin elemen-elemen yang berpikiran Islam dari penduduk
Suriah memiliki pengaruh di negara itu. The New York Times
menyoroti hal ini, “Para pejabat Amerika telah semakin khawatir bahwa
anggota perlawanan ekstremis yang melawan pemerintah Presiden Bashar
Assad, terutama Jabhah al-Nushrah, akan mengambil alih beberapa bagian
Suriah dan memperkuat kewenangannya dengan memberikan layanan publik,
sebagaimana yang telah banyak dilakukan Hizbullah di Libanon.”
Jeffrey White, mantan perwira intelijen
Badan Pertahanan dan ahli kemiliteran Suriah mengatakan, “Pemerintahan
AS tahu bahwa jika mereka tidak mulai melakukan sesuatu, perang akan
berakhir dan mereka tidak akan memiliki pengaruh terhadap pasukan tempur
di lapangan. Mereka mungkin memiliki pengaruh atas berbagai kelompok
politik dan faksi-faksi, tetapi mereka tidak akan memiliki pengaruh atas
para pejuang, dan para pejuang akan mengontrol wilayah itu.”
The New York Times selanjutnya
mengkonfirmasikan, “Distribusi senjata terutama bagi kelompok-kelompok
bersenjata yang dipandang sebagai kelompok nasionalis dan sekular, dan
tampaknya dimaksudkan untuk memotong kelompok-kelompok jihad yang
perannya dalam perang, telah menimbulkan kekhawatiran negara-negara
Barat dan wilayah regional.”
Semua ini jelas menunjukkan bahwa AS dan
Barat lebih menyukai hasil yang sangat spesifik di Suriah dan itu
adalah bagi sebuah faksi di Suriah yang muncul sebagai pemenang atas
faksi-faksi lain.
3. Rakyat Suriah ingin transisi pemerintahan menuju demokrasi Barat, namun Islam radikal telah membajak pemberontakan.
Bukti-bukti yang ada bertentangan dengan
hal ini. Kelompok-kelompok dan faksi-faksi Barat telah berbicara banyak
dan menyebarkan pandangan seperti ini. Namun, dari lapangan pertempuran
dan penduduk setempat di negara itu jelas bahwa mereka meminta
pemerintahan Islam.
Studi terbaru IHS Jane, sebuah konsultan
pertahanan, menyimpulkan bahwa elemen-elemen Islam berkisar dalam
jumlah 100.000 pejuang, yang membentuk sekitar 1.000 brigade. Menurut
kesimpulan, mereka hanya sebagian kecil dari para pejuang itu yang
terkait dengan kelompok-kelompok sekular atau kelompok-kelompok yang
murni nasionalis.
Pada bulan Juni 2013, Al-Jazeera
menayangkan serangkaian wawancara (dalam bahasa Arab) dengan para
pemimpin kelompok bersenjata utama yang melawan rezim Assad di Suriah.
Totalnya ada enam wawancara. Hal yang penting dari wawancara tersebut
adalah suatu kenyataan bahwa dunia tidak pernah mendengar banyak dari
pandangan para komandan lapangan atau para pejuang yang sebenarnya di
lapangan.
Sejauh ini, Revolusi Suriah telah
diwakili oleh tokoh-tokoh politik dari Koalisi Nasional Suriah (SNC).
Wawancara-wawancara itu mengungkapkan kesamaan antar para komandan
pejuang, yakni:
a) Revolusi Suriah dimulai setelah rezim memberangus demonstrasi damai.
b) Tidak ada negosiasi dengan rezim atau sisa-sisa rezim.
c) Sistem masa depan Suriah harus didominasi oleh kaum Sunni Muslim karena mereka mewakili mayoritas rakyat Suriah.
d) Rezim pada masa depan tidak akan
bersahabat dengan negara-negara atau badan-badan yang mendukung Assad
dan rezimnya, seperti Iran dan Hizbullah.
4. Pembicaraan Jenewa merupakan upaya untuk mengakhiri konflik.
Pembicaraan Jenewa yang diorganisir
oleh Barat meminta Koalisi Nasional Suriah agar bisa bernegosiasi dengan
rezim Assad dan menyetujui kompromi dengan mengorbankan tuntutan
rakyat. Pembicaraan ini mewakili posisi Barat untuk mempertahankan rezim
sekuat tenaga dan mempersiapkan kelompok bersenjata yang mau
berkompromi.
Leon Panetta, dalam sebuah wawancara
dengan CNN pada Juli 2012, mengatakan, “Saya kira penting ketika Assad
hengkang—dan dia akan hengkang—untuk mencoba menjaga stabilitas di
negara itu. Cara terbaik untuk mempertahankan stabilitas ini adalah
dengan mempertahankan militer dan polisi sebanyak mungkin yang anda bisa
lakukan, bersama dengan pasukan keamanan, dan berharap bahwa mereka
melakukan transisi kepada bentuk pemerintahan yang demokratis. Itulah
kuncinya.”
Menteri Luar Negeri AS memperjelas
posisi AS setelah Assad menggunakan senjata kimia di Timur Damaskus,
bahwa kalaupun intervensi dilakukan bukanlah untuk pergantian rezim. Wall Street Journal
mengkonfirmasi pada tanggal 2 September bahwa, Gedung Putih ingin
memperkuat pihak oposisi namun tidak ingin mereka menang. Demikian kata
orang-orang yang menghadiri briefing tertutup oleh para pejabat
Pemerintah selama beberapa minggu terakhir. Pemerintah tidak ingin
serangan udara AS, misalnya, mengubah keseimbangan konflik karena
khawatir kelompok Islam akan mengisi kekosongan jika rezim Assad jatuh.“
5. Para pejuang tidak bisa mengalahkan rezim Assad dan harus bernegosiasi dengan rezim.
Di mana pun rezim Assad bertempur,
strategi mereka adalah menghancurkan pihak oposisi dengan menggunakan
kekuatan yang maksimal, mengepung kota dan menembak tanpa pandang bulu
untuk membasmi perlawanan.
Meskipun rezim Assad memiliki lebih
banyak senjata, mereka telah gagal menahan kelompok-kelompok pejuang
yang bergerak menuju Damaskus. Perlawanan ini menyebar dengan sangat
cepat dan berubah menjadi perlawanan rakyat sehingga mengakibatkan
serangan membabi buta oleh.
Dalam melawan rezim, para pejuang
memanfaatkan taktik gerilya, dengan mentargetkan dan memotong jalur
pasokan rezim di seluruh negeri. Dengan menargetkan rezim di seluruh
pelosok negara, mereka mampu melakukan serangan terhadap pangkalan udara
militer, yang memungkinkan mereka untuk mengisi stok senjata mereka dan
memperoleh senjata-senjata yang lebih canggih.
Rezim Assad telah kehilangan hampir
semua bagian utara negara itu, di wilayah pedesaan juga beberapa daerah
selatan. Rezim baru saja merebut kembali Homs dari tangan para pejuang
dengan bantuan Iran dan Hizbullah, namun sekarang berjuang untuk terus
mempertahankannya. Pada saat ini keseimbangan strategis telah bergeser
dalam pertempuran antara rezim dan kelompok-kelompok pejuang. Dalam
konteks inilah AS sedang berbicara mengenai intervensi militer.
Pengumuman koalisi baru yang berdasarkan
Islam yang mencakup 11 kelompok terbesar di Suriah menunjukkan, bahwa
para pejuang sedang menyatukan sumberdaya mereka bersama-sama dan
mengkonsolidasikan posisi mereka saat mereka masuk ke Damaskus.
Kenyataannya, rezim Assadlah yang mulai
terlihat kehilangan cengkeramannya, dan berusaha melakukan negoisasi
dengan para pejuang untuk mendapatkan jalan keluar. Jika tidak,
al-Assad akan segera menghadapi masa keruntuhannya seperti yang terjadi
pada rekannya Moammar Gaddafi ketika dia ditangkap dan bersembunyi di
sebuah pipa limbah di kota kelahirannya. [rz/ http://www.hizb.org.uk/current-affairs/the-5-biggest-myths-on-the-syrian-uprising] hti press

0 komentar:
Posting Komentar