
JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, mengatakan slogan pemerintah untuk membantu KPK memberantas dan mencegah, dan mengusut korupsi hanya sekedar 'lip service' atau berpura-pura.
Menurut Samad, hal tersebut bisa dibuktikan dengan sikap pemerintah yang tidak mendukung langkah-langkah dan kebutuhan KPK untuk menangkap koruptor.
"Kalau mereka tidak punya inisiatif, KPK tidak bisa berkembang. Sekedar lip service mendukung. Dalam konteks retorika, langkah-langkah kegiatan yang dilakukan tidak mendukung KPK. Tidak memberikan ruang supaya KPK menambah personelnya ribuan," ujar Samad saat menjadi pembicara di Grand Indonesia, tadi malam.
Samad pun mencontohkan pihaknya harusnya memiliki minimal fasilitas atau infrastuktur di setiap provinsi. Namun hal tersebut sulit teralisasi karena tidak ada good will eksekutif (pemerintah) dan legislatif (DPR).
Terkait soal penambahan tenaga kerja, Samad mengatakan pemerintah hanya menyetujui penambahan anggota sebanyak lebih kurang 190 personel yang baru saja direkrut.
"Kita bukan tidak mau menambah, persoalannya jangankan menambah pegawai, kita menaikkan anggaran saja terlalu lama baru disetujui DPR," kata Samad.
Samad khawatir ada oknum-oknum di pemerintahan yang tidak suka KPK menjadi besar karena ditunjang tenaga kerja yang besar.
"66 penyidik saja gila-gilaan puya kerja. Jadi mereka tidak suka kalau sampai ribuan (penyidik). Ada upaya-upaya sistematis sebenarnya yang tidak terlihat langsung upaya-upaya tidak membesarkan KPK," tukas Samad.() tribunnews.com

0 komentar:
Posting Komentar