Hadir dalam acara tersebut para tokoh dan simpatisan Hizbut Tahrir
di Yogyakarta Raya dan sekitarnya. Masjid Diponegara di komplek
Balaikota Kota Yogyakarta menjadi penuh sesak pagi menjelang siang itu.
Tidak hanya kalangan orang tua, remaja tetapi anak-anak juga turut serta
dalam tabligh akbar tersebut.
Dalam paparan pembukanya Dwi Condro Triono PhD menjelaskan tentang
awal penetapan tahun baru hijriyah. Selanjutnya dia menjabarkan tentang
sebuah negara yang besar adalah negara yang mempunyai kalender sendiri
untuk membangun negaranya.
Khalifah yang pertama Umar bin Khaththab (menentukan membuat
kalender sendiri). Adapun fungsinya adalah untuk kepentingan sendiri
yang tidak tergantung pada penanggalan yang lain. Ada beberapa pendapat
berkenaan dengan kapan dimulainya penanggalan Islam. Pendapat tersebut
adalah mengacu peristiwa lahirnya nabi muhammad saw, ketika Muhammad
diangkat nabi, ketika Rasul diisra’ mi’rajkan, peristiwa perang badar
dan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Dari kelima peristiwa
tersebut dipilihlah peristiwa hijrahnya nabi sebagai tonggak dimulainya
penanggalan Islam. Hal tersebut dikarenakan “Hijrahnya nabi tidak hanya
dilakukan nabi dan Abu bakar, tetapi ini merupakan titik balik umat
islam. Saat dimana rasul menjadi kepala negara. Dan ini merupakan
tanggal dimana yang cocok untuk mendirikan negara.” Paparnya dengan
berapi-api.
“Hari besar yang paling besar dalam skala nasional adalah
kemerdekaan negara tersebut. Tidak ada peringatan yang lebih besar
kecuali hari kemerdekaan negara tersebut. Maka mulai hari dimana hijrah
dilaksanakan disitulah diterapkan syariah Islam dalam negara Islam. Jadi
itu merupakan hari kemerdekaan negara Islam”. Paparannya ketika ada
pertanyaan dari peserta tabligh akbar.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin ustadz Subhan Ahmadi. []Lutfianto, ilamiyah DPD1 HTI DIY/ hti press/ syindo

0 komentar:
Posting Komentar