
Jakarta - Indonesia akan menggelar pemilihan presiden dan legislatif pada April dan Juli 2014. Dengan masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan berakhir setelah dua kali lima tahun masa jabatan, pintu menuju Istana terbuka lebar.
Namun harga yang harus dibayar untuk memasukinya tidak lah murah. Seorang pengamat ekonomi memprediksi seorang kandidat presiden harus menyiapkan US$ 600 juta (sekitar Rp 7 triliun), seperti dikutip situs Forbes, 20 November 2013.
Meski menjadi masalah bagi kebanyakan orang Indonesia, biaya sebesar itu terjangkau oleh beberapa orang kaya, yang juga memiliki ambisi untuk terjun ke dunia politik.
Pada Agustus silam, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) resmi mengumumkan Jenderal Purnawirawan Wiranto serta bos salah satu media, Hary Tanoesoedibjo sebagai calon presiden dan wakil presiden. "Saya tidak berusaha untuk menjadi presiden atau wakil presiden, tapi saya diminta untuk menjadi kandidat wakil presiden," ujar Hary setelah deklarasi.
Sebelum bergabung dengan Hanura, ia dijagokan menjadi kandidat dari Partai Nasional Demokrat, sebuah partai baru yang dirintisnya. Pendiri partai Gerindra, Prabowo Subianto, kakak Hashim Djojohadikusumo, menyatakan akan maju sebagai calon presiden. Begitu pula dengan Aburizal Bakrie, hartawan yang kekayaannya jatuh tahun lalu karena membengkaknya utang.
Orang yang disebut-sebut mendapingi Aburizal dalam pemilihan presiden mendatang adalah pendiri Mayapada Group, Tahir. Latar belakang Tahir sebagai orang Jawa dinilai menjadi tiket memenangkan hati mayoritas penduduk Jawa.
Selanjutnya ada Chairul Tanjung, yang mengatakan ingin fokus pada bisnisnya dan bahkan menolak datang ke konvensi Partai Demokrat, meski ia memiliki hubungan yang dekat dengan Presiden Yudhoyono. Terpilihnya Chairul sebagai calon presiden mungkin sekedar harapan, tapi ia memiliki banyak daya tarik. Selain kesuksesan bisnis, ia telah aktif terjun ke dunia ekonomi sebagai Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Ia bahkan kerap mendampingi Presiden Yudhoyono dalam kunjungan ke luar negeri, seperti pertemuan para pemimpin G20 di St. Petersburg.()
sumber: tempo.co

0 komentar:
Posting Komentar