
Berikut ini kultwit jubir HTI, Muhammad Ismail Yusanto pada akun twitternya @ismailyusanto pada jumat(04/10), merespon tertangkapnya ketua MK, Akil Mochtar.
Ada
beberapa catatan menarik di seputar ditangkapnya Ketua MK dalam operasi
tangkap tangan (OTT) oleh KPK semalam dalam tindak penyuapan
1. MK adalah lembaga tinggi negara. Jadi, dari segi level, Ketua MK
selevel dengan Presiden. Artinya, ini penangkapan pelaku korupsi kakap
2. Dalam penyuapan itu, terlibat pejabat publik dr 3 lini sekaligus, yi
yudikatif (Ketua MK), legislatif (CHN) dan eksekutif (HB, bupati)
3. HB adlh bupati dr PDIP yg notabene berbeda partai dr CHN, jg AM dari
dr Golkar (dulunya). Artinya, ini bukti pragmatisme kejahatan
4. Mlm itu CHN diantar oleh suaminya ketika bertandang ke rumah AM.
Apakah suaminya tdk tahu? Sama spt kejahatan lain, pelaku dr keluarga
5. MK adlh lembaga yg mengadili sengketa antar lembaga, jg mengadili
UU. Bayangkan, apa hasil putusannya bila ternyata hakimnya doyan suap?
6. Luarbiasa, AM, Ketua MK, ditangkap u dua kasus suap sekaligus. Sengketa Kab Gungun Emas, Kalteng, dan Kab Lebak, Banten.
7. Dari sana, semakin nyata bahwa kebenaran milik pemodal. Bukan
Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi keuangan yang berkuasa. Astaghfirullah...
8. Nyata sekali korupsi sdh merambah semua lini. Korupsi tlh jd budaya
dr para punggawa di negeri ini. Bedanya cuma ketahuan atau tidak
9. Korupsi tumbuh krn lemahnya integritas, ada peluang atau tawaran, dan didorong oleh sistem yg cenderung membuat orang korup
10. Sistem demokrasi liberal spt saat ini tlh melahirkan pejabat publik
yg cenderung menghalalkan segala cara u meraih jabatan dan kekayaan
11. Didorong oleh lingkungan yg makin permisif terhadap korupsi.
Lahirlah budaya korup. Berbahaya sekali, krn org korupsi tak lagi
sungkan
12. Tiadanya teladan pemimpin. Yg ada adlh contoh bgmn
pemimpin lakukan korupsi, walhasil bawahannya jg ikut korup. Jadilah
korupsi rame2
13. Yg pasti, lemahnya tauhid. Materialisme tlh
singkirkan tauhid dr derap kehidupan berbangsa bernegara. Allah hanya
diingat ketika shalat
14. Kehidupan yg serba profan membuat kontrol tauhid makin tipis. Ditambah faktor lingkungan, jadilah apa yang terjadi
15. Jelas sekali, diperlukan perubahan besar bila diinginkan sebuah
baldah thayyibah wa rabbun ghafur (negeri yg baik n penuh ampunan Allah)
16. Kesanalah semestinya perjuangan kita menuju. Bagi lahirnya baldah thayyibah wa rabbun ghafur tadi
17. Neg spt ini tdk mungkin lahir dr rahim sekularisme krn justru
sekularisme itulah yg tlh timbulkan kemelut persoalan yg tak
berkesudahan
18. Neg spt ini hanya mungkin lahir dari dasar yg memungkinkan tauhid hidup secara nyata dalam kehidupan masy dan negara.
19. Yg memungkin tercipta sebuah budaya taat, menjauhi maksiyat, dimana
integritas pribadi akan terpupuk subur oleh lingkungan yg tauhidi
20. Sungguh sangat banyak pelajaran dari sekitar kita. Masih kurangkah
bukti u kita dgn tegas ambil kesimpulan la izzata illa bil islam
0 komentar:
Posting Komentar