"Ironis, Indonesia kaya raya, di Papua ada tambang emas. Di Aceh ada minyak dan gas, begitu pula di Jawa. Di Kalimantan di sana ada batu bara, Sulawesi ada mineral, nikel bahan gas dan sebagainya. Tapi fakta menunjukkan pada saat ini kemiskinan terus melanda di Tanah Air kita," kata Abraham, Senin (21/10).
Abraham juga prihatin kekayaan yang dimiliki Indonesia saat ini lebih banyak dikuasai orang-orang picik dan licik. Mereka rela bersenang-senang meski rakyat tersiksa.
"Kekayaan ini hanya dinikmati oleh segelintir orang yakni para pengusaha hitam yang rela melihat rakyat menderita di negeri ini," jelasnya.
Dia pun berkisah. Kekayaan di Kalimantan, ternyata dinikmati pejabat daerahnya. Sementara warga hanya miskin terus tak berdaya.
"Saya pernah melihat di pelosok Kalimantan dan di sana sangat memprihatinkan puskesmasnya tak layak untuk dipakai, sangat ironis. Sementara saya melihat bahwa bupati di Kalimantan memiliki harta berlimpah dan mobilnya bagus-bagus," sindir Abraham.
Dalam Dialog tersebut hadir juga Presiden KSPI Said Iqbal, Presiden HKTI Oesman Sapta, Ketua PGRI Sulistyo, KSAD Jenderal TNI Budiman, dan Pengamat Ekonomi, Rizal Ramli.
Dampak dari kemiskinan itu sendiri, lanjut Abraham, tentunya menyasar warga di lapisan paling bawah. Yakni kaum petani, kaum buruh dan kaum guru.
"Indonesia negara kaya raya masih berderai kemiskinan begitu besar, bayangkan! Oleh karena itu saya mengajak kepada hadirin sekalian untuk bersama-sama kepada KPK memerangi penyakit yang dinamai korupsi," tambahnya.() merdeka.com/ syindo

0 komentar:
Posting Komentar