JAKARTA --
Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits
Abu Ulya membeberkan analisa terkait penembakan polisi, Bripka Sukardi.
Dalam
catatannya, penembakan Bripka Sukardi di depan gedung KPK, Jl. HR Rasuna
Said, Kuningan, Jakarta Selatan bertepatan dengan malam peringatan 9/11
WTC dan di tengah memanasnya penolakan Miss World dan ngototnya Hary
Tanoe untuk menggelar final Miss World di Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Harits melanjutkan, pelaku penembakan cukup profesional dan terdiri dari 4 orang, bukan 2 orang sebagaimana diberitakan.
“Dari TKP terlihat, korban bukan target random
artinya sengaja dibidik dijadikan target. Pelakunya cukup profesional,
dalam jumlah skitar 4 orang, ada yang nyanggong di depan KPK dan ada
yang kuntit untuk eksekusi korban. Para pelaku paham peta jalan jadi
dengan mudah tahu exit doornya,” ungkap Harits Abu Ulya kepada voa-islam.com, Rabu (11/9/2013).
Ia pun
mempertanyakan, pengawalan yang dilakukan Bripka Sukardi sebagai kerja
sampingan atau perintah dinas, sebab apa yang dilakukan oleh Bripka
Sukardi malam itu amat tidak sesuai SOP.
“Perlu
dicermati alm. Sukardi ini melakukan pengawalan sebagai usaha sampingan
atau dinas dari kesatuan? Yang jelas dari lingkungan dia dapat job
pengawalan akan didapat banyak informasi. Karena bisa disebabkan
lantaran kasus pribadi atau dia dikorbankan untuk sebuah kepentingan,”
jelasnya.
Dengan demikian tidak menutup kemungkinan motif di balik penembakan Bripka. Sukardi terkait rebutan lahan bisnis.
“Tidak menutup kemungkinan ada persentuhan dengan bisnis pengawalan "preman" lain. Jadi rebutan lahan bisnis. Kesamaan peluru yang dipakai dengan kasus Pondok Aren, terlalu prematur kalau disimpulkan pelakunya sama dan satu jaringan. Sementara senpi ilegal dan amunisi banyak diluar dijual bebas,” imbuhnya.() voa-islam.com, 12/09/2013

0 komentar:
Posting Komentar