
Oleh: Ust. Kamil Abdullah
Wahai Syaikh…
Dulu ketika aku baru mengawali proses mengkaji kitab-kitabmu,
lalu ada sedikit luang waktu di sela jadwal kuliahku,
segera kutempuh perjalanan hampir 500 kilometer untuk
pulang menemui ayahku.
Sesampai di rumah --dari ba’da ‘Isya` hingga menjelang Subuh--
aku dan ayah mendiskusikan pemikiran-pemikiran cemerlangmu.
Wahai Syaikh…
Mulai saat itu, kepada para Kyai dan Asatidz
yang --didatangi atau datang ke rumah-- ayahku selalu
menjelaskan seputar perjuangan penegakan Khilafah yang menjadi
ide sentral dalam kitab-kitab karyamu.
Ayah sangat bangga karena aku aktif di Hizbut Tahrir
mengikuti jejak perjuanganmu.
Wahai Syaikh…
Setiap kali aku merenungi perjuanganmu, maka teringat pula aku
pada almarhum ayahku, yang biasa berlama-lama berbincang
--mengenai hakekat perjuangan Islam-- denganku.
Di masa perjuangan mengusir penjajah dari bumi Nusantara dulu,
ayah terjun ke medan perang memimpin pasukan di tengah
dentuman meriam dan desingan peluru.
Wahai Syaikh…
Sungguh dalam perjuanganmu -- berbagai resiko dan cobaan--
tak pernah mampu mengalahkanmu, hingga akhir hayatmu.
Tentu engkau senang sekali bila mendengar bahwa ayahku juga pernah
31 (tiga puluh satu) kali ditangkap dan dijebloskan ke penjara
dengan rangkaian siksaan --fabi’auniLLah--
ayah tetap sabar dan teguh sepertimu...
Wahai Syaikh…
Aku sangat mencintaimu, sebagaimana halnya aku
begitu mencintai ayahku.
Aku sering tak sanggup menahan air mataku dikala membayangkanmu,
meskipun aku belum pernah bertemu denganmu.
Wahai Syaikh...
Aku ingin berjumpa denganmu walau hanya lewat mimpiku.
Seperti mimpiku tentang kedatangan almarhum ayahku
yang memberikan nasihat padaku:
“Teruslah berjuang anakku, meski banyak rintangan menghalangimu..!”
Pesan itu ayah sampaikan dalam pertemuan singkat denganku,
yang bahkan aku tak sempat mengatakan sesuatu.
Tiba-tiba kulihat sebuah mobil mewah berwarna hijau tua
beserta sopirnya sudah menunggu.
Dan beberapa waktu kemudian mobil mewah yang ditumpangi ayah itu
meluncur dan berhenti di depan rumah besar dan megah
dengan halaman luas dan indah.
Rupanya di situlah sekarang tempat tinggal ayahku...
Wahai Syaikh...
Aku ingin di surga nanti ayahku bertemu dan bertetangga denganmu.
Sementara di sini aku masih terus melanjutkan perjuanganmu,
sambil menunggu panggilan Allah --menyusulmu--
bersama segenap kerinduanku,
dan dengan sepenuh harapanku,
agar aku dipantaskan-Nya untuk bertemu dengan ayahku,
berjumpa denganmu wahai Syaikh panutanku,
dengan para Syuhada`, para Shahabah radhiyaLLahu ‘anhum,
serta bersua dengan kekasih kita tercinta
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallaam,
ya Allah, kabulkanlah permohonan hamba-Mu…
-------------------------------------------------------
[ka]
KETERANGAN GAMBAR:
===============
Anggota Majelis Palestina --Muhammad Dawud ‘Audah-- menyebutkan
bahwa Asy-Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhaniy hidup miskin
dan wafat dalam keadaan miskin.
Beliau tinggal di lantai kelima sebuah bangunan
dimana beliau naik tangga menuju tempat yang beliau tinggali
dengan berjalan kaki, karena di sana tidak ada lift listrik.
Di awal tahun 1970-an Asy-Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhaniy
bepergian ke Irak, dan beliau ditangkap, sebagai dampak dari operasi
penangkapan yang dialami Hizbut Tahrir di Irak.
Namun pihak berwenang tidak mengetahui bahwa beliau adalah
Asy-Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhaniy, Amir Hizbut Tahrir.
Beliau mengalami penyiksaan yang berat,
sehingga beliau tidak bisa berdiri karena banyaknya penyiksaan.
Bahkan para tahanan lain yang tersisa dari Hizbut Tahrir
membantu beliau untuk berdiri ketika mereka dikembalikan ke sel.
Mereka terus menyiksa beliau sampai mengalami lumpuh separoh badan.
Kemudian beliau dibebaskan ke Libanon. Di sana Asy-Syaikh
Taqiyyuddin An-Nabhaniy mengalami kelumpuhan otak.
Saat itu juga beliau dikirim dan dimasukkan ke rumah sakit
dengan nama samaran.
Beliau rahimahuLLahu Ta’ala wafat di rumah sakit.
Beliau dimakamkan di pemakaman para Syuhada`
(di daerah Hursy/Horsh, Beirut) di bawah penjagaan ketat,
tanpa ada yang mengantarkan (jenazah) beliau (ke pemakaman)
kecuali hanya sedikit sekali dari keluarga beliau.
(Muhammad Muhsin Radhi, “Hizbut-Tahrir Tsaqafatuhu wa-Manhajuhu
fii Iqamati Daulatil-Khilafatil-Islamiyyah”, hal 34-35).
sumber: https://www.facebook.com/kamil.abdullah.3

0 komentar:
Posting Komentar