728x90 AdSpace

  • Hot News

    Selasa, 13 Agustus 2013

    ASY-SYAIKH TAQIYYUDDIN & AYAHKU





    Oleh: Ust. Kamil Abdullah

    Wahai Syaikh…
    Dulu ketika aku baru mengawali proses mengkaji kitab-kitabmu,
    lalu ada sedikit luang waktu di sela jadwal kuliahku,
    segera kutempuh perjalanan hampir 500 kilometer untuk
    pulang menemui ayahku.

    Sesampai di rumah --dari ba’da ‘Isya` hingga menjelang Subuh--
    aku dan ayah mendiskusikan pemikiran-pemikiran cemerlangmu.

    Wahai Syaikh…
    Mulai saat itu, kepada para Kyai dan Asatidz
    yang --didatangi atau datang ke rumah-- ayahku selalu
    menjelaskan seputar perjuangan penegakan Khilafah yang menjadi
    ide sentral dalam kitab-kitab karyamu.
    Ayah sangat bangga karena aku aktif di Hizbut Tahrir
    mengikuti jejak perjuanganmu.

    Wahai Syaikh…
    Setiap kali aku merenungi perjuanganmu, maka teringat pula aku
    pada almarhum ayahku, yang biasa berlama-lama berbincang
    --mengenai hakekat perjuangan Islam-- denganku.
    Di masa perjuangan mengusir penjajah dari bumi Nusantara dulu,
    ayah terjun ke medan perang memimpin pasukan di tengah
    dentuman meriam dan desingan peluru.

    Wahai Syaikh…
    Sungguh dalam perjuanganmu -- berbagai resiko dan cobaan--
    tak pernah mampu mengalahkanmu, hingga akhir hayatmu.
    Tentu engkau senang sekali bila mendengar bahwa ayahku juga pernah
    31 (tiga puluh satu) kali ditangkap dan dijebloskan ke penjara
    dengan rangkaian siksaan --fabi’auniLLah--
    ayah tetap sabar dan teguh sepertimu...

    Wahai Syaikh…
    Aku sangat mencintaimu, sebagaimana halnya aku
    begitu mencintai ayahku.
    Aku sering tak sanggup menahan air mataku dikala membayangkanmu,
    meskipun aku belum pernah bertemu denganmu.

    Wahai Syaikh...
    Aku ingin berjumpa denganmu walau hanya lewat mimpiku.
    Seperti mimpiku tentang kedatangan almarhum ayahku
    yang memberikan nasihat padaku:
    “Teruslah berjuang anakku, meski banyak rintangan menghalangimu..!”
    Pesan itu ayah sampaikan dalam pertemuan singkat denganku,
    yang bahkan aku tak sempat mengatakan sesuatu.
    Tiba-tiba kulihat sebuah mobil mewah berwarna hijau tua
    beserta sopirnya sudah menunggu.
    Dan beberapa waktu kemudian mobil mewah yang ditumpangi ayah itu
    meluncur dan berhenti di depan rumah besar dan megah
    dengan halaman luas dan indah.
    Rupanya di situlah sekarang tempat tinggal ayahku...

    Wahai Syaikh...
    Aku ingin di surga nanti ayahku bertemu dan bertetangga denganmu.
    Sementara di sini aku masih terus melanjutkan perjuanganmu,
    sambil menunggu panggilan Allah --menyusulmu--
    bersama segenap kerinduanku,
    dan dengan sepenuh harapanku,
    agar aku dipantaskan-Nya untuk bertemu dengan ayahku,
    berjumpa denganmu wahai Syaikh panutanku,
    dengan para Syuhada`, para Shahabah radhiyaLLahu ‘anhum,
    serta bersua dengan kekasih kita tercinta
    Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallaam,
    ya Allah, kabulkanlah permohonan hamba-Mu…
    -------------------------------------------------------
    [ka]

    KETERANGAN GAMBAR:
    ===============
    Anggota Majelis Palestina --Muhammad Dawud ‘Audah-- menyebutkan
    bahwa Asy-Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhaniy hidup miskin
    dan wafat dalam keadaan miskin.
    Beliau tinggal di lantai kelima sebuah bangunan
    dimana beliau naik tangga menuju tempat yang beliau tinggali
    dengan berjalan kaki, karena di sana tidak ada lift listrik.

    Di awal tahun 1970-an Asy-Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhaniy
    bepergian ke Irak, dan beliau ditangkap, sebagai dampak dari operasi
    penangkapan yang dialami Hizbut Tahrir di Irak.
    Namun pihak berwenang tidak mengetahui bahwa beliau adalah
    Asy-Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhaniy, Amir Hizbut Tahrir.
    Beliau mengalami penyiksaan yang berat,
    sehingga beliau tidak bisa berdiri karena banyaknya penyiksaan.
    Bahkan para tahanan lain yang tersisa dari Hizbut Tahrir
    membantu beliau untuk berdiri ketika mereka dikembalikan ke sel.

    Mereka terus menyiksa beliau sampai mengalami lumpuh separoh badan.
    Kemudian beliau dibebaskan ke Libanon. Di sana Asy-Syaikh
    Taqiyyuddin An-Nabhaniy mengalami kelumpuhan otak.
    Saat itu juga beliau dikirim dan dimasukkan ke rumah sakit
    dengan nama samaran.
    Beliau rahimahuLLahu Ta’ala wafat di rumah sakit.
    Beliau dimakamkan di pemakaman para Syuhada`
    (di daerah Hursy/Horsh, Beirut) di bawah penjagaan ketat,
    tanpa ada yang mengantarkan (jenazah) beliau (ke pemakaman)
    kecuali hanya sedikit sekali dari keluarga beliau.

    (Muhammad Muhsin Radhi, “Hizbut-Tahrir Tsaqafatuhu wa-Manhajuhu
    fii Iqamati Daulatil-Khilafatil-Islamiyyah”, hal 34-35).


    sumber: https://www.facebook.com/kamil.abdullah.3
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: ASY-SYAIKH TAQIYYUDDIN & AYAHKU Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top