
Ketua Koalisi Oposisi Suriah, Ahmad Muadz al-Khatib selama KTT Arab di Doha menegaskan bahwa rakyat Suriah menolak rekomendasi, dan orang yang akan memutuskan siapa yang akan memimpinnya, “tidak oleh negara manapun di dunia”, serta mendesak agar oposisi mendapatkan kursi Suriah di PBB setelah mendapatkan kursi di Liga Arab. Pada saat yang sama, ia berkata: “Kami tidak malu” mendapatkan bantuan yang dialokasikan untuk rakyat Suriah dari Amerika Serikat sebesar 350 juta dolar. Ia menambahkan: “Namun, saya katakana bahwa peran Amerika Serikat lebih besar dari ini.”
Anggota koalisi dan mantan Ketua Dewan Nasional Suriah, Abdul Basith Seda kepada wartawan di sela-sela KTT mengatakan: “Kami sepakat dengan mereka bahwa Suriah adalah negara sipil, Suriah pluralisme, sehingga tidak satu faksi pun yang dapat memimpin pemerintahan sendirian.”
*** *** ***
Inilah istilah “negara sipil” yang kembali dipromosikan di Suriah, setelah dipromosikan di negara-negara revolusi yang mendahului revolusi Suriah di kawasan Arab. Dan inilah istilah yang beredar dalam beberapa dekade terakhir setelah ide sekularisme mengalami kekalahan, dan para penyerunya mulai dicacai maki oleh kaum Muslim. Untuk itu, kaum sekularis beralih mempromosikan istilah lain yang disamarkan namun intinya sama. Akan tetapi istilah yang baru ini lebih dapat diterima oleh para intelektual Muslim dan opini publik pada umumnya. Sehingga mereka mengadopsi istilah “negara sipil”. Kemudian datanglah revolusi pada akhir tahun 2010, dan menjadikan istilah ini sebagai kebutuhan yang paling mendesak, sebab para penguasa baru telah mengadopsinya untuk meyakinkan masyarakat internasional di satu sisi, bahwa mereka tidak mengadopsi proyek negara Islam, dan di sisi lain mereka mengatakan kepada rakyat yang diperintahnya: “Kami tidak bermaksud dengan negara sipil adalah negara sekuler, namun yang kami maksudkan adalah negara sipil yang berdasarkan Islam”.
Karena itu kami katakan bahwa siapa saja yang melihat (menginginkan) negara yang diridhai oleh masyarakat internasional dan rezim-rezim regional adalah dikarenakan salah satu dari dua hal:
Pertama, karena ia tidak melihat (menginginkan) negara berdaulat yang kekuasaan sepenuhnya diperoleh dari umat. Dimana tujuan akhirnya hanyalah untuk menggulingkan rezim tiran, tanpa menggulingkan rezim sekulernya, dan tanpa menyingkirkan hegemoni Barat atas negerinya. Sehingga inilah yang membuatnya melawan kebatilan, namun ridha dengan sesuatu yang lebih batil darinya.
Kedua, ia tidak mengetahui fakta masyarakat internasional dan rezim-rezim regional, sehingga mereka berilusi bahwa masyarakat internasional dan rezim-rezim regional akan ridha dengan negara kita yang besar, dan kekhawatirannya akan hilang hanya dengan meyakinkannya melalui perkataan bahwa kami menginginkan negara sipil, bukan negara Islam, dan bukan pula negara Khilafah! Dan fakta yang tidak diragukan lagi bahwa semua negara ini, terutama Amerika yang berpengaruh kuat, yang tidak akan meridhainya kecuali negara yang besar harus menjadi bagian dari politik internasional, dan membuka pintu selebar-lebarnya untuk kaum sekuler di dalam negeri supaya mereka memiliki peran penting dalam politik dalam negeri, jika tidak memiliki peran penting, paling tidak mereka memiliki partai yang mewarnai atmosfer politik yang akan meracuni pikiran masyarakat dan opini publik. Negara-negara tersebut tidak akan ridha kecuali negara itu tunduk pada kapitalis ekonomi global (globalisasi), dan jatuh ke dalam perangkap utang luar negeri dengan dalih rekonstruksi, serta membuka negeri untuk perusahaan investasi internasional agar bisa menjarah kekayaannya, mencegah oposisi politik Barat di wilayah tersebut, dan untuk menjaga dataran tinggi Golan yang tenang, bahkan untuk beralih pada pengakuan secara resmi terhadap entitas Yahudi, serta untuk mencegah bantuan terhadap warga Palestina yang terjajah, juga untuk tidak memberi kesempatan kaum Muslim yang mendukung revolusi di Irak, Lebanon dan lainnya. Dalam hal ini, Mesir setelah jatuhnya tiran adalah contoh yang paling aktual.
Apakah hanya untuk ini revolusi dilakukan?! Yaitu menyingkirkan tiran untuk menyuguhkan negeri di atas piring perak pada kaum kafir penjajah?! Dengan demikian, ia telah mengkhianati darah ratusan ribu para syuhada’, mereka yang terluka dan pengorbanan warga Suriah yang tidak bersalah, lalu menyuguhkannya sebagai hadiah kepada musuh sebenarnya, pemimpin para rezim tiran yang busuk?! Ketika itu, seburuk-buruknya tempat adalah yang didatangi. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. Al-Anfâl [8] : 27).
Kebenaran yang dipahami oleh setiap orang yang sadar dan mengerti realitas politik, serta akar historisnya bahwa masalah terbesar di dunia Islam tidak mulai dengan para penguasa diktator dan tiran, seperti keluarga Assad, Ben Ali, Gaddafi dan Mubarak. Mereka hanya sekedar buah pahit dari musibah terbesar, yaitu penghancuran oleh negara-negara besar Barat terhadap negara Khilafah, yang telah mendarah daging dengan identitas umat, yang menerapkan syariah dan sistemnya, yang di akhir masanya telah mengalami penyimpangan berupa kesalahan dalam penerapan syariah, yang kemudian berakibat pada runtuhnya negara Khilafah dengan menerapkan sistem kufur di dunia Islam, dan membagi negeri-negeri Islam atas dasar nasionalisme dan patriotisme, serta akibat dari dominasi negara-negara Barat terhadap umat Islam, secara politik, ekonomi, budaya, media dan keamanan. Sementara para tiran penjahat yang telah memimpin umat dan menimpakan umat dengan seburuk-buruk azab hanyalah alat bagi hegemoni internasional. Dengan demikian, pertempuran kami dengan para tiran untuk menggulingkannya harus dilihat sebagai pertempuran untuk membersihkan pengaruh Barat dari negeri-negeri kami, mengembalikan supremasi hukum, dan mengembalikan kekuasaan yang dirampas kepada umat, serta mengembalikan persatuan dunia Islam mulai dari negara yang mendahului untuk membebaskan diri dari dominasi ini. Sedang menggulingkan rezim tiran, lalu menyerahkan kekuasaan kepada para tiran yang lain, sehingga dalam hal ini kami membuat perumpamaan, seperti firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (TQS. An-Nahl [16] : 92).
Ahmad Qashshash
Ketua Media Informasi Hizbut Tahrir Wilayah Lebanon
Sumber: hizb-ut-tahririnfo, 2/4/2013.

0 komentar:
Posting Komentar