
Sosok Basir, pria yang dikenal melalui Facebook
yang akhirnya ikut menyeret remaja belia bernama David dalam kasus
terorisme dalam penangkapan di Palmerah Jakarta hingga kini masih
misterius. Bahkan polisipun hingga kini tidak mengemumkannya.
Menurut Mustafa Narawardaya, kasus ini merupakan cara baru rekayasa
intelijen.Basir tercatat berkenalan melalui media sosial Facebook
dengan Nanto, David dan Herman.
Keberadaan Basir menginap di rumah David awalnya karena ingin
menumpang untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Namun, pada hari Sabtu
(27/10/2012) Basir ditangkap bersama Nanto, David dan Herman di
Palmerah Jakarta.
“Ini adalah cara terjorok konspirasi Intelijen hitam dalam
menjerumuskan umat Islam,” begitu jelas Mustafa kepada
hidayatullah.com menganalisa fenomena ini, Kamis (01/11/2012).
Menurut pengamat intelijen yang juga dikenal aktivis pemuda
Muhammadiyah ini Densus 88 dan BNPT sudah gagal dalam menerapkan
deradikalisasi dengan pola konvensional. Pola konvensional maksudnya
dengan melakukan intervensi ke pengajian-pengajian dan masjid-masjid.
Karena itu ia menggunakan cara teror untuk menebar ketakutan dengan
pola baru. Tujuan dari pola non konvensional ini diharapkan bisa
menghadirkan ketakutan di kalangan orang tua dan masyarakat dengan
isu-isu syariat Islam.
“Jadi sekarang agen intelijen yang mengaku pejuang Islam buatan Densus
ini cukup berkenalan di Facebook, mengidentifikasi rumah lalu menjebak
dengan menaruh barang bukti, setelah itu menghilang sementara orang
yang disinggahi rumahnya akan diciduk karena terkait jaringan
terorisme..ini kotor sekali,” Jelas Mustofa.
Mustofa tegas mengingatkan sosok-sosok seperti Basir ini berkeliaran
di media sosial seperti Facebook, Twitter dan sebagainya. Dunia media
sosial menjadi cara paling murah merekrut orang untuk dituduh teroris.
Dengan cara murah ini tetap bisa menghasilkan fitnah dengan hasil yang
menggemparkan.
“Ya contohnya pada kasus David, anak hanya aktivis yang mencintai
Islam tidak memiliki hubungan dengan jaringan teroris manapun, hanya
karena kenal dengan Basir langsung asal dituduh teroris.”
Remaja Islam Harus Berhati-hati di Media Sosial
Mustofa dengan intonasi penuh kekhawatiran juga mengingatkan agar
remaja Islam berhati-hati berkenalan dengan orang asing di dunia maya.
Pasalnya saat ini semangat kebangkitan Islam itu sudah mulai tertanam
di kalangan pemuda dan remaja.
“Remaja Islam yang sadar syariat Islam itu sudah banyak, namun kadang
masih polos dengan ungkapan-ungkapan di dunia maya, ini harus
hati-hatin” jelas Mustofa.
Memiliki semangat Islam itu baik namun harus tetap diiringi dengan
ilmu. Semua itu bertujuan agar kita lebih bisa memilah dan berstrategi
agar perjuangan Islam tidak ditunggangi operasi Inteligen.
“Jika baru berkenalan dengan orang asing yang berteriak-teriak Islam
secara frontal di dunia maya, wajib kita berhati-hati sampai kita
kenal betul siapa dia dan apa latar belakangnya. Jangan mau
sembarangan diajak ketemu di dunia nyata,” tambah Mustofa.() sumber: hidayatullah.com
yang akhirnya ikut menyeret remaja belia bernama David dalam kasus
terorisme dalam penangkapan di Palmerah Jakarta hingga kini masih
misterius. Bahkan polisipun hingga kini tidak mengemumkannya.
Menurut Mustafa Narawardaya, kasus ini merupakan cara baru rekayasa
intelijen.Basir tercatat berkenalan melalui media sosial Facebook
dengan Nanto, David dan Herman.
Keberadaan Basir menginap di rumah David awalnya karena ingin
menumpang untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Namun, pada hari Sabtu
(27/10/2012) Basir ditangkap bersama Nanto, David dan Herman di
Palmerah Jakarta.
“Ini adalah cara terjorok konspirasi Intelijen hitam dalam
menjerumuskan umat Islam,” begitu jelas Mustafa kepada
hidayatullah.com menganalisa fenomena ini, Kamis (01/11/2012).
Menurut pengamat intelijen yang juga dikenal aktivis pemuda
Muhammadiyah ini Densus 88 dan BNPT sudah gagal dalam menerapkan
deradikalisasi dengan pola konvensional. Pola konvensional maksudnya
dengan melakukan intervensi ke pengajian-pengajian dan masjid-masjid.
Karena itu ia menggunakan cara teror untuk menebar ketakutan dengan
pola baru. Tujuan dari pola non konvensional ini diharapkan bisa
menghadirkan ketakutan di kalangan orang tua dan masyarakat dengan
isu-isu syariat Islam.
“Jadi sekarang agen intelijen yang mengaku pejuang Islam buatan Densus
ini cukup berkenalan di Facebook, mengidentifikasi rumah lalu menjebak
dengan menaruh barang bukti, setelah itu menghilang sementara orang
yang disinggahi rumahnya akan diciduk karena terkait jaringan
terorisme..ini kotor sekali,” Jelas Mustofa.
Mustofa tegas mengingatkan sosok-sosok seperti Basir ini berkeliaran
di media sosial seperti Facebook, Twitter dan sebagainya. Dunia media
sosial menjadi cara paling murah merekrut orang untuk dituduh teroris.
Dengan cara murah ini tetap bisa menghasilkan fitnah dengan hasil yang
menggemparkan.
“Ya contohnya pada kasus David, anak hanya aktivis yang mencintai
Islam tidak memiliki hubungan dengan jaringan teroris manapun, hanya
karena kenal dengan Basir langsung asal dituduh teroris.”
Remaja Islam Harus Berhati-hati di Media Sosial
Mustofa dengan intonasi penuh kekhawatiran juga mengingatkan agar
remaja Islam berhati-hati berkenalan dengan orang asing di dunia maya.
Pasalnya saat ini semangat kebangkitan Islam itu sudah mulai tertanam
di kalangan pemuda dan remaja.
“Remaja Islam yang sadar syariat Islam itu sudah banyak, namun kadang
masih polos dengan ungkapan-ungkapan di dunia maya, ini harus
hati-hatin” jelas Mustofa.
Memiliki semangat Islam itu baik namun harus tetap diiringi dengan
ilmu. Semua itu bertujuan agar kita lebih bisa memilah dan berstrategi
agar perjuangan Islam tidak ditunggangi operasi Inteligen.
“Jika baru berkenalan dengan orang asing yang berteriak-teriak Islam
secara frontal di dunia maya, wajib kita berhati-hati sampai kita
kenal betul siapa dia dan apa latar belakangnya. Jangan mau
sembarangan diajak ketemu di dunia nyata,” tambah Mustofa.() sumber: hidayatullah.com

0 komentar:
Posting Komentar