Alwi Yusianto Putra, siswa kelas X SMA Negeri 6, telah menjadi korban tawuran dengan para pelajar di SMA Negeri 70. Kedua sekolah ini bertetangga di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Namun, aksi saling keroyok dengan senjata tajam terulang kembali di ibu kota negara, bahkan meminta korban jiwa. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak, sedikitnya 16 siswa telah meregang nyawa akibat kasus serupa sepanjang tahun ini. Mereka berasal dari 86 kasus tawuran antarpelajar yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. “Ada puluhan lainnya yang menderita luka berat dan ringan akibat perkelahiran itu,” ujar Ketua Komisi, Arist Merdeka Sirait.
Arist menjelaskan, tawuran antarpelajar bukan peristiwa baru, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Tren kejadiannya bahkan meningkat dari tahun ke tahun. “Pada 2011 misalnya, terjadi 139 kasus tawuran dengan jumlah korban jiwa 39 anak,” ujarnya.
Menurut Badriah, jika tawuran yang menyebabkan kematian siswa, semestinya hal itu menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. “Sekolah yang terlibat, Dinas Pendidikan, dan Kementerian yang tertampar,” ujarnya.
Itulah buah pendidikan dalam sistem sekuler demokrasi. Kejadian tawuran terjadi hampir merata di wilayah negeri ini.
Seolah telah menjadi tradisi, tawuran sulit untuk dihilangkan dalam sistem demokrasi sekuler yang diterapkan di negeri ini.

0 komentar:
Posting Komentar